
Gambaran sekolah Amerika yang sering terlihat di film-film ternyata tidak sepenuhnya mencerminkan kenyataan. Fidelma Zahria Saputri, pelajar dari Jawa Timur yang pernah mengikuti Program Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study (KL-YES) pada 2021, menemukan berbagai hal mengejutkan selama setahun belajar di Worcester, Massachusetts. Pengalamannya membuka mata tentang bagaimana sistem pendidikan, keberagaman sosial, dan kehidupan sehari-hari di negara tersebut jauh lebih kompleks dari yang dibayangkan.
Salah satu kejutan terbesar bagi Fidelma adalah tingkat keberagaman di komunitasnya. “Worcester banyak didatangi pendatang, jadi tidak seperti di Netflix yang semuanya kulit putih. Sekarang daerah itu sangat beragam, termasuk teman-teman saya, dari latar belakang ras dan aktivitas apa pun. Saya tidak hanya bersekolah dengan orang bule, tetapi punya teman dari berbagai negara,” ujarnya. Realitas ini sangat berbeda dari stereotip yang selama ini dilihatnya di layar kaca.
Struktur akademik di sekolahnya juga jauh berbeda dari Indonesia. Alih-alih mengambil lima hingga enam mata pelajaran setiap hari seperti siswa Indonesia, Fidelma hanya mengambil empat mata pelajaran. Sistem ini justru memberikan fleksibilitas lebih besar—siswa dapat memilih pelajaran sesuai minat mereka. Fidelma memanfaatkan kesempatan ini dengan mengambil kelas 3D Design untuk belajar membuat keramik dan paduan suara untuk mengasah hobi bernyanyi.
Kebebasan memilih mata pelajaran yang dia minati memberikan Fidelma pengalaman yang tidak akan didapatnya di sekolah biasa. Menurutnya, status sebagai peserta pertukaran pelajar membuat guru memberinya ruang lebih besar. “Karena saya tidak akan lulus di sana dan guru-guru sudah tahu, saya dibebaskan memilih mata pelajaran yang benar-benar ingin saya ambil,” jelasnya. Pilihan ini membuka pengalaman unik, termasuk bernyanyi bersama paduan suara di gereja saat ada anggota keluarga guru yang meninggal.
Sistem pembelajaran moving class—di mana siswa berpindah ruangan setiap pergantian mata pelajaran—awalnya membingungkan Fidelma. Namun, bantuan dari teman-teman sekolah membuat proses adaptasi berjalan lebih lancar. Selain itu, Fidelma terbiasa aktif menyampaikan pendapat di kelas, sebuah kebiasaan yang dihargai oleh guru-guru. Keaktifannya ini membukanya peluang mengikuti BUBW (Better Understanding for a Better World), sebuah konferensi pelajar internasional yang memerlukan surat rekomendasi dari guru.
Sebagai seorang Muslim, Fidelma juga harus menyesuaikan diri agar tetap dapat menjalankan ibadah. Dia berkomunikasi dengan konselor sekolah untuk meminta waktu 10 menit beribadah. Karena fasilitas wudu terbatas, dia membawa botol minum sendiri. Pengalaman ini mengajarkan pentingnya komunikasi terbuka. “Semuanya berjalan lancar karena saya berkomunikasi. Kalau tidak bicara, orang tidak akan tahu apa yang saya butuhkan. Jadi, komunikasi harus jalan,” katanya.
Kehidupan sekolah di luar kelas menjadi bagian penting dari pengalaman Fidelma. Dia aktif dalam beberapa komunitas seperti book club, student council, dan teater musikal. Klub-klub ini memberinya waktu berkualitas untuk membangun persahabatan yang lebih dalam dibanding di kelas, karena mereka bertemu secara rutin. Melalui berbagai kegiatan ekstrakurikuler, Fidelma tidak hanya memperluas jaringan pertemanan tetapi juga menemukan cara efektif untuk beradaptasi di lingkungan baru.
Sumber: Detik.com




