Pengabdian Desa Binaan Universitas Lampung di Pekon Teluk Kiluan Negeri Tanggamus, Pembelajaran di Tengah Covid19

  • Whatsapp
Pengabdian Desa Binaan Universitas Lampung di Pekon Teluk Kiluan Negeri Tanggamus, Pembelajaran di Tengah Covid19
Pengabdian Desa Binaan Universitas Lampung di Pekon Teluk Kiluan Negeri Tanggamus, Pembelajaran di Tengah Covid19

Litera News – Universitas Lampung gelar pengabdian desa binaan di Pekon Teluk Kiluan Negeri, Tanggamus 2 – 3 September 2021.

Tim pengabdian yang diterjunkan adalah Andi Windah, S.I.Kom., MComn&MediaSt dari Ilmu Komunikasi dan merupakan Kaprodi DIII Perpustakaan / FISIP. Dalam hal ini sebagai ketua tim pengabdian.

Bacaan Lainnya

Selanjutnya Purwanto Putra, S.Hum., M.Hum, Ilmu Perpustakaan dan Informasi yang merupakan Dosen DIII Perpustakaan / FISIP.

Terakhir, Renti Oktaria, S.Pd.I., M.Pd, Pendidikan Anak Usia Dini yang merupakan Dosen S1 PG-PAUD / FKIP dan Risky Prabowo, M.Kom, Ilmu Komputer yang merupakan Dosen S1 Ilmu Komputer / FMIPA.

Dijelaskan Andi Windah, ketua tim pengabdian, di tengah berkembangnya pembelajaran abad 21, seluruh negara di dunia dilanda pandemi Covid-19 yang telah membawa dampak bagi kehidupan.

Perubahan yang terjadi setelah pandemi Covid-19 ini tidak akan membawa kita kembali ke masa sebelumnya, justru mengajak kita untuk bersahabat dengan gadget dan internet, serta menuntut adanya kesadaran untuk memiliki kemampuan Literasi informasi oleh semua khalayak terutama para guru (Oktaria & Putra, 2020).

“Kondisi ini seakan memaksa kita untuk menerapkan 21st Century Skills tanpa terkecuali,” kata dia.

Idealnya pembelajaran guna membekali peserta didik dengan 21st Century Skills yang diadakan di lembaga PAUD, sesuai dengan prinsip dan umumnya dilakukan selama ini adalah melalui tatap muka langsung, bermain dan pada hal-hal yang bersifat menyenangkan (Mukhlisoh, 2020).

“Namun dengan kondisi pandemi membuat semua orang harus beradaptasi. Maka dari itu, profesi guru dianggap panggil dekat dalam menerapkan 21st Century Skills,” ujarnya.

“Ini karena guru sebagai salah satu komponen pendidikan merupakan bagian dari sistem yang akan sangat menentukan keberhasilan pendidikan dan juga memberikan dampak pada masyarakat lainnya,” kata dia lagi.

Hal ini berarti, keberhasilan pendidikan terletak pada mutu pengajaran, dan mutu pengajaran tergantung pada mutu guru (Supartini, 2003).

“Inti dari kegiatan pendidikan adalah proses interaksi belajar mengajar,” jelas Andi Windah.

Tak sampai disini, dijelaskannya juga, bahwa, proses interaksi belajar mengajar adalah suatu upaya untuk mencapai tujuan pendidikan, akan tetapi telah berganti menjadi pembelajaran daring selama satu tahun ini.

Sebagaimana dikatakan oleh Turner, pengajar di Wilmington, Delaware, bahwa model pembelajaran online sangat berpotensi untuk menghilangkan unsur-unsur pembelajaran sosial emosional.

Pembelajaran sosial emosional adalah prioritas termasuk bagi anak usia dini (T. Walker, 2020).

Apabila seorang guru menguasai 21st Century Skills, dimana ada sederet keterampilan yang mencakup enam keaksaraan dasar (literasi dasar), empat kompetensi dan enam kualitas karakter, maka sudah pasti terjadi peningkatan kualitas diri, dan berdampak luas bagi masyarakat sekitar.

“Fakta lain yang dihadapi guru adalah selalu dituntut untuk kreatif, inovatif, dan imajinatif dalam merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran untuk anak usia dini di setiap kegiatan belajar baik di dalam kelas maupun di luar kelas,” urainya.

Dalam praktiknya, tuntutan ini tidak berjalan sesuai harapan. Sebagaimana penelitian yang menyatakan bahwa masih banyak guru yang belum memiliki Literasi informasi digital, terutama guru PAUD (Amilia, 2019).

Untuk itu, kebutuhan di setiap sekolah atau setiap individu guru untuk memiliki kemampuan Literasi informasi yang juga menjadi faktor utama (Windah, Putra, Oktaria, & Yulistia, 2020).

Hal sejalan dengan hasil penelitian terdahulu yang menyatakan bahwa untuk menyikapi ledakan informasi yang saat ini terus berkembang diperlukan sebuah strategi Literasi yaitu information literacy skills (Saepudin, Agustini Damayani, & Sukaesih, 2017).

Strategi ini dimaknai sebagai kemampuan untuk mengenali adanya kebutuhan informasi sebagai kemampuan untuk mengenali adanya kebutuhan informasi dan kemampuan untuk menempatkan, mengevaluasi dan menggunakan informasi dengan efektif.

Dalam perspektif yang berbeda, selain untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, perkembangan teknologi juga dijumpai dalam beberapa kasus, di antaranya:

(1) terdapat konten web di internet yang tidak mendidik dan menyebarkan isu negatif;

(2) pengguna internet khususnya anak-anak dan remaja terkena dampak negatif dari perkembangan teknologi, seperti anak terperdaya dengan internet;

(3) adanya pelanggaran etika menyajikan informasi, mengakses dan mengadopsinya;

(4) internet dianggap oleh sebagaian kalangan sebagai  hal  yang  baru,  sehingga  hal  ini  menimbulkan  kecanduan internet; dan

(5) berbagai aktivitas illegal, yang bebas seakan tanpa aturan pun masih marak saat ini.

Seperti halnya di Pekon Kiluan Negeri, Kecamatan Kilumbayan, Kabupaten Tanggamus, desa yang terkenal dengan lumba-lumba dan ekowisatanya ini memang maju secara wisata, namun para gurunya hampir tak pernah mendapatkan pelatihan seputar literasi informasi yang mumpuni.

Jika pun ada, maka pelatihan tersebut terpusat di kabupaten dan Pekon Kiluan Negeri, Kecamatan Kilumbayan, Kabupaten Tanggamus hanya mengirimkan perwakilannya.

Fakta lainnya juga didapatkan melalui pra-survei  bahwa minimnya pengetahuan akan literasi informasi untuk meningkatkan kualitas hidup di desa tersebut, ditandai dengan tidak  adanya pelatihan yang mengusung 21st Century Skills dalam lima tahun terakhir.

Bahkan berdasarkan wawancara dengan Habibi (staff sekolah satu atap Pekon Kiluan Negeri, Kecamatan Kilumbayan, Kabupaten Tanggamus) menyatakan bahwa tidak pernah ada pelatihan yang seperti ini.

Dalam pelaksanaannya, ada kesenjangan antara perkembangan zaman dan arus informasi yang cepat dan luas dengan kompetensi guru yang tidak selalu berjalan beriringan.

Sebagaimana penelitian relevan yang menegaskan bahwa kesenjangan yang terjadi saat ini adalah kesenjangan digital yang terkait dengan kesetaraan memperoleh peluang mengakses informasi dan sumber-sumbernya secara benar (Yusup, M Pawit; Saepudin, 2017). Maka diperlukannya penanganan komprehensif berupa pendidikan dan pelatihan.

Sosok guru di sekolah maupun di masyarakat masih memiliki peran penting sebagai garda terdepan untuk mentransformasikan pengetahuan dan teknologi kepada peserta didik, orang tua dan masyarakat di sekitarnya.

Maka tidak diragukan lagi bahwa pengabdian ini dirasa sangatlah penting untuk mengajak seluruh elemen guru PAUD dan Sekolah Dasar di Pekon Kiluan Negeri, Kecamatan Kilumbayan, Kabupaten Tanggamus menjadi relawan dalam konteks pengoptimalisasian kemampuan Literasi informasi melalui pelatihan 21st Century Skill.

Pelatihan keterampilan abad 21 yang akan diberikan untuk para guru relawan disana, nantinya bukan hanya dapat menunjang kegiatan pembelajaran daring, namun juga membantu mewujudkan sumber daya manusia yang unggul.

Sebagai wujud dari kebermanfaatan kami sebagai akademisi yang juga berkewajiban untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat, maka kegiatan pengabdian ini terlaksana.

Pengabdian ini melibatkan tim mahasiswa yang berasal dari tiga fakultas untuk memberikan kesempatan pada mereka merealiasasikan konsep kampus merdeka, dimana mereka akan terjun langsung memandu (mentoring) para guru relawan yang ada di Pekon Kiluan Negeri, Kecamatan Kilumbayan, Kabupaten Tanggamus selama beberapa hari sejak awal survey, pendampingan kegiatan dan setelah kegiatan untuk monitoring. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *