
Gundul-Gundul Pacul, lagu anak-anak berbahasa Jawa yang sudah turun-temurun, ternyata menyimpan pelajaran mendalam tentang kepemimpinan dan tanggung jawab. Meski bagi banyak anak Indonesia modernnya lagu ini hanya sekadar materi di buku pelajaran, para peneliti pendidikan menemukan potensi besar lagu sederhana ini untuk mengajarkan nilai-nilai karakter sejak dini.
Lagu yang diklasifikasikan sebagai tembang dolanan (lagu permainan) dalam tradisi Jawa ini menceritakan kisah seseorang yang membawa bakul berisi nasi di atas kepala dengan sikap gembelengan—istilah Jawa untuk sombong atau tidak berhati-hati. Akibatnya, bakul terguling dan nasi tumpah. Cerita sederhana ini sebenarnya mengandung pesan moral yang kuat: siapa pun yang dipercaya menjaga sesuatu harus melakukannya dengan tanggung jawab penuh, bukan dengan kesombongan.
Adi Suprayogi dalam tulisannya di Jurnal Seni dan Pendidikan Seni (2018) membaca lagu ini sebagai sarana pendidikan karakter yang mengajarkan nilai kehormatan dan tanggung jawab. Ia menunjukkan bahwa cangkul dalam judul lagu melambangkan alat kerja—nilainya terletak pada fungsinya, bukan pada keindahan bentuknya. Begitu pula dengan kepemimpinan: “yang lebih penting adalah apa yang ia kerjakan dengan kewenangan yang dimilikinya,” bukan sekadar tinggi rendahnya jabatan.
Makna kepemimpinan dalam lagu ini tidak terbatas pada pemimpin besar. Seorang ketua kelas yang dipercaya menjaga kepentingan teman, ketua organisasi mahasiswa, guru, orang tua, atau bahkan mahasiswa yang ditunjuk memimpin kelompok belajar—semuanya sedang belajar menggunakan kewenangan dengan bertanggung jawab. Muhammad Indra Saputra dalam kajiannya di Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam (2016) menghubungkan pesan lagu ini dengan integritas dan kepercayaan seorang pemimpin.
Pendidikan kepemimpinan tidak perlu dimulai dari teori abstrak atau menunggu seseorang mendapat jabatan besar. Saat seorang anak pertama kali dipercaya menjaga barang bukan miliknya, ia sudah belajar makna tanggung jawab. Guru dapat memanfaatkan lagu ini dengan mengajukan pertanyaan praktis: “Kalau kamu dipercaya membawa sesuatu yang penting, bagaimana kamu akan menjaganya?”
Pertanyaan sederhana itu membuka pintu percakapan yang lebih luas: apa dampaknya jika ketua kelas tidak bertanggung jawab, mengapa pemimpin harus mendengarkan masukan, apa akibat jika seseorang menyalahgunakan kepercayaan untuk kepentingan pribadi. Dengan cara ini, lagu tradisional berubah dari sekadar materi hafalan budaya menjadi pemicu dialog pendidikan yang bermakna tentang karakter dan kepemimpinan.
Para peneliti sepakat bahwa pesan moral dalam Gundul-Gundul Pacul—tentang kerendahan hati, tanggung jawab, dan integritas—tetap relevan di era modern. Lagu ini membuktikan bahwa warisan budaya lokal masih bisa menjadi alat pembelajaran yang efektif dan mudah diingat oleh anak-anak dalam memahami nilai-nilai kehidupan yang sesungguhnya.
Sumber: Detik.com
Baca Juga

Pemerintah Intensifkan Pertahanan Produksi Beras dari Ancaman El Niño

LPDP Buka 7 Program Beasiswa Co-Funding, Daftar Sebelum 1 Desember 2026

Perpanjang SIM Jadi Lebih Mudah, Polda Metro Jaya Hadirkan Lima Lokasi Layanan Keliling di Jakarta

