
Tekanan harga di Australia semakin terasa berat. Data resmi yang dirilis Rabu (30/9) menunjukkan laju inflasi tahunan negeri kanguru itu melonjak ke angka 4 persen pada Agustus, naik dari posisi 3,5 persen yang tercatat sebulan sebelumnya.
Biro Statistik Australia (ABS) mencatat bahwa sektor perumahan menjadi penyumbang terbesar kenaikan harga, dengan lonjakan sebesar 5,7 persen secara tahunan. Tidak jauh di belakangnya, sektor transportasi ikut mendorong inflasi dengan kenaikan 5,6 persen, terutama dipicu oleh mahalnya harga bahan bakar.
Di sisi lain, ukuran inflasi inti yang dikenal sebagai rata-rata terpangkas tahunan—yakni perhitungan yang memangkas data ekstrem agar gambaran inflasi lebih stabil—bertahan di angka 3,6 persen untuk bulan ketiga berturut-turut. Angka ini sebenarnya masih sesuai dengan perkiraan para ekonom yang memproyeksikan inflasi inti tidak akan bergerak dari level tersebut.
Situasi ini mendorong bank sentral Australia, Reserve Bank of Australia (RBA), untuk menaikkan suku bunga acuannya sehari sebelum data inflasi dirilis. RBA mengerek suku bunga dari 4,35 persen menjadi 4,60 persen, level tertinggi sejak November 2011. Kenaikan ini disebut dipicu oleh dua faktor global: booming teknologi kecerdasan buatan (AI) yang mendongkrak permintaan energi dan barang, serta ketidakstabilan akibat konflik di Timur Tengah.
Dengan inflasi yang masih di atas target dan suku bunga yang terus naik, warga Australia kemungkinan masih harus bersiap menghadapi tekanan biaya hidup yang belum mereda dalam waktu dekat.
Sumber: Antara News
Baca Juga

Harga Emas di Pegadaian Hari Ini: Antam Paling Mahal, Galeri24 Paling Terjangkau

Nobar Timnas Berujung Maut di Jakarta Utara, Korban Tewas Dibacok Gara-gara Panggilan ‘Boleng’

Harga Pangan Melenceng di 17 Daerah, Sumsel Siapkan Sanksi untuk Pedagang Nakal

