Kumpulan Cerpen Remaja Singkat dan Menarik

  • Whatsapp
Kumpulan Cerpen Remaja Singkat dan Menarik
Ilustrasi Remaja/Pixabay/Candid_Shots

LITERA NEWSCerita pendek (cerpen) adalah salah satu karya sastra yang sedang banyak diminati oleh berbagai kalangan, khususnya remaja, contoh kumpulan cerpen singkat dan menarik yang digemari, terkait kisah inspiratif.

Salah satu dari jenis karya sastra setelah novel dan puisi ini memiliki daya tarik yang khas, salah satunya ialah habis dibaca hanya dalam sekali duduk.

Bacaan Lainnya

Berbeda halnya dengan novel yang mesti menghabiskan waktu yang lebih lama untuk menghabiskannya, begitu pula dengan puisi yang mesti memaknai lebih dari arti di setiap katanya agar menemukan makna yang tersembunyi.

Berikut ini kami sajikan cerpen-cerpen pilihan karya siswa-siswa SMA Negeri 1 Candipuro, Lampung Selatan. Selamat Menikmati:

Contoh Kumpulan Cerpen Remaja Singkat & Menarik Kisah Inspiratif

Berikut adalah kumpulan cerpen remaja singkat dan menarik berkisah inspiratif yang bisa dinikmati:

1. Bintang Hatiku, Karya Ayu Nur Indah

Mentari pagi bersinar, hawa yang sejuk dan pemandangan yang memanjakan mata. Semua itu terlihat saat kubuka jendela kamar. Semuanya begitu baik, keadaan lingkungan dan juga pemandangan alam yang sangat kusuka.

Maklum, karena tempat ini ada di desa kakekku. Berbeda sangat jauh dari keadaan tempat tinggalku, letaknya di pusat kota, banyak debu dan polusi.

Maka dari itu aku sangat senang saat berlibur semester tiba, karena disaat inilah aku dan keluargaku menyegarkan pikiran dan juga beristirahat dari rutinitas sehari-hari di kota yang begitu melelahkan.

Hari pertama di desa kakekku, aku ikut kakek pergi ke lading. Karena di tempat tinggal kakekku, mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani. Di lading, aku dan kakek bertemu penduduk sekitar. Kami saling menyapa, “Yeah …” seperti itulah kebiasaan penduduk desa yang ramah dengan sesama.

Setelah sampai, aku langsung bergegas membantu kakek. Kakek memintaku untuk menyiram tanaman sawi dan aku pun langsung menuruti perintannya.

Setelah selesai menyiram tanaman, aku pun beristirahat. Di gubuk yang letaknya tidak jauh dari lading kakekku. Karena pekerjaan kakek belum selesai, maka aku istirahat terlebih dahulu.

Saat duduk beristirahat di gubuk, ada seorang anak perempuan yang menarik perhatianku. Kira-kira umurnya tidak jauh berbeda denganku. Anak perempuan itu sedang membantu ibunya menyabuti rumput. Sepertinya dia anak yang baik, terlihat dari sikapnya saat berbincang dengan ibunya.

Tak lama kemudian, kakek datang menghapiriku, kakek pun beristirahat denganku. Karena aku penasaran dengan anak perempuan itu tadi, akupun mengorek informasi dari kakek.

“Kek,kakek kenal dengan anak perempuan itu?”

“Iya, Kakek kenal, memangnya kenapa?” Tanya kakek.

“Boleh kakek ceritakan sedikit tentang anak itu?” Pintaku.

Baca Juga: 8 Contoh Puisi Romantis Tema Pertemuan Penuh Makna

Kakek pun mulai bercerita,”Namanya Kanaya, dia anak yang baik. Dia selalu membantu pekerjaan ibunya. Dia juga berjualan gorengan di sekitar kampung untuk mencari nafkah sejak ayahnya meninggal dunia. Ibunya juga saat ini mulai sakit-sakitan, jadi dialah yang menggantikan posisi ayahnya sebagai kepala keluarga. Dia mencari uang untuk biaya hidup dan juga membeli obat untuk ibunya. Tetapi Kanaya tidaklah bersekolah, sebab terbatasnya biaya, uangnya hanya cukup untuk makan sehari-hari dan membeli obat ibunya”.

“Oh …, jadi begitu ya Kek ceritanya. Aku salut dengan dia, karena meskipun seorang anak perempuan, tetapi dia kuat dan tabah menghadapi semua cobaan hidup yang dialaminya”.

“ya begitulah. Kanaya adalah anak yang sangat luar biasa” Ujar Kakek.

Kemudian, dikarenakan hari sudah siang, kamipun pulang ke rumah. Setelah sampai di rumah, aku pun langsung mandi dan kemudian makan siang bersama. Selanjutnya, seteah sholat dhuhur aku duduk di depan teras rumah.

Tak lama kemudian, ternyata anak perempuan yang ada di lading itu saat ini melintas di hadapanku sedang menjajakan gorengan. Aku memanggilnya, “Mba …! Saya beli gorengannya” seraya melambaikan tangan. Kemudian ia pun menghampiriku.

“mau berapa Mba, gorengannya?” Tanyanya.

“Emm …, begini Mba, sebenarnya selain beli gorengan, saya juga ingin berkenalan dengan Mba. Apa boleh?”

“Oh, tentu saja boleh”. Jawabnya seraya melempar senyum.

Kami pun saling berkenalan. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Kakek, namanya adalah Kanaya. Dia sangat ramah dan murah senyum. Aku pun bertanya sedikit dengannya, “Maaf, kalau boleh tahu Mba sekolahnya di mana?”

“Saya tidak bersekolah, saya tidak memiliki biaya”.

“jadi mbak tidak bisa membaca?”

“iy”(seraya menundukan kepala).

”baiklah kalau begitu besok siang mb ke sini ya,nanti saya akan ajarkan mba membaca, menulis dan juga berhitung, bagaimana?”

“tentu saja mba, saya sangat mau, jadi mulai besok saya akan ke rumah mba”.

Baca Juga: Ulasan Drama True Beauty Episode 3: Lee Soo Ho dan Rahasia Lim Joo Kyung

Benar saja ,kanaya datang ke rumah.dia juga telah membawa buku dan juga alat tulis untuk belajar.Aku pun mengajari nya membaca,menulis,dan juga berhitung .Begitulah setiap harinya……. Kanaya selalu datang ke rumah ku untuk belajar,ia selalu bersemangat untuk belajar.

Tak terasa ,liburan semester ku tinggal 2 hari lagi .Aku dan keluargaku pun bersiap siap untuk kembali ke rumah.Rencananya ,sore hari baru kami akan pulang.Sebelum pulang aku menemui kanaya.Ia sedang berjualan gorengan di warung dekat rumah kakek ku.Aku pun menghampirinya .Aku berpamitan dengan kanaya bahwa aku akan pulang,dan aku mengatakan kepadanya bahwa aku sudah tidak bisa lagi untuk belajar bersamanya.

Kanaya bersedih saat mengetahui aku akan pulang,dan mungkin jika aku kembali ke rumah kakek ,itu pun pasti akan lama.tapi aku menenangkan dirinya dengan mengatakan bahwa aku akan kembali lagi saat libur sekolah tiba.

Kami pun salin berpelukan ,di situ kami menangis karena akn berpisah.Tapi kami yakin ,dan saling menguatkan satu sama lain ,kalau kami pasti akan kembali bertemu suatu saat nanti.

Aku pun pulang ,di dalam mobil aku masih teringat kepada kanaya ,karena dari nya ,aku mengerti apa artinya kehidupan yang sesungguhnya.Bahwa hidup  itu ,penuh perjuangan dan juga kesabaran untuk menggapai sesuatu yang kita inginkan.***

2. Sahabat Desa Seberang, Karya Adila Maria Ulfa

Pagi yang indah, aku bangun dari tidur nyenyakku dengan perasaan bahagia . Burung-burung berkicau seakan memanggilku untuk keluar dari rumah. Aku beranjak keluar dari rumah dan berdiri di halaman yang lebar, aku melihat seseorang mengendarai sepeda dengan santainya di depan rumah. Aku pun bertanya pada diriku sendiri “Sepertinya aku mengenali seseorang yang lewat di hadapanku”, tanpa pikir panjang aku menggapai sepeda yang ada di samping rumah, dan dengan cepatnya aku mengayuh sepedaku seraya bergumam “Siapa …? Siapa dia?”. Akupun semakin penasaran dari apa yang aku lihat tadi. Dengan tergesa-gesa aku mengikuti jejak perjalanan yang  hanya aku lihat sepintas, dengan penuh rasa penasaran aku berusaha mencari sosok tersebut.

Perjalananku belum usai untuk mencarinya, kususuri gang-gang di belakang rumahku dengan secepat-cepatnya. Kukayuh sepeda yang mulai rapuh itu karena termakan usia, aku tetap mengayuh tanpa memikirkan apa yang terjadi dan benar saja sepeda yang aku kendarai rantenya lepas dengan penuh dibasahi keringat dingin. Aku berusaha  untuk membenahinya, aku bingung  antara  harus berlari untuk mengejar seseorang tersebut atau meninggalkan sepedaku begitu saja “Itu tidak mungkin”, ujarku sambil membenahi sepedaku dengan terburu-buru. Dan tanpa pikir panjang aku menggandeng sepedaku dengan berlari sekencang-kencangnya. Dimana aku merasa sangat letih dengan napas terengah-engah dan aku memutuskan mengakhiri perjalananku  lalu berjalan untuk pulang ke rumah.

Pada akhir perjalananku, kutemui sebuah gang yang dipisahkan jalan raya yang lebar. Ternyata gang tersebut memisahkan antara desa tempatku dan desa sebelah yang jaraknya hanya terpisah dua rumah saja dari rumahku. Aku menyusuri gang tersebut, di situlah aku menjumpai orangyng kucari itu. Dia sedang berhenti di sebuah kedai dan sepertinya dia sedang bingung memilih sesuatu yang ingin dia beli. Atau ini hanya terkaanku saja. Dengan wajah yang masih kumal aku memberanikan untuk menemuinya, dengan segenap keberanian diri yang aku kumpulkan.

Baca Juga: Cerita Pendek Tentang Anak Rantau: Merantau ke Bulan

Aku memberanikan untuk mengajaknya berbicara “Hey, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?”, Tanyaku mengawali, “Dan maaf sebelumnya, saya mengganggu aktivitasmu” Lanjutku dengan ekspresi meringis sungkan.

“Ya, sepertinya aku tidak asing denganmu dan bahkan aku sepertinya sering melihatmu di depan rumah. Tapi tunggu …” Dia mengamatiku dengan cermat sebelum aku hendak menjawab pertanyaannya.

Aku diam sejenak karena aku terpaku melihat tatapanya, aku kembali bertanya kepadanya, “Maaf, apakah kau  mengenali  dan bahkan kenal denganku?”

“Ya, aku ingat sekarang. Kau mirip seperti sahabat baikku. Ataukah memang kau ini Maria? Temanku yang lama tidak jumpa” Ujarnya membuatku terkejut.

“Ya, benar” Ucapku sedikit ragu karena ingatanku belum sempurna untuk mengenalinya.

Aku mengamatinya dari atas hingga bawah,“Apakah kau  sahabatku yang bernama Lisa?”

“Iya, Maria. Ini aku” Jawabnya dengan kegirangan sambil menatapku.

Ternyata dia adaah Lisa sahabat desa sebrangku yang lama tidak bertemu karena urusan masing-masing. Dan di situlah kami ingat semuanya dengan penuh kebahagian. Menceritakan masa kecil yang kami lalui bersama, kami pun berjalan menuju gardu  sambil bercerita tanpa henti. kami duduk di gardu yang tidak jauh dari kedai tersebut, saat aku dan Lisa sedang asik bercerita, tiba-tiba saja ada yang menarik perhatianku dari arah timur. Rupanya sang surya mulai berjalan naik perlahan dan suhu yang begitu amat dingin berubah menjadi hangat yang menenangkan dengan waktu bersamaan. Aku teringat bahwa aku meninggalkan rumah begitu saja. Pasti orang tuaku mencari-cari. Untuk itu aku pun bergegas untuk pulang. Dan pertemuan kita hanyalah singkat. Aku melambaikan tangan kepada Lisa dengan penuh harap dapat menjumpainya lagi “SHORT MEETING THAT GIVES MEANING,I HOPE TO MEET  AND SIT WITH HER AGAIN (SEE YOU).”***

3. Meraih Kejora, Karya Ayu Nur Indah

Namanya pelangi,dia adalah anak dari seorang  tukang sapu jalan yang bercita cita menjadi seorang dokter. Meskipun ia adalah golongan dari kelas ekonomi menengah ke bawah, tetapi ia tetap berusaha untuk mewujudkan impiannya. Sejak duduk di bangku SMP , pelangi sudah mulai membantu pekerjaan ayahnya.setiap pulang dari sekolah,pelangi menemui ayahnya ditempat ayahnya bekerja. Ia membantu pekerjaan ayahnya dengan semangat.

Pelangi,dia adalah anak yang baik.. dia selalu mengerti kondisi ekonomi orang tuanya. Kalau di fikir fikir,pelangi mungkin tidak bisa melanjutkan sekolah,namun pelangi adalah anak yang cerdas, jadi pelangi bisa melanjutkan sekolah hingga SMA dengan jalur beasiswa. Di SMA, Pelangi terkenal sangat jenius, karena ia hanya perlu waktu dua tahun untuk menyelesaikan pendidikan di SMA .

Setelah ia lulus SMA, pelangi sempat bingung , apakah dia akan melanjutkan kuliah kedokeran atau tidak. Ia berfikir, dari mana asal biaya yang akan dia dapatkan.. ayahnya hanya seorang tukang sapu jalan , sementara untuk biaya sekolah kedokteran pasti sangat mahal . tapi pelangi tidak putus asa, ia tetap berusaha sekuat tenaga,bagaimanapun caranya ia harus kuliah untuk menggapai cita cita nya.

Akhirnya, pelangi pun tetap bersikeras untuk kuliah. Dan ternyata ia dapat masuk ke fakultas kedokteran tanpa tes,sehingga ia mendapatkan beasiswa di fakultas kedokeran tersebut. Pelangi merasa sangat senang,dan orang tuanya pun merasa sangat bangga terhadap pelangi.

Kemudian, pelangi menjalani kehidupan dengan kesibukan kuliahnya. Tetapi selain sibuk kuliah, Pelangi juga menjalani profesi sebagai pedagang kue. Karena meskipun ia kuliah mendapatkan beasiswa, tetapiuntuk membeli buku dan keperluan hidup lainnya ia juga membutuhkan uang. Jadi, setiap pagi Pelangi menjajakan dagangannya di lingkungan kampus. Ia menjajakan kuenya sampai habis. Setelah itu ia baru kuliah.

Suatu hari, ada orang yang usil terhadap Pelangi. Saat Pelangi sedang berjalan menjajakan kue, teman kuliah Pelangi dengan sengaja menabraknya hingga akhirnya terjatuh dan akhirnya semua kuenya pun terjatuh berceceran di tanah.

Baca Juga: Kumpulan Cerpen Remaja yang Bermanfaat Untuk Dibaca

Pelangi begitu kesal, namun ia tidak marah, dia tetap bersabar dan cuek saja terhadap perlakuan temannya yang usil itu. Tapi nyatanya, kesabaran Pelangi malah membuat teman yang usil kepadanya semakin geram. Sehingga mereka malah membuat Pelangi semakin susah.

Pagi itu Pelangi seperti biasa, menjajakan kuenya. Tetapi saat di tengah perjalanan ia sakit perut, jadi ia pergi ke toilet dan menaruh dagangannya. Saat sedang berada di toilet, teman kampus Pelangi yang usil beraksi kembali untuk mengerjai Pelangi, bahkan lebih parah dari yang mereka lakukan sebelumnya. Mereka menaruh racun ke dalam kue milik Pelangi. Setelah itu, Pelangi keluar dari Toilet dan ia tidak tahu bahwa kuenya sudah ditaburi racun oleh temannya. Pelangi tidak merasa curiga sedikit pun dan tetap menjajakan kuenya.

Karena masih pagi, kue dagangan Pelangi cepat laku terjual. Karena para mahasiswa belum sarapan di jam-jam seperti ini. Pelangi meraa senang. Namun rasa senang Pelangi berubah menjadi kesedihan karena tiba-tiba saja mahasiswa yang tadi membeli kue dari Pelangi menghampiri Pelangi sambil marah-marah. Mereka menaku keracunan usai mengonsumsi kue dari Pelangi. Mereka pun minta ganti rugi terhadap Pelangi. Pelangi pun sangat sedih menghadapi kenyataan ini, karena uangnya yang selama ini ia kumpulkan dengan susah payah yang seharusnya digunakan untuk keperluan hidupnya, kini sudah habis untuk ganti rugi pada mahasiswa itu.***

4. Untaian Kasih, Karya Indah Fajar Agustin

Di dalam kelas, aku duduk di meja belakang sambil memandangi seorang pria kecil yang sedang bergurau dengan teman temannya. Apakah kau tau? Bahwa memandangi nya adalah hobi yang paling aku sukai hingga sekarang? Saat itu usia ku masih 9 tahun. Jika dipikir pikir, apa yang dirasakan seorang anak kecil ketika jatuh cinta? Sungguh itu lucu sekali bahkan akupun tertawa jika mengingatnya. Seusia itu, sebenarnya aku belum tahu apa apa, sungguh. Aku masih suka bermain, bahkan makan disuapi oleh ibu . Tapi lucu sekali, menginjak usia ku yang ke 9, aku melihat seorang pria kecil, yang membuat pandangan ku selalu tertuju kepadanya. Baiklah, apakah pada saat itu aku jatuh cinta padanya? Genit sekali!

Lamunan ku terpecah, ketika ada seseorang yang menyenggol bahu ku, dan aku sadari, bahwa dia sudah tidak lagi disana.

“Ada bu guru, sana ke tempat mu” ah iya, aku baru ingat bahwa tempat yang aku duduki ini adalah tempat pria kecil itu! Dan apakah kau tau, dia berbicara denganku tadi! Sungguh, rasanya senang sekali.

“e-eh iya, maaf” ujarku gugup, setelah itu pergi meninggalkannya.

Pria itu, namanya Arga. Sebenarnya aku tidak pernah berkenalan langsung dengannya, aku hanya tau namanya ketika guru mengisi absensi, dan ia menunjuk setelah nama itu di panggil. Aku juga tidak pernah berbicara dengannya. Namun, selalu saja muncul perasaan aneh ketika melihatnya.

“anak anak, kali ini duduknya berkelompok ya, ibu akan membaginya dan setiap kelompok, anggotanya 4 orang” himbauan bu guru membuat para siswa waswas, ada yang berdoa agar satu kelompok denan teman sebangku nya, dan ada juga yang berdoa agar jangan sampai satu kelompok dengan musuhnya.

Baca Juga : Cerpen Tema Kemanusiaan 1000 Kata (Bagian 2)

Dan, hal yang paling membuatku terkejut adalah, aku tidak menyangka duduk berkelompok dengan  Arga. Aku takut, sekaligus senang. Bisa bisa jantungku copot karena bisa sedekat ini dengannya. Semakin hari, aku semakin sering memperhatikannya dan perasaan aneh itu, membuatku senang dan aku mulai memikirkannya lalu memberanikan diri bercerita ke temanku.

“Nisa, aku mau ngasih tau kamu rahasia, tapi kamu jangan bilang siapa siapa ya?” bisikku dengan Nisa, teman kelompokku.

“oke, Airin mau cerita apa? Nisa janji nggak ngasih tau siapa siapa” kata Nisa.

Aku menghela nafas ku pelan, ini sangat berat untuk menceritakannya “Airin suka sama Arga, tapi Airin nggak tahu harus apa” jelasku dengan jujur saat itu. Maklum, di usia itu, aku masih sangat polos.

“kenapa nggak pacaran aja?” Tanya Nisa membuatku terkejut

“pacaran? Kan itu buat yang udah besar” timpal ku membuat Nisa tertawa.

“kamu suka sama dia kan? Kalau suka, boleh pacaran” ujar Nisa masih membuatku tak mengerti.

“jangan bilang siapa siapa ya Nisa, pokoknya jangan” kata ku memperingatkan Nisa.

Keesokan harinya, semuanya heboh. Teman teman melihatku dengan tatapan seolah mengintimidasi. Aku tidak tau, mengapa jadi seperti ini. Sementara saat aku melihat Arga, dia seolah kesal padaku, dan tidak mau melihatku. Saat aku bertanya, dia tidak mau menjawabnya, dan bahkan melarangku untuk terus mendekatinya. Aku sendiri pun heran, apakah sudah banyak yang mengetahui, bahwa aku jatuh cinta dengan pria kecil itu?.

“woy, Airin suka sama Arga” teriak salah satu teman ku, lalu aku terkejut.

Yah,benar saja, bahwa Nisa memberitahu teman teman bahwa aku suka dengan Arga. Tapi aku yang seusia itu tidak apa apa. Jika ditanya, aku jawab iya karena memang seperti itu rasanya. Jadi begitu, cinta monyet seorang anak berusia 9 tahun yang masih polos. Lucu sekali. Saking terlalu polosnya aku, sampai aku tidak menyadari, bahwa itu sungguh membuat Arga tidak nyaman.

Baca Juga : Cerita Fiksi dengan Tema Kemanusiaan (Bagian 1)

Semakin hari, Arga justru semakin membenciku, dan menjauh. Bahkan, dia sudah malas melihat ku. Kecewa, iya aku benar benar kecewa. Ternyata, aku menyukai seseorang yang membenciku dengan sangat dan bahkan melihat ku saja dia sudah malas.

“kamu awas ya kalau sampai melewati ini, jangan deket deket aku!” serunya sambil meregangkan mejanya. Jahat sekali ya, tapi aku masih tetap menyukainya. Dan saat itu, usia ku sudah berumur 11 tahun, sudah tahun ketiga, dia benci denganku, dan aku masih tetap menyukai nya. Dasar aku, anak kecil yang keras kepala, dan tidak pernah mau mengalah.

Aku duduk di bangku ku, sambil melihat wajahnya yang kesal, karena mendapat bagian duduk bersamanku. Aku menghela nafas, “kamu masih benci sama aku?”

“ya” jawabnya singkat.

“ya sudah, nanti juga kamu bakal suka sama aku juga, tunggu ya” kata ku, dengan penuh keyakinan.

“nggak mungkin” jawabnya tanpa melihat ku. Walaupun sedikit sakit sih mendengar seperti itu,aku sudah

Terbiasa dan aku merasa baik baik saja.*

Sudah beberapa tahun, tidak pernah bertemu lagi dengannya setelah aku lulus sekolah dasar, dan kita melanjutkan belajar di SMP yang berbeda. Rasa itu, entah lah aku tidak tahu lagi. Terkadang hilang, terkadang muncul dengan tiba tiba. Sampai aku bingung sendiri, usia ku sudah semakin besar, seharusnya aku tidak memikirkan dia, karena dia adalah kisah paling memalukan di masa kecilku. Iya, sekarang aku sudah sadar, dan jika mengingat itu, aku mulai geli sendiri. Namun sialnya, dia selalu muncul di pikiran ku dengan tiba tiba. Padahal aku malas untuk mengingatnya lagi.

Teman teman masa kecilku, mengajakku untuk datang ke reuni kecil kecilan yang diadakan mereka. Sialan! Aku bertemu dengannya, dia sekarang tampan, dan sangat manis. Tapi aku malu, sungguh malu sekali. Terlebih lagi, teman teman ku masih ingat dan mereka mengejekku.

Baca Juga : Kumpulan Puisi Hari Ibu, Cocok Untuk Ungkapan Cinta

“ga, ini loh pacar kamu dulu” celetuk salah satu temanku, dan rasanya aku ingin menampar bibirnya.

“males” jawabnya acuh tak acuh tanpa melihat ku.

Sifatnya ternyata masih seperti dulu, masih benci denganku dan malas sekali melihatku, padahal aku berharap bisa melupakan semua, dan bisa berteman baik. Tapi ternyata tidak, dia masih seperti yang dulu, begitu pula aku, yang masih menyimpan sedikit rasa walaupun tidak ingin mempunyainya.

Mulai hari itu, aku sangat berusaha untuk berhenti memikirkannya, berusaha tidak ikut chatting di grup alumni saat ada dia, berusaha untuk tidak mendengarkan kabar dari temannya yang satu sekolah dengan ku, intinya, aku berusaha untuk menghilangkan dia dari memori ku, karena aku sadar bahwa dia juga benar benar benci denganku, dan kita tidak pernah mungkin bisa berteman.

“pendaftaran terakhir SMA Cakrawala kapan?” tanya ku pada Mala.

Aku tidak diterima di SMA fav, perasaan ku sangat kacau. Rasanya begitu kecewa dan sebenarnya tidak ada niatan sama sekali untuk bersekolah di SMA itu.

“besok, oh iya pacarmu juga mau sekolah disini loh” jawaban Mala membuatku terheran, perasaan aku sedang tidak punya pacar.

“pacar apa sih”  ketus ku.

Mala tersenyum kepada ku “Arga, itu kan pacar kamu”

Astaga, dia masih ingat akan itu. Mala adalah teman SD dan SMP ku. Jadi, dia mengetahui semua kisah ku. Dia juga dekat sekali dengan Arga,dan terkadang masih meledekku.

“Mala, jangan gitu sih, itu dulu banget loh” gerutu ku membuat Mala tertawa.

“siapa tau, kamu clbk” ledek Mala lalu meninggalkan ku begitu saja.

Malam harinya, entah apa yang ada dipikiran ku, tiba tiba saja aku berinisiatif untuk memulai chatting dengannya. Aku sebenarnya takut, apakah dia akan meresponnya atau tidak. Di tahun tahun sebelumnya ketika aku berusaha berteman baik dengannya dan memulai chatting di whatsap, dia seperti acuh tak acuh kepadaku. Balasan darinya singkat sekali, dan sepertinya ia merasa terganggu.

Baca Juga: Litera News: Upaya Dakwah Literasi dan Menjadi Wadah Kreatifitas Anak Muda

Baiklah, ku beranikan diri untuk mengechat nya di Whatsapp dan responnya tetap sama seperti dulu. Singkat sekali dan tidak peduli. Tapi, setidaknya dia mau menyimpan nomorku, dan itu membuatku senang sekali. Dalam hatiku, aku memiliki angan untuk mendapatkannya lagi, dan aku pasti bisa.

Aku sangat terkejut, sekaligus tak percaya bahwa semakin hari ia semakin ramah padaku. Semesta, apakah hatinya bisa terbuka untukku? Dia berbeda sekali dengan yang dulu, sungguh. Bahkan aku mulai berani bercerita apapun kepadanya, dan dia meresponnya dengan sangat baik. Dan jujur, rasa yang dulu terpendam, kini semakin mendalam.

Aku melihat nya, saat hari pertama masuk sekolah, tidak pernah di duga, kami akan bertemu lagi setelah sekian lama tak berjumpa. dia sangat tampan dan tetap seperti itu. Pria kecil itu, tidak berubah. Tetap membuatku jatuh cinta kepadanya, dan aku selalu ingin melihatnya. Hati kecilku berharap, bahwa aku bisa memilikinya walaupun itu sulit sekali dan bisa jadi hanya sebuah angan ku saja.

“sombong nyaa” seorang pria berhenti di hadapan ku dengan senyum yang sangat manis, membuatku terbungkam dan sangat tak menyangka. Pertama kalinya, Arga menyapa ku.

“a-apasih” ujarku acuh karena aku bingung harus menjawab apa. Aku benar benar tidak percaya, akan seperti itu. Tatapan sinis dan raut wajah dingin itu, seketika hilang dan terganti dengan wajah yang ramah serta senyuman yang sangat manis,dan itu sungguh membuat ku senang. Ia tersenyum lagi kepadaku, lalu pergi begitu saja.

Semesta, apakah kau telah membuka hatinya? Semakin hari kami semakin dekat. Dan rasa bencinya, sepertinya telah berubah. Aku sangat bersyukur sekali, laki laki itu, ternyata sangat perhatian dan baik pada ku. Beda jauh dari tahun tahun sebelumnya dan aku mohon, jangan ubah sikap nya itu.

Malam ini, seperti biasanya aku memandang layar handphone sambil tersenyum. Aku senang sekali, ternyata sepertinya dia menyukai ku. Bukan, bukan terlalu halusinasi.

Baca Juga: Contoh Cerpen Sedih Tentang Kehidupan: Menjemput Rindu

Ini sungguh benar adanya. Dia selalu mencariku ketika aku tidak online di whatsapp, dia bahkan bilang rindu padaku. Semesta memang baik, perjuanganku selama ini ternyata tidak sia sia. Tiba tiba teleponku berdering, panggilan dari Arga, dan pastinya aku mengangkatnya.

“Airin” sapa nya dalam telepon itu

“iya Ga, kenapa? Kok tumben nelpon”

“Aku mau bicara serius nih” mendengar itu, tiba tiba hatiku tergejolak, jantungku seolah berdetak lebih cepat, dan berfikir bahwa setelah ini akan terjadi sesuatu.

“kamu tau nggak rin, kata orang, pelangi itu indah tapi menurutku, indanya pelangi nggak seindah hubungan kita, ya kalau kita pacaran sih. Jadi, kira kira kamu mau nggak jalin hubungan indah sama aku?” perkataan yang dituturkan Arga, membuatku terbungkam. Semesta! Terimakasih! Aku sangat senang sekali. Pria yang dulunya sangat membenciku,saat ini ia telah menyatakan rasanya walaupun tidak sepuitis di drama, tapi tidak apa apa, setidaknya, ini perjuanganku.

“Aku mencintaimu cukup sederhana kok, kamu mau kan menerima ku apa adanya?” lanjutnya, dan sedari tadi aku hanya bisa tersenyum.

“i-iya” jawabku dengan gugup.

“jadi, sekarang kita resmi nih ya” ujarnya sambil terkekeh.

“iya”jawabku pelan, rasanya aku seperti dilangitkan. Rasaku yang tersimpan dari dulu, ternyata kini diterimanya. Senyumanku terus mengembang. Menurutku, ini yang dinamakan cinta pertama, dan akan terus menetap dihatiku.

Mulai hari itu, kami menjalin hubungan yang baik. Sungguh tak menyangka, bahwa kisahnya akan seperti ini. Aku sangat berterimakasih pada tuhan, yang telah membuka kan hatinya untukku. Dari sebuah perasaann gadis polos yang lugu pada saat itu, dan kini rasanya tidak pernah berubah. Terimakasih semesta, engkau telah memberikanku kisah yang unik seperti ini. Aku akan mencintainya dengan tulus, dan akan terus seperti itu. Semoga, takdir ku selalu bersamanya.***

Demikianlah contoh kumpulan cerpen remaja singkat dan menarik tentang kisah yang begitu inspiratif untuk kita nikmati. Nantikan kumpulan cerpen remaja singkat menarik di edisi berikutnya. Salam literasi!

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *