
China sedang mempercepat adopsi baterai natrium—teknologi alternatif pengganti litium—khusus untuk kendaraan komersial berat seperti truk. Langkah ini didorong oleh hasil uji coba yang menjanjikan, menunjukkan bahwa baterai jenis ini mampu bertahan dalam kondisi suhu sangat dingin sekalipun.
Perusahaan baterai HiNa Battery telah menguji baterainya pada truk FAW Jiefang J6P berkapasitas 339 kilowatt-jam. Selama pengujian hampir tujuh bulan hingga Juni 2026, truk tersebut menempuh lebih dari 15.000 kilometer dan tetap mempertahankan lebih dari 90 persen kapasitas baterainya saat diuji pada suhu minus 40 derajat Celsius.
Keberhasilan uji coba ini membuka peluang ekspansi bisnis. HiNa Battery merencanakan pembangunan fasilitas produksi baru di Wuhan dengan kapasitas tahunan mencapai 10 gigawatt-jam. Pembangunan tahap pertama dengan kapasitas 3 gigawatt-jam dijadwalkan dimulai awal 2027, dengan target produksi dimulai sebelum akhir 2027.
Pemerintah China turut mendukung pengembangan teknologi ini melalui kebijakan pajak yang menguntungkan. Pada 16 Juli 2026, China membebaskan pajak konsumsi baterai natrium hingga 31 Desember 2028, sementara beberapa jenis baterai litium justru dikenakan pajak mulai 2 persen dan akan naik menjadi 4 persen pada tahun 2027.
HiNa Battery juga menjalin kemitraan dengan produsen otomotus khusus untuk mengembangkan kendaraan kebersihan berbasis baterai natrium, mulai dari truk pengangkut sampah hingga penyemprot debu. Pada Agustus 2026, perusahaan menyerahkan truk tambang listrik berkapasitas 676 kilowatt-jam kepada tambang Tangshan Sanyou di Provinsi Hebei.
Meski menawarkan keunggulan performa di suhu rendah dan bahan baku yang lebih melimpah, baterai natrium masih menghadapi keterbatasan pada kepadatan energi dan biaya produksi yang belum konsisten lebih murah dari baterai lithium iron phosphate. Karena itu, segmen kendaraan berat dan armada komersial menjadi fokus awal sebelum teknologi ini merambah ke kendaraan listrik lainnya.
Sumber: Antara News
Baca Juga

Rangkuman Ekonomi: Moratorium Smelter Nikel, Pembiayaan UMKM, hingga Keyakinan Luhut soal Ekonomi RI

MotoGP Mandalika 2026: Harga Makanan UMKM Dibatasi Maksimal Rp30 Ribu

Pemerintah Siapkan 2 Juta Ton Beras Subsidi, Sebagian Masuk Pasar Tradisional

