RPI Lampung Luncurkan Antologi Puisi Sujud

  • Whatsapp
RPI Lampung Luncurkan Antologi Puisi Sujud
Hasil Tangkapan Zoom

LITERA NEWS – Dewan Pimpinan Wilayah RPI Lampung meluncurkan dan membedah buku antologi puisi ‘Sujud’ yang diselenggarakan di zoom meeting (31/1). Buku ini merupakan kumpulan tulisan anggota RPI Lampung yang bernuansa agama, inspiratif, dan renungan kehidupan.

Acara dipandu secara apik oleh Ketua DPW RPI Lampung Desma Hariyanti dengan pembicara Yoga Pratama (Penulis, Founder Komunitas Ngajar Lampung), Edrida Pulungan (Penyair, Ketua DPP RPI Bidang Kepemimpinan Nasional), dan Eka Purnamawanti (Penulis, Wasekjen DPP RPI).

Bacaan Lainnya

Acara dibuka oleh Presiden RPI Yanuardi Syukur yang mengapresiasi buku karya RPI Lampung. “Puisi adalah wujud dialog dengan jiwa yang dimanifestasikan lewat tulisan,” kata Yanuardi.

Saat menulis puisi, seseorang juga harus mengasah jiwa dan kepekaannya akan lingkungan, serta harus terus belajar dari para sastrawan senior seperti Chairil Anwar, Taufiq Ismail, Sutardji Calzoem Bachri, Joko Pinurbo, dan lain sebagainya.

Puisi terbaik, lanjut Yanuardi yang pernah menjadi editor antologi puisi Saat Kemanusiaan di Persimpangan untuk membantu seorang pasien RS Wahidin Makassar asal Ambon, adalah “yang mendekatkan pembaca pada Tuhan, manusia, dan alam.”

Kedekatan itu membawa manusia pada sifat-sifat mulia yang terwujud dalam berbagai aktivitasnya. Di sini, kata Yanuardi, “puisi tidak lagi sekedar karya tapi juga mencerahkan dan menggerakkan manusia untuk jadi pribadi bermakna.”

Yoga Pratama mengapresiasi kumpulan puisi ini dan sangat senang dengan terbitnya buku ini. Namun, dia juga memberikan catatan agar tiap penulis harus terus belajar dengan memastikan karyanya sebaik-baiknya sebelum masuk ke penerbit.

“Kalaupun ada editor atau lay outer sebuah buku, yang paling penting sebagai editor adalah penulis itu sendiri,” kata Yoga.

Sementara itu, Edrida Pulungan menceritakan pengalamannya dalam berkarya sampai Australia dan Prancis. Perempuan yang menyelesaikan S1 dan S2 masing-masing 2 kali, bahkan baru saja dinobatkan sebagai ASN terbaik.

“Puisi yang baik adalah yang multitafsir, untuk itu kita perlu ikut lomba agar juga tahu bagaimana respon para juri terhadap puisi kita,” kata Edrida. Selain itu, puisi juga harus menggerakkan jiwa, kata Analis Kebijakan di Kantor DPD RI, Senayan.

Eka Purwanti, penulis buku dari kota Makassar juga mengapresiasi terbitnya buku ini. Dia bahkan menyebut bahwa karya puisi biasanya lahir dari dialog dengan jiwa. Selain itu, seorang penulis juga harus terus belajar agar bisa menghasilkan karya yang bermutu.

“Saya juga suka dengan diksi baru, dan itu penting sekali dalam karya,” kata penulis buku Berjalan di Atas Kenangan yang berisi pergulatan emosi dan masa lalu.

Acara ini diikuti oleh puluhan peserta dari Padang, Lampung, Jakarta, Garut, Surabaya, Larantuka, Makassar, dan Yogyakarta. Beberapa akademisi juga hadir seperti Dr. Nanang dari Garut, Dr. Supangat Rohani, Anita Raharjeng, budayawan Zaeni Boli, penulis Ivan Aulia Rokhman, aktivis literasi Yani Mirsal, penulis Widya Rizky Pratiwi. Sekjen RPI Kurniadi Sudrajat, Ketua RPI Sinjai Fajriansyah Muhtar dan Guru SMP di Lampung, Sutarsono juga hadir.

Guru Sutarsono bercerita bahwa pembelajaran sastra di sekolah oleh para sastrawan senior kadang tidak diminati oleh siswa. “Saya juga berharap agar para penulis muda dalam buku ini agar menebar embrio kepenyairannya kepada anak-anak di sekolah, karena kedekatan usia sangat berguna untuk sambung dan tumbuh berkembang,” kata Sutarsono.

Menanggapi itu, Edrida menceritakan bahwa dulu ia pernah mengajar anak-anak kecil. Ada yang menulis dengan hatinya, dan setelah itu ia memeluk Edrida sebagai guru. “Itu membuktikan bahwa kalau puisi itu diajarkan dengan hati, maka anak-anak akan tersentuh, jadi tidak sekedar dikasi PR,” cerita Edrida.

Edrida juga pernah menulis puisi “Sepucuk Rindu untuk Aisyah yang setia”, tentang seorang anak jalanan yang keluarganya broken home. Puisi itu kemudian berdampak pada anak dan ayahnya. “Di situ saya berpikir bahwa puisi itu bisa menggerakkan,” jelas Edrida yang mendapat banyak semangat dari ayahnya yang berprofesi penulis pidato dan senang menulis puisi.

Peluncuran buku ini juga hadir juga aktivis dan penulis lainnya seperti Maghdalena, Sarikun Indriyanto, Aprilia Fitriyani, Astri Rahayu, Nurul Hidayah, Dwi Nurjannah, Hj Dwi Winarni, Toni Agus Susanto, Munir Saripain, Nina Ampriani, Rangga Rapindo, Rumi, Sabrina Nisa, Yulia Mayrie, dan Zonia Oktara.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *