
Mahasiswa kini didorong untuk tidak sekadar menjadi penonton dalam proses demokrasi. Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI mengajak civitas akademika Universitas Diponegoro (Undip) Semarang untuk terlibat aktif mengawasi jalannya pemilu, khususnya di ruang digital.
Ajakan itu disampaikan dalam acara bertajuk ‘Bawaslu Campus Connect’ yang digelar di kampus FISIP Undip, Semarang, Selasa. Anggota Bawaslu RI, Puadi, menjelaskan bahwa lembaganya tengah bertransformasi dari pengawasan manual menuju pengawasan berbasis teknologi, termasuk memanfaatkan kecerdasan buatan atau AI untuk mendeteksi potensi pelanggaran.
Puadi menegaskan Bawaslu tidak bisa bekerja sendiri dan membutuhkan peran aktif mahasiswa. “Mahasiswa bukan hanya sebagai konsumen informasi. Kami berharap mahasiswa sebagai produsen informasi, sebagai agen digital, sebagai agen literasi,” katanya. Mahasiswa diharapkan ikut menyebarkan informasi dan melaporkan dugaan pelanggaran, baik di dunia nyata maupun di media sosial.
Dalam acara yang sama, mantan Ketua Bawaslu Prof Muhammad mengingatkan bahwa tidak ada pemilu yang sempurna. “Saya mau berdebat dengan orang yang mengatakan pernah ada pemilu di Indonesia ‘full’ demokratis. ‘No’, tidak mungkin. Lihat sendiri data pelanggaran di Bawaslu. Datanya konkret. Tetap ada potensi orang-orang jahat di pemilu, dengan berbagai cara,” ujarnya.
Karena itulah, kata dia, teknologi informasi menjadi kunci untuk mempercepat deteksi kecurangan. Bawaslu juga berharap kampus bisa berperan sebagai laboratorium demokrasi, tempat riset dan kajian seputar pengawasan pemilu terus dikembangkan. Kolaborasi antara lembaga pengawas pemilu dan dunia akademik ini diharapkan melahirkan generasi yang lebih melek demokrasi sekaligus berani mengawalnya.
Sumber: Antara News
Baca Juga

Tiga Ilmuwan dari AS dan Jerman Raih Nobel Kedokteran 2026 Berkat Temuan “Sakelar” Sel Saraf

Mahasiswa ITB Bawa Teknologi dan Edukasi Kesehatan ke Pelosok Papua

Mau Karier di Pasar Modal? Pahami Dulu Beda Sertifikat Pelatihan dan Sertifikat BNSP WPPE

