Lahir dari Garasi dan Kos-Kosan, Ini Cerita Co-Founder Bukalapak Soal Membangun Startup

Lahir dari Garasi dan Kos-Kosan, Ini Cerita Co-Founder Bukalapak Soal Membangun Startup

Tiga orang mahasiswa Informatika ITB angkatan 2004 yang hobi ngoding ternyata menjadi cikal bakal lahirnya salah satu platform e-commerce terbesar di Indonesia. Kisah itu diceritakan langsung oleh Muhamad Fajrin Rasyid, Co-Founder Bukalapak, saat hadir sebagai pembicara di acara Studium Generale ITB bertema ‘Membangun Talenta Digital’ pada Rabu, 30 September.

Fajrin bukan orang asing bagi kampus Ganesha itu. Ia kuliah S1 Informatika di ITB sejak 2004, lalu kembali lagi untuk menempuh program MBA angkatan 2021. Sebelum fokus di dunia startup, ia juga pernah menjabat sebagai Direktur Digital Business Telkom Indonesia.

Dalam sesi tersebut, Fajrin bercerita bahwa titik balik perjalanannya dimulai dari pertemuan dengan dua rekannya, Achmad Zaky dan Nugroho Herucahyono. Ketiganya sama-sama alumni Informatika ITB 2004 yang memiliki kegemaran serupa: membuat kode program dan aplikasi. “Bukalapak itu didirikan oleh tiga orang alumni ITB Informatika 2004 semuanya. Kami bertiga itu memang dulu semua geek begitu ya. Ya, kerjanya coding, bikin aplikasi yang itu kemudian menjadi awal, sehingga lahirlah Bukalapak di garasi atau kos-kosan di tahun 2009,” ujar Fajrin.

Ide awal Bukalapak sendiri muncul dari kebiasaan ketiganya berjual beli sepeda dan barang bekas. Dari situ, mereka melihat ada peluang besar untuk membuat marketplace — semacam pasar digital — yang mempertemukan penjual dan pembeli secara online. Bukalapak kemudian resmi berdiri pada 2011.

Di hadapan mahasiswa yang hadir, Fajrin menekankan tiga hal penting dalam membangun startup: visi yang jelas, strategi yang matang, dan bukti nyata bahwa produk sudah bisa dipakai orang. “Jadi, yang pertama, kamu harus memiliki visi yang jelas, tetapi kamu juga harus memiliki strategi dan bukti bahwa apa yang kamu sampaikan itu ada buktinya, sudah dibuat dan juga sudah memiliki user yang menggunakan produk itu,” ungkapnya.

Pesan Fajrin sederhana namun mengena: membangun perusahaan bukan soal menemukan ide cemerlang semata, melainkan soal kesediaan untuk terus mengembangkan, menguji, dan menyesuaikan ide itu dengan kebutuhan nyata masyarakat — proses panjang yang dimulai dari hal-hal kecil, bahkan dari sebuah kos-kosan.

Sumber: Detik.com

Baca Juga

Scroll to Top