
Penelitian di perguruan tinggi Indonesia kini tak bisa lagi berjalan sendiri tanpa tahu masalah apa yang ingin diselesaikan. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) resmi menerapkan kebijakan baru yang mewajibkan riset kampus berangkat dari masalah nyata di lapangan, bukan sekadar mengikuti bidang prioritas yang luas seperti sebelumnya.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek, Fauzan Adziman, menjelaskan kebijakan ini dalam acara SATRIA 2026 yang digelar di Hotel Grand Orchards, Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Kamis (8/10/2026). Masalah yang menjadi dasar riset harus datang dari luar kampus, yakni dari industri, pemerintah daerah, maupun investor. “Masalahnya itu harus datang tidak dari kampus sendiri, tetapi masalahnya datang dari industri, bisa dari pemerintah daerah, bisa juga tentunya dari tantangan-tantangan dari investor, gitu ya. Dan itu semua kita berharap agar kampus bisa menjadi simpul pertumbuhan ekonomi,” kata Fauzan.
Kebijakan ini lahir dari fakta pahit selama ini: banyak inovasi hasil riset kampus gagal masuk pasar karena masalah kualitas dan harga. Untuk itu, riset ke depan dirancang bersifat multidisipliner, artinya menggabungkan berbagai bidang ilmu sekaligus. Misalnya riset pertanian tidak hanya melibatkan ahli pertanian, tapi juga pengembang drone dan pakar kecerdasan buatan (AI) untuk mengolah data.
Soal pendanaan, pemerintah menyiapkan dua jalur. Pertama, program riset prioritas yang menggunakan dana APBN sekitar Rp3 hingga Rp3,5 triliun, dengan besaran dana per proyek mulai Rp50 juta hingga Rp500 juta per tahun. Jalur ini dirancang untuk pemerataan mutu riset di berbagai kampus. Kedua, program riset strategis yang memanfaatkan dana LPDP sekitar Rp3 triliun, khusus bagi kampus yang sudah punya fasilitas dan rekam jejak riset lebih matang, dengan pendanaan bisa tembus Rp2 miliar per tahun.
Dengan dua jalur pendanaan ini, pemerintah berharap kampus dari berbagai skala bisa ikut berkontribusi nyata dalam menyelesaikan persoalan bangsa. Transformasi riset kampus dari sekadar menghasilkan publikasi menjadi penggerak ekonomi ini menjadi salah satu langkah besar yang kini mulai dijalankan secara serius.
Sumber: Detik.com
Baca Juga

Hanya 20 Persen SDM Indonesia Berbasis STEM, Jauh di Bawah Malaysia dan China

Ilmuwan Ungkap Rahasia Bahan Cat Lukisan Mesir Kuno yang Bertahan Ribuan Tahun

Empat Jalur Pendidikan Internasional yang Bisa Membawamu ke Kampus Dunia

