:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380699/original/017536800_1792732485-1000666664.jpg)
Aktor dan komika Boris Bokir baru-baru ini menyuarakan pentingnya komunikasi terbuka antara orang tua dan anak melalui film terbaru berjudul Yang Disebut Nakal. Film yang diproduseri Diana Limbong ini menghadirkan Boris dalam peran Goklas Panjaitan, seorang pelatih yang membimbing sekelompok remaja di lembaga pembinaan khusus.
Melalui karakter tersebut, Boris mengkritisi kebiasaan orang tua yang terburu-buru memberi label negatif pada anak tanpa berusaha memahami motivasi di balik tindakan mereka. Ia menekankan bahwa sebelum menilai anak sebagai nakal, orang tua perlu terlebih dahulu mendengarkan cerita dan keinginan mereka.
“Menurut saya ya nakal itu persepsi, memang anaknya kayaknya belum dipahami seutuhnya. Kenapa tidak dipahami seutuhnya? Karena belum didengar seutuhnya,” ungkap Boris saat berbincang dengan media di Jakarta Selatan.
Boris memberikan beberapa contoh konkret tentang bagaimana minat anak yang berbeda dari ekspektasi orang tua sering kali disalahpahami. Seorang anak yang gemar bermain air mungkin sebenarnya memiliki bakat berenang, atau remaja yang sering berlatih musik hingga malam bisa menjadi musisi berbakat di masa depan.
“Misalkan kayak dulu, anak sering nge-band sampai pulang sekolah malam-malam, sewa studio sama teman-temannya dibilang rombongan orang nakal. Sekarang kan pada jadi anak-anak band hebat,” katanya.
Sebagai seorang ayah, Boris juga merenungkan pola asuh yang ia terapkan. Ia berpendapat bahwa mendidik anak membutuhkan pendekatan dua arah, bukan hanya instruksi sepihak seperti yang sering diterapkan orang tua generasi sebelumnya. Boris menyarankan agar orang tua memberi kesempatan kepada anak untuk mengungkapkan aspirasi mereka.
Pola komunikasi yang lebih dialogis, menurut Boris, membantu orang tua dan anak mencapai kesepakatan bersama ketika terjadi perbedaan pendapat. “Makanya kalau yang sekarang, mungkin harus lebih banyak mendengarkan dulu. Baru dicari formulanya biar ada deal-nya, biar ada perjanjiannya,” jelasnya. Pesan Boris ini menjadi pengingat bahwa memahami anak adalah langkah awal yang lebih penting daripada memberikan hukuman atau label.
Sumber: Liputan6
Baca Juga

Menteri Agama Ingatkan Kesejahteraan Guru Swasta Jangan Terlewat dalam Rencana Pendidikan Gratis

Mahasiswa Andalkan AI untuk Tugas Kuliah, Pakar Khawatir Daya Pikir Melemah

Jurusan Manajemen Harus Berevolusi, Ini Alasan Pemerintah Dorong Transformasi Kampus

