Puisi Bertema Luka yang Begitu Memilukan

  • Whatsapp
Puisi Bertema Luka
Ilustrasi Puisi Bertema Luka/Pixabay/karan_kss_

LITERA NEWS – Ada banyak cara mengekspresikan suasana hati yang terluka, termasuk dengan menuliskan berbagai macam puisi bertema luka.

Puisi tak hanya sebagai wujud dari karya literasi, namun juga sebagai salah satu wujud kreasi, dimana puisi adalah sebentuk kretivitas guratan hasil dari pengalaman indrawi seorang penulis.

Bacaan Lainnya

Pembaca dalam hal ini memiliki kedudukan sebagai seorang penafsir yang memiliki hak untuk memberikan makna pada karya sastra yang menjadi objek pemahamannya.

Karya sastra sendiri merupakan hasil dari budi dan daya manusia yang pengaruhnya telah terbukti mampu mengubah dunia.

Bukan hanya sebatas ratapan kekecewaan, arena meluapkan rasa hampa, sedih, senang, sunyi, sakit dan segala luka-luka yang telah akrab di beberapa karya.

Tetapi tidaklah salah jika menjadikan puisi sebagai media penyalur rasa, maka dengan demikian puisi dapat menjadi salah satu obat penghibur lara.

Berikut ini Litera News kutip dari beberapa puisi bertemakan cinta karya Ayub Kumalla (@Kecoa_rindu) dalam buku himpunan puisi “Senja Gugur di Matamu” yang diterbitkan Al-Qalam Media dan karya Hendrik Candra (@Mujahid_Berpena) dalam buku himpunan puisi “Luruh” yang diterbitkan IDM Publishing.

Puisi – Puisi Bertema Luka Karya Ayub Kumalla

Berikut ini puisi-puisi pendek karya Ayub Kumalla tentang luka karena kehilangan. Puisi yang bernapaskan kepiluan ini semoga dapat memberikan sebuah gambaran atas sebuah pengkhianatan.

(1) Aroma Dusta

Kau tumpahkan lagi di cangkirku

secangkir cinta beraroma dusta

yang kau racik penuh bahagia

dan kuteguk dengan segenap duka.

; terima kasih, Cinta.

Sidomulyo, 25 Mei 2012

(2) Senja Gugur

Kita masih di sini menimang embun

merasakan sengat siang di pematang

mendengar jerit ayam jantan selepas malam.

Manakah paling kau suka?

Senja yang gugur di matamu

ataukah bulan tertusuk pada senyum cantikmu.

Pulau Sebesi, 12 Desember 2016

(3) Dikau

Sukmaku meminta

Bunga-bunga penghias hari

Mengharumkan kalbu

Menunggu

tak tentu jua riuhnya,

tak pasti jua nadanya.

Wahai, dikau. Kemanakah

kau labuhkan mimpi?

Pada embun ataukah debu?

Pulau sebesi, 01 Desember 2017

(4) Mata Puisimu

Memanggil Gelap

Gigil juga lembab

Harapan silih berganti menatap

Serpihan Kenangan tercatat

di kilau mata puisimu nan mengkilap

ada hasratku meski tuk sekejap

meski akhirnya aku pun meratap

biar tuntas usai terucap

; rinduku menyecap.

Sidomulyo, 01 Januari 2017

(5) Malam dan Api

Malam ini kubiarkan kekasih

menarikan dingin di tubuhnya

berselendangkan angin

dihidupkannya api

bermain bersama gairah sunyi

kerlip matanya mengundang birahi

bersamaan dengan unggun ditebarnya ilusi.

Jemari Lentiknya terus menari

mereka-reka mimpi

menjengkali diri

dalam remang bunga-bunga api.

Malam ini. Ingin kusiasati

dengan petikan gitar atau kecapi

kusenandungkan lagu-lagu elegi

menitah malam yang luruh

mendentingkan harmoni

menjaring impian bercampur dendam

menjadikan demam karena cinta tak mau kembali.

Dan aku seperti bunga api yang perlahan layu

terpercik sendiri.

O, betapa sulit menggapai angan

bila cinta sebatas permainan bocah

yang memberi luka pada rerumputan

maka diinjaknya, diracuni, dilupakan

adalah laksana mati dalam dekapan rembulan.

Sidomulyo, 03 Juli 2017

Puisi – puisi Menikmati Luka Karya Mujahid Berpena

Selanjutnya merupakan puisi-puisi karya Hendrik Candra atau yang lebih dikenal sebagai Mujahid berpena. Puisi-puisi yang mengusung tema Luruh ini mewakili isi hati setiap hati yang tengah merasa rapuh.

(1) Perihal Puisi

Perihal puisi;

adalah wangi tubuhmu yang patah-patah kubaca.

Ada semburat jingga yang gugur pada kaki langit;

kala kita berubah jadi tiada, berubah air mata.

Perihal puisi;

adalah gigil jiwamu yang lamat-lamat kupandang.

Ada hujan yang gugur; luruh ke bumi,

dengan harapan pengorbanannya

tak sia-sia dan terabai lagi.

Perihal puisi;

adalah rahasia jiwa kita yang saling disembunyikan.

Ada aku yang menulis namamu di setiap malam dan

ada engkau yang mendekap nama lain diam-diam.

Kita terlalu takut untuk jujur;

bahwa cinta telah paripurna bertahta;

masing-masing di relung hati kita

Lampung, 23 April 2019

(2) Pudar

Ada rindu yang diam-diam dingin perlahan;

lalu, binasa kemudian.

Semisal embun pagi ini

yang diusir hangat sinar mentari;

gugur, menguap hilang.

Hati kita diam-diam patah;

tak memahami kekata satu dan yang lain.

Saling menyerah pada puncak saling ingin.

Berdua pada kebisuan;

kita ikrarkan sumpah perpisahan.

Lampung, 12 Februari 2019

(3) Palsu

Bila aku tak lagi rumah

dan hanya serupa tempat singgah

maka segera pergilah

kita menjelma kepura-puraan

yang saling menginginkan

untuk kemudian menjadi

sungguh-sungguh yang menyakitkan

Lampung, 10 September 2019

(4) Lelah

Selepas senja yang kesekian;

kita masih saja tanda tanya.

Yang tak terjawab;

bibirmu bungkam ditelan jarak

sementara hatiku memintal

bilik rindu untukmu pulang.

Dukaku sempurna;

kita yang masih miseri;

antara bibit yang akan tumbuh

ataukah tempat semainya yang tandus.

Aku berjudi;

dengan hati sebagai taruhannya

membangun harap yang samar

adalah jawaban pastinya.

Lampung, 14 September 2019

(5) Sejarah

Mendung itu tak datang dari keinginan semesta;

tapi ia lahir dari kesakitan dua hati manusia.

Berbicara senja;

ia hanyalah fatamorgana;

semisal bunga;

mereka sesaat layu;

hidup sekejap lalu terbunuh.

Dinasti raja-raja dalam sejarah dunia pun runtuh;

bukan karena musuhnya yang kuat;

namun sebab orang-orang dalam

yang korup dan khianat.

Kita menjelma sejarah;

sempat bersama dan sesaat bahagia;

untuk kemudian berubah kenangan dan luka-luka.

Lampung, 25 Maret 2019

BACA JUGA: 8 Contoh Puisi Romantis Tema Pertemuan Penuh Makna

Itulah puisi – puisi bertema tentang luka yang begitu memilukan. Semoga dapat mewakili hati dan perasaan, juga sebagai renungan bahwa luka dan kebahagiaan selalu berjalan beriringan dalam kehidupan kita. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *