
Lukisan-lukisan Mesir kuno yang masih berwarna-warni hingga hari ini menyimpan misteri besar: bahan apa yang digunakan para pelukis zaman itu sehingga karyanya bisa bertahan ribuan tahun? Sebuah penelitian terbaru berhasil mengungkap jawabannya dengan teknologi modern.
Studi yang dipublikasikan di jurnal Science Advances pada 26 Agustus 2026 ini menganalisis 28 sampel kecil cat dan lem dari 14 benda bersejarah, mulai dari peti mati kayu, pecahan lukisan dinding makam, hingga batu kapur dari bangunan. Benda-benda tersebut berasal dari koleksi British Museum di London dan Ny Carlsberg Glyptotek di Kopenhagen, dan diperkirakan dibuat antara sekitar 1425 SM hingga 400 Masehi.
Para peneliti menggunakan metode proteomik — teknik ilmiah untuk mengenali jenis hewan atau tumbuhan berdasarkan kandungan proteinnya — dengan cara menyinari sampel menggunakan cahaya inframerah lalu memecah protein menjadi bagian-bagian kecil yang bisa diidentifikasi. Hasilnya kemudian dicocokkan dengan basis data protein yang sudah dikenal.
Temuan paling menonjol adalah kehadiran kolagen — protein kuat yang terdapat pada kulit, tulang, dan jaringan ikat hewan — pada sebagian besar sampel. Kolagen ini dihasilkan dari merebus kulit dan tulang hewan seperti sapi, domba, kambing, keledai, hingga kuda, lalu digunakan sebagai lem pengikat pigmen warna dalam cat. Lem dari kulit hewan terbukti lebih kuat dibanding lem dari tulang, sehingga diduga lebih sering dipakai sebagai perekat.
Selain bahan hewani, peneliti juga menemukan protein dari biji wijen dan moringa pada dua karya seni yang dibuat lebih dari 1.000 tahun secara terpisah. Meski awalnya diduga minyaknya yang digunakan, analisis menunjukkan minyak wijen tidak bisa mengering sempurna dan minyak moringa sama sekali tidak bisa mengering — sehingga tidak ideal sebagai campuran cat. Para peneliti menduga pelukis justru memanfaatkan ampas atau residu biji setelah minyaknya diambil.
Temuan lain yang menarik adalah adanya protein gandum yang diduga sengaja dicampurkan ke dalam cat, serta protein putih dan kuning telur pada sampel dari Makam Nebamun — meski yang terakhir masih perlu diteliti lebih lanjut untuk memastikan apakah itu bahan asli atau sekadar kontaminasi dari proses pelestarian sebelumnya. Penelitian ini membuka jendela baru untuk memahami bagaimana para seniman kuno meramu bahan-bahan di sekitar mereka menjadi karya yang melampaui peradaban mereka sendiri.
“Lem dari kulit hewan lebih kuat daripada lem tulang, sehingga peneliti menyimpulkan bahwa lem ini umumnya akan digunakan sebagai perekat, bukan pigmen warna pada cat.”
Sumber: Detik.com
Baca Juga

Empat Jalur Pendidikan Internasional yang Bisa Membawamu ke Kampus Dunia

Persiapan TKA 2026: Latihan Soal Biologi SMA Lengkap dengan Kunci Jawaban

Lahir dari Garasi dan Kos-Kosan, Ini Cerita Co-Founder Bukalapak Soal Membangun Startup

