
Lonjakan kasus influenza A di Indonesia memunculkan kekhawatiran baru, terutama soal kebiasaan masyarakat yang keliru dalam mengonsumsi obat. Dosen Fakultas Kedokteran dan Kesehatan ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember), dr Edwin Nugroho Njoto MIPH MHM SpPD, menegaskan bahwa antibiotik bukan solusi untuk penyakit ini.
Influenza A disebabkan oleh virus, bukan bakteri. Karena itu, antibiotik sama sekali tidak efektif melawannya. Edwin menjelaskan, antibiotik baru boleh dipertimbangkan jika ada infeksi bakteri lain yang muncul bersamaan, itupun harus berdasarkan penilaian dokter. “Jangan baru flu sebentar sudah langsung diberi (obat) antibiotik karena penyebab influenza adalah virus, bukan bakteri,” tegasnya.
Virus influenza dikenal mudah bermutasi dan menular, serta bisa dipengaruhi oleh kondisi cuaca. Penularannya terjadi lewat percikan air liur saat batuk atau bersin. Orang dengan daya tahan tubuh lemah atau yang sedang kelelahan karena aktivitas padat berisiko lebih tinggi tertular. “Virus influenza ini memang dapat memicu wabah musiman dengan tingkat penularan yang luas,” ujar Edwin.
Gejala awal influenza umumnya berupa pilek, batuk, demam, dan nyeri saat menelan. Namun ada tanda yang harus diwaspadai dan tidak boleh diabaikan. “Yang perlu diwaspadai adalah ketika terjadi penurunan nafsu makan hingga sesak napas,” kata Edwin.
Untuk pencegahan, Edwin menyarankan masyarakat menjaga pola hidup sehat: istirahat cukup, minum air yang memadai, makan makanan bergizi, dan rutin berolahraga. Mencuci tangan setelah beraktivitas di luar rumah atau sebelum makan juga penting dilakukan secara konsisten. Selain itu, vaksinasi influenza setiap tahun bisa menjadi langkah perlindungan tambahan yang patut dipertimbangkan.
Sumber: Detik.com
Baca Juga

APBN 2027 Siapkan Rp824 Triliun untuk Pendidikan, Ini yang Diharapkan Pemerintah

Dosen IPB Raih Gelar Doktor di Jepang, Risetnya Fokus pada Masa Depan Industri Sawit Indonesia

Pakar Unair Beberkan Strategi Hadapi Ancaman Gempa Megathrust di Selatan Jawa

