
Anak-anak yang sebelumnya bekerja di jalanan kini mendapatkan kesempatan sekolah melalui program Sekolah Rakyat (SR). Program ini menargetkan siswa dari keluarga sangat kurang mampu, tanpa meminta mereka mengikuti tes akademik terlebih dahulu. Rifaldi, seorang anak berusia 12 tahun yang sebelumnya mengamen setiap hari, kini duduk di bangku sekolah menengah atas SR.
Mekanisme penerimaan siswa SR berbeda dari sekolah konvensional. Bukan melalui pendaftaran biasa, melainkan tim pendamping yang secara aktif mendatangi calon siswa di lapangan. Menteri Sosial Gus Ipul menjelaskan bahwa “pendamping mendatangi langsung hampir setengah juta anak di 497 kabupaten dan kota.” Pendekatan ini memastikan anak-anak yang bekerja dan tidak terdaftar di sekolah manapun tetap bisa mengakses pendidikan.
Alih-alih tes akademik, calon siswa menjalani pemeriksaan kesehatan dan pemetaan bakat menggunakan Talent DNA. Bagi mereka yang sudah lama tidak bersekolah, disediakan program matrikulasi selama 3 bulan untuk memperkuat kemampuan dasar sebelum bergabung dengan kelas reguler. Hasil pemetaan menunjukkan bahwa 4 dari 10 siswa memiliki bakat di bidang sains dan teknologi.
Selain aspek akademik, SR juga fokus pada pemulihan psikologis siswa. Asesmen menemukan bahwa satu dari tiga anak membutuhkan pendampingan untuk masalah emosional, dan sekitar satu dari enam telah mengalami kehilangan orang tua. Meski demikian, delapan dari sepuluh siswa masih menunjukkan kepedulian dan kesukarelaan untuk membantu.
Pendekatan holistik SR melibatkan hampir lima ribu guru, hampir tujuh ribu wali asuh, dan lebih dari dua ribu wali asrama yang bertindak sebagai orang tua kedua. Rutinitas siswa mencakup pembelajaran akademik, pembinaan karakter, olahraga, keagamaan, hingga pengembangan minat dan bakat melalui berbagai klub ekstrakurikuler.
Investasi pada pengembangan potensi siswa telah membuahkan hasil nyata. Di level internasional, siswa SR telah menjadi finalis kompetisi geografi Asia Tenggara dan meraih juara dua karate internasional. Pada tingkat nasional, mereka meraih 35 prestasi termasuk juara pertama matematika nasional dan medali emas olimpiade sains, sementara di olahraga telah mengumpulkan ratusan medali di berbagai cabang.
Lulusan SR memiliki pilihan melanjutkan ke pendidikan tinggi atau bekerja sesuai bakat mereka. Tahun 2026, catatan Kemensos mencatat bahwa 7 siswa SR akan memasuki perguruan tinggi dengan beasiswa penuh, sementara 5 siswa lainnya siap memasuki dunia kerja. Program ini membuktikan bahwa latar belakang ekonomi tidak harus menjadi penghalang untuk meraih prestasi dan masa depan cerah.
Sumber: Detik.com
Baca Juga

Lima Ribu Mahasiswa dan Santri Jatim Bersatu Tolak Perpecahan dan Narkoba

Sekolah Rakyat Buka Pintu Pendidikan bagi Anak dari Keluarga Kurang Mampu

Koperasi Desa Bisa Tekan Biaya Pemenuhan Standar Mutu Pangan untuk Program Makan Gratis

