Pemerintah Intensifkan Pertahanan Produksi Beras dari Ancaman El Niño

Pemerintah Intensifkan Pertahanan Produksi Beras dari Ancaman El Niño

Menghadapi potensi dampak El Niño terhadap hasil panen padi nasional, pemerintah sedang menggencarkan serangkaian langkah penyelamatan produksi beras. Wakil Menteri Koordinator Pangan Hanif Faisol Nurofiq menegaskan komitmen ini saat meninjau langsung situasi pertanian di Kalimantan Tengah pekan lalu.

Fenomena cuaca ekstrem El Niño diperkirakan dapat mengurangi produksi pangan hingga ratusan ribu ton setara beras. Untuk mengatasinya, pemerintah telah mengidentifikasi delapan hingga sepuluh provinsi utama penghasil padi sebagai fokus pengawasan khusus guna memastikan produktivitas tetap optimal.

Dalam mengantisipasi krisis ini, pemerintah memprioritaskan penguatan sistem irigasi di daerah-daerah pertanian strategis. “Beras kita akan mendapat tekanan dalam kondisi ini. Kita telah mencoba mengawal ketat delapan atau 10 provinsi utama penghasil padi. Karena itu, pompanisasi dan irigasi perpipaan juga terus kita lakukan di wilayah tersebut,” jelas Hanif.

Data terkini menunjukkan produksi padi nasional telah mencapai lebih dari 32 juta ton. Pemerintah menargetkan penambahan sekitar 1,5 juta ton pada bulan Desember, sehingga kebutuhan beras masyarakat tetap terjamin dan target swasembada beras dapat dipertahankan hingga akhir tahun.

Selain fokus pada produksi, pemerintah juga mengambil tindakan penstabilan harga untuk melindungi daya beli masyarakat. Program bantuan pangan menyalurkan beras 30 kilogram per keluarga kepada sekitar 33,24 juta penerima manfaat, mencapai total hampir satu juta ton beras. Ditambah dengan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) senilai hampir satu juta ton beras lagi.

Koordinasi lintas kementerian telah dimulai untuk merancang strategi jangka panjang menghadapi perubahan iklim di tahun depan. Berbagai program pertanian, pengelolaan air, dan kehutanan akan dievaluasi agar lebih efektif dalam situasi cuaca yang tidak terduga.

Langkah-langkah ini didesain untuk meredam lonjakan harga pangan pada masa El Niño sekaligus mengantisipasi meningkatnya kebutuhan konsumsi menjelang momen-momen penting seperti Natal, Tahun Baru, Ramadhan, dan Lebaran. “Kita harapkan fluktuasi harga pada kondisi El Niño terkendali, kemudian Natal dan tahun baru serta menjelang puasa Ramadhan hingga Lebaran sudah kita mitigasi dari awal,” kata Hanif. Dengan pendekatan komprehensif ini, pemerintah optimis dapat menjaga stabilitas pasokan dan inflasi pangan dalam batas yang terkontrol.

Sumber: Antara News

Baca Juga

Scroll to Top