Ratusan Universitas dari 31 Negara Berkumpul di QS Higher Ed Summit Bali, Bahas Masa Depan Pendidikan Tinggi Asia Pasifik

Ratusan Universitas dari 31 Negara Berkumpul di QS Higher Ed Summit Bali, Bahas Masa Depan Pendidikan Tinggi Asia Pasifik

Lebih dari seribu pemimpin pendidikan tinggi, pemerintah, dan industri dari seluruh kawasan Asia Pasifik hadir dalam konferensi internasional yang dibuka di Bali International Convention Centre, 3 November 2026. Acara tiga hari ini diselenggarakan oleh Binus University bersama Universitas Padjadjaran dan The Education University of Hong Kong, dengan menghadirkan ratusan universitas dari 31 negara.

Konferensi bergengsi ini diselenggarakan oleh QS Quacquarelli Symonds, organisasi global yang fokus pada pemeringkatan universitas, penyelenggaraan konferensi, riset, dan analisis pendidikan tinggi. Tema utama acara kali ini adalah “Advancing Education for Purpose and Impact” atau memajukan pendidikan untuk tujuan dan dampak yang lebih besar.

CEO QS Quacquarelli Symonds, Jessica Turner, menjelaskan bahwa konferensi akan membahas bagaimana teknologi mengubah cara belajar mengajar, riset, dan pekerjaan para akademisi serta staf kampus. “Di penjuru Asia Pasifik, perubahan tersebut terjadi seiring pertumbuhan pesat di pendidikan tinggi, riset, dan inovasi. Wilayah ini memainkan peran penting di ranah pendidikan tinggi global. Ini memicu peluang untuk memastikan bahwa pertumbuhan tersebut berdampak pada semua orang, termasuk anak muda,” ujarnya.

Para pembicara juga mengangkat topik seputar bagaimana universitas membangun reputasi, mengembangkan kemitraan, serta menarik pelajar internasional berkualitas. Turner menambahkan bahwa diskusi akan mencakup internasionalisasi, riset inovasi, kesempatan kerja lulusan, transformasi teknologi, keberlanjutan lingkungan, dan peran universitas dalam mendorong kemajuan ekonomi dan sosial.

CEO Bina Nusantara Bernard Gunawan menekankan bahwa Indonesia menjadi bagian penting dari pertumbuhan pendidikan tinggi di Asia Pasifik. Data menunjukkan bahwa pada 2024, jumlah mahasiswa global mencapai 269 juta orang, dengan separuhnya berasal dari Asia Timur, Tenggara, dan Selatan. Indonesia sendiri memiliki 10 juta mahasiswa yang mulai masuk kampus pada 2025.

Rektor Universitas Padjadjaran Arief Sjamsulaksan Kartasasmita menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dengan pemerintah, industri, dan komunitas. “Masa depan perguruan tinggi tidak hanya bergantung pada seberapa baik kampus berkompetisi, tetapi pada seberapa efektif mereka berkolaborasi. Lewat kolaborasi, pengetahuan bisa ditransformasi menjadi solusi praktis dan membuka peluang lebih besar bagi pembangunan yang berkelanjutan,” katanya.

President of The Education University of Hong Kong John Lee Chi-Kin juga mengedepankan kolaborasi sebagai kunci kemajuan. Dia menyebutkan bahwa institusinya telah bekerja sama dengan mitra dari berbagai negara termasuk Indonesia, Brunei Darussalam, dan Pakistan untuk mengembangkan pendidikan, meningkatkan kompetensi pendidik, dan menciptakan pertukaran pengetahuan lintas batas.

Dengan tingginya partisipasi dari berbagai negara dan organisasi, konferensi ini diharapkan menjadi wadah pertukaran ide dan pembangunan jaringan untuk mengatasi tantangan pendidikan tinggi modern di kawasan Asia Pasifik yang terus berkembang pesat.

Sumber: Detik.com

Baca Juga

Scroll to Top