Jangan Anggap Enteng Batuk Dua Minggu, Bisa Jadi Gejala TB

Jangan Anggap Enteng Batuk Dua Minggu, Bisa Jadi Gejala TB

Batuk yang tidak kunjung hilang selama lebih dari dua minggu bukan sekadar pilek biasa. Dokter spesialis paru memperingatkan bahwa gejala tersebut dapat menjadi tanda awal tuberkulosis (TB), terutama jika disertai demam di sore atau malam hari, keringat malam, hilang selera makan, dan turun berat badan tanpa alasan jelas.

“Batuk lebih dari dua minggu perlu dicurigai sebagai TB. Pada orang dengan penurunan daya tahan tubuh, seperti penderita HIV dan diabetes, batuk dengan durasi berapa pun perlu diwaspadai,” ujar Dr. dr. Fathiyah Isbaniah, dokter spesialis paru dari Universitas Indonesia. Bagi kelompok dengan imunitas lemah, waktu kemunculan batuk tidak perlu mencapai dua minggu untuk menjadi alarm serius.

Gejala TB sebenarnya sangat beragam dan sering kali terlalu ringan sehingga diabaikan. Selain batuk berkepanjangan, penderita bisa mengalami kelelahan berlebihan, kehilangan semangat, dan tubuh terasa lemah dalam menjalani aktivitas rutin sehari-hari. Prof. Dr. dr. Faisal Yunus, mantan ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, menjelaskan bahwa demam ringan pada sore atau malam hari juga merupakan ciri khas yang perlu diperhatikan.

Banyak masyarakat, khususnya perokok, menganggap batuk sebagai keluhan normal dan tidak memeriksakan diri ke dokter. “Batuk paling sering diabaikan orang. ‘Enggak, batuk biasa kok.’ Apalagi kalau merokok, batuk terus, itu sering diabaikan banyak orang,” kata Faisal. Padahal, mereka justru membiarkan penyakit berkembang tanpa diagnosis yang tepat.

Beberapa orang lebih memilih membeli obat batuk atau ramuan herbal tanpa terlebih dahulu mengetahui akar masalahnya. Batuk akibat TB bisa berbentuk batuk kering atau batuk berdahak, dan tidak selalu menunjukkan tanda-tanda yang jelas, sehingga pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk memastikan diagnosis.

Pemeriksaan dini menjadi semakin penting mengingat upaya penemuan kasus TB di Jakarta. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menemukan lebih dari 40 ribu kasus TB dari target 68 ribu kasus melalui pencarian kasus aktif, termasuk pemeriksaan kontak erat pasien. Metode ini berbeda dari waktu sebelumnya di mana diagnosis bergantung pada pasien yang datang setelah gejala muncul.

Faisal menekankan bahwa pencarian kasus aktif adalah kunci untuk mengendalikan penyebaran TB. Ketika satu orang terdiagnosis, keluarga dan orang-orang yang dekat dengannya juga perlu diperiksa guna mencegah rantai penularan berlanjut. Tanpa upaya proaktif semacam ini, pengendalian TB akan terus mengalami hambatan.

Bagi siapa saja yang mengalami batuk berkepanjangan, terutama jika diikuti penurunan berat badan, demam, atau mudah lelah, langkah terbaik adalah segera berkonsultasi ke puskesmas, rumah sakit, atau dokter praktik. Gejala saja tidak cukup untuk memastikan seseorang menderita TB, sehingga pemeriksaan medis profesional menjadi keharusan.

Sumber: Antara News

Baca Juga

Scroll to Top