Indonesia Perlu Ubah Cara Pandang tentang Lansia sebagai Peluang Ekonomi

Indonesia Perlu Ubah Cara Pandang tentang Lansia sebagai Peluang Ekonomi

Jumlah penduduk lansia yang terus bertambah bukan hanya tantangan, melainkan juga peluang ekonomi yang perlu dimanfaatkan secara strategis. Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Febrian Alphyanto Ruddyard menekankan hal ini dalam sebuah acara peluncuran buku dan kick-off pengembangan ekonomi perak Indonesia di Jakarta.

Ekonomi perak—istilah untuk aktivitas ekonomi, produk, dan layanan yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan lansia dan persiapan menghadapi masa tua—seharusnya dipandang sebagai bagian dari strategi pertumbuhan ekonomi nasional. “Selama ini, bertambahnya penduduk lansia sering dipandang sebagai beban ekonomi. Padahal, perubahan demografi ternyata juga menciptakan pasar, investasi, lapangan kerja, dan sumber pertumbuhan ekonomi,” ujar Febrian.

Peluang ekonomi dari meningkatnya populasi lansia tersebar di berbagai sektor, mulai dari kesehatan, perawatan, teknologi digital, jasa keuangan, hingga pariwisata dan industri pangan. Contoh konkret datang dari Jepang, yang berhasil mengembangkan industri kesehatan dan teknologi pendukung kehidupan lansia menjadi lapangan kerja dan sumber pertumbuhan ekonomi yang signifikan.

Indonesia diproyeksikan akan memiliki 50 juta penduduk berusia 65 tahun ke atas pada 2050, atau sekitar 16 persen dari total populasi. Proyeksi ini membuka peluang besar untuk mengembangkan ekonomi perak sebagai ekonomi baru yang mendorong pertumbuhan nasional.

Namun, perubahan cara pandang harus disertai dengan kebijakan yang komprehensif. Saat ini, mayoritas lansia Indonesia belum memiliki tabungan pensiun, lebih dari separuh masih bekerja di sektor informal dengan perlindungan terbatas, dan sebagian besar tanggung jawab perawatan masih dibebankan pada keluarga.

Febrian menekankan bahwa kebijakan untuk lansia tidak cukup hanya fokus pada perlindungan sosial semata. “Ada yang membutuhkan perlindungan penuh, ada yang masih mau bekerja, ada yang ingin berwirausaha, dan banyak pula yang ternyata memiliki pengalaman, pengetahuan, serta keterampilan yang berharga bagi masyarakat. Kita perlu mengubah cara pandang kita dari melihat lansia semata-mata sebagai penerima bantuan menjadi warga negara yang tetap memiliki hak, kemampuan, pilihan, dan kesempatan untuk berkontribusi,” katanya.

Strategi pengembangan ekonomi perak harus memastikan bahwa investasi dan inovasi berjalan beriringan dengan peningkatan aksesibilitas dan keterjangkauan untuk seluruh kelompok lansia, tidak hanya mereka yang memiliki daya beli tinggi. Dengan pendekatan ini, pertumbuhan ekonomi baru dapat tercipta sambil mengurangi kesenjangan sosial.

Sumber: Antara News

Baca Juga

Scroll to Top