
Ketergantungan mahasiswa terhadap kecerdasan buatan (AI) untuk mengerjakan tugas akademis semakin masif di kampus-kampus Indonesia. Fenomena ini bukan hanya sekadar tren, melainkan sudah menjadi strategi sistematis bagi sebagian pelajar untuk meraih nilai tinggi tanpa perlu mengerahkan usaha maksimal.
Eka, seorang mahasiswa semester empat di sebuah perguruan tinggi swasta, adalah contoh nyata praktik ini. Setiap hari, dia menghabiskan lebih dari dua belas jam untuk berinteraksi dengan berbagai AI tools. Dia menggunakan Perplexity untuk riset, ChatGPT untuk mengerjakan tugas, dan berbayar untuk layanan premium mereka.
Strategi Eka terbukti efektif. Selama empat semester, indeks prestasi kumulatifnya mencapai 3,81—angka yang sangat tinggi dan membuat dia tampak seperti mahasiswa berprestasi sempurna di mata sistem administrasi kampus. Namun, pencapaian itu bukan hasil dari pembelajaran mendalam, melainkan dari otomasi tugas.
Eka telah mengembangkan teknik untuk menyamarkan jejak AI dalam tugas-tugasnya. Dia melakukan parafrase manual, menambahkan gaya bahasa yang terasa santai, bahkan sengaja menyisipkan kesalahan kecil supaya tulisan terlihat alami dan “manusiawi”. Dengan cara ini, tugas-tugasnya berhasil lolos dari deteksi dosen.
Pengamat pendidikan Ki Darmaningtyas mengatakan bahwa “Sekarang ini, orang dengan mudah bisa mengetahui dan membaca apakah sebuah tulisan merupakan produk AI atau bukan. Dosen-dosen dan pihak media massa juga sudah bisa menyeleksi apakah sebuah tulisan dibuat menggunakan AI atau tidak.” Namun, pernyataan ini kontradiktif dengan kenyataan bahwa banyak tugas berbasis AI tetap lolos dari pengawasan.
Para pakar mulai memperingatkan dampak jangka panjang dari kebiasaan ini. Menurut Patrick Yesandro, dosen Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata, ketergantungan pada AI menyebabkan apa yang disebut sebagai “cognitive debt”—kondisi di mana pelajar terus-menerus meminjam kapasitas berpikir komputer untuk menyelesaikan pekerjaan sehari-hari mereka.
Fenomena penggunaan AI di dunia akademik merefleksikan dilema era Industri 4.0: teknologi memudahkan hidup, tetapi penggunaan yang tidak tepat dapat mengikis kemampuan kognitif generasi muda. Tanpa intervensi yang jelas dari institusi pendidikan, budaya “menghalalkan segala cara demi nilai” ini dikhawatirkan akan terus berkembang dan merugikan pembelajaran siswa jangka panjang.
Sumber: Detik.com
Baca Juga

Aktor Boris Bokir Dorong Orang Tua Dengarkan Anak Sebelum Menilai Perilaku Mereka

Menteri Agama Ingatkan Kesejahteraan Guru Swasta Jangan Terlewat dalam Rencana Pendidikan Gratis

Jurusan Manajemen Harus Berevolusi, Ini Alasan Pemerintah Dorong Transformasi Kampus

