
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi baru-baru ini meluncurkan panduan Net Zero Campus bersama dua lembaga riset internasional. Panduan tersebut berisi contoh nyata dari berbagai universitas luar negeri yang sudah sukses menerapkan pendidikan tentang perubahan iklim ke dalam sistem akademik mereka.
Mengapa perguruan tinggi perlu ambil peran aktif dalam misinya mengurangi emisi? Menurut Fikri Muhammad dari Climateworks Centre, alasannya sederhana: universitas sebenarnya adalah penghasil emisi yang cukup besar. “Perguruan tinggi bisa kita katakan sebagai replika kota dalam skala kecil, di mana sebenarnya sebagai agen ekonomi, perguruan tinggi juga menghasilkan emisi,” ujarnya saat acara peluncuran panduan di Jakarta pada Oktober 2026. Data penelitian menunjukkan emisi dari kampus berkisar antara 2.000 hingga 230.000 ton per tahun.
Universitas Hamburg di Jerman menjadi salah satu pionir dengan mengembangkan riset dan transfer teknologi terkait keberlanjutan dan manajemen perubahan iklim. Program mereka melibatkan lebih dari 3.000 akademisi dan menghasilkan lebih dari 15 buku penelitian tentang topik ini.
Di Kanada, University of British Columbia menerapkan Climate Action Plan 2030 yang melibatkan staf dan mahasiswa secara aktif. Universitas juga mendorong mahasiswa untuk menjadikan penelitian perubahan iklim sebagai tema tesis pascasarjana mereka.
University of Toronto menggunakan pendekatan pembelajaran seumur hidup yang terbuka untuk mahasiswa dan siapa saja yang ingin belajar tentang kebijakan dan praktik perubahan iklim. Sementara University of Campinas di Brasil menggabungkan mata kuliah formal di tingkat sarjana dan pascasarjana dengan kegiatan penelitian yang fokus pada isu-isu iklim.
Sri Lanka juga punya kontribusi melalui University of Colombo yang menawarkan program pascasarjana khusus tentang perubahan iklim dan manajemen lingkungan, lengkap dengan konferensi dan praktik pengelolaan limbah langsung di kampus.
Di Inggris, Nottingham Trent University memiliki program literasi karbon dan kursus daring tentang praktik keberlanjutan yang cukup besar cakupannya. Sampai 250 mahasiswa dan 120 staf sudah mengikuti pelatihan, sementara program daring ditawarkan ke seluruh 34.000 mahasiswa kampus tersebut.
KTH Royal Institute of Technology di Swedia mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke seluruh kurikulum dengan melatih staf akademik terlebih dahulu. MIT di Amerika Serikat dan University of Latvia juga menjalankan program serupa, dengan Latvia mencatat lebih dari 500 mahasiswa mengikuti mata kuliah mereka tentang perubahan iklim.
Universitas di Afrika, Asia, dan Eropa lainnya seperti University of Fort Hare (Afrika Selatan), Indian Institute of Technology Roorkee (India), dan University Fernando Pessoa (Portugal) semuanya mengembangkan pusat riset, program doktoral, dan kegiatan akademik yang menjadikan isu iklim sebagai bagian integral dari pendidikan kampus mereka.
Dengan melihat berbagai contoh global ini, Indonesia memiliki kesempatan untuk belajar dan mengadaptasi strategi serupa dalam perguruan tinggi nasional. Tujuannya bukan hanya menghasilkan lulusan yang paham masalah iklim, tetapi juga membuat kampus sendiri menjadi institusi yang berkomitmen mengurangi jejak karbonnya.
Sumber: Detik.com
Baca Juga

LPS Mempercepat Persiapan Program Jaminan Polis Asuransi untuk Lindungi Nasabah

Kementerian Pendidikan Luncurkan Panduan Net Zero Campus, Ajak Perguruan Tinggi Kurangi Emisi

Satu Tersangka Perundungan yang Tewaskan Teman Disabilitas Masuk Program Rehabilitasi

