Jurusan Manajemen Harus Berevolusi, Ini Alasan Pemerintah Dorong Transformasi Kampus

Jurusan Manajemen Harus Berevolusi, Ini Alasan Pemerintah Dorong Transformasi Kampus

Pemerintah melihat ada masalah serius di jurusan manajemen. Meski jurusan ini memiliki mahasiswa terbanyak di Indonesia dengan 1.096.786 pelajar, tingkat pengangguran lulusannya justru tertinggi di kalangan sarjana—sekitar 10,3% penganggur berpendidikan S1 berasal dari bidang ini, menurut kajian Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia.

Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Badri Munir Sukoco, menekankan perlunya perubahan mendasar dalam cara mengajar manajemen agar lulusan bisa langsung dibutuhkan industri. Dia mengatakan, “Ini peluang bagus, karena pemerintah saat ini tengah berfokus pada sovereignty, kemandirian. Saya yakin nanti akan ada banyak insentif-insentif bagi pengusaha yang ada di Indonesia.”

Pemerintah telah mengidentifikasi delapan sektor strategis yang membutuhkan tenaga manajemen berkualitas: energi, pangan, kesehatan, maritim, digitalisasi, pertahanan, hilirisasi, dan manufaktur maju. Transformasi pendidikan manajemen dirancang agar lulusan memiliki keahlian spesifik yang sesuai dengan sektor-sektor tersebut, bukan hanya kompetensi umum.

Badri menekankan bahwa transformasi tidak harus selalu berarti membuka program studi baru. Kampus bisa memperbarui kurikulum, mengubah metode pembelajaran, dan mengembangkan konsentrasi khusus sesuai kebutuhan industri. Langkah ini akan menghasilkan lulusan yang lebih fokus dan siap berkontribusi.

Selain pembaruan kurikulum, pemerintah juga menuntut peningkatan kualitas dosen melalui program pelatihan ulang dan penambahan keterampilan. Badri menjelaskan pentingnya hal ini karena perkembangan teknologi seperti AI bergerak sangat cepat, dan materi yang diajarkan hari ini bisa ketinggalan zaman dalam beberapa tahun ke depan.

Transformasi pendidikan manajemen juga harus menyeimbangkan keterampilan teknis dengan soft skills. Lulusan tidak hanya perlu ahli di bidangnya, tetapi juga memiliki etika, tanggung jawab sosial, dan kemampuan komunikasi yang baik untuk dapat beradaptasi di dunia kerja yang terus berubah.

Sumber: Detik.com

Baca Juga

Scroll to Top