Kisah Inspirasi Islami, TKW Indonesia Dirikan Pondok Tahfidz di Hongkong

  • Whatsapp
Kisah Inspirasi Islami
Ilustrasi Suasana di Hongkong/Pixabay/Raulplatino

LITERA NEWS – Kisah Inspirasi Islami tentang seorang Tenaga Kerja Wanita atau yang akrab disebut TKW ini datang dari Hongkong.

Sebuah perjuangan TKW yang sukses mendirikan Pondok Tahfidz di Hongkong. Kisah Inspirasi Islami ini datang dari Ustad Shodiq A. Waniarko dalam buku yang ditulisnya Ragu? Istikharah Dong! penerbit Mutiara Allamah Utama, Depok 2014.

Bacaan Lainnya

Pada halaman 195 di dalam buku tersebut, tertulis kisah para pelaku Istikharah. Dalam buku ini diceritakan tentang bagaimana seseorang memutuskan sesuatu dengan cara yang tepat, yakni memutuskan sesuatu dengan bimbingan Allah SWT.

Dalam cerita tersebut, Ustad Shodiq menuliskan tentang kisah inspirasi Islami yang datang dari TKW Hongkong. Namanya, Ibu Ningsih.

Penulis dan Ibu Ningsih ini bertemu di Bandara Hongkong. Saat dimana dia sedang dalam perjalanan memberikan tausiyah kepada para TKW dan muallah Macau dan Hongkong.

Ibu Ningsih ini berasal dari Ponorogo. Dijelaskan Ibu Ningsih merupakan sosok yang tegas, pantang menyerah, pintar memimpin organisasi, cekatan dan mudah bergaul dengan orang lain.

Bekerja di luar negeri bukan dijadikannya sebagai mengadu nasib, karena jauh dari keluarga di Indonesia. Di Hongkong justru Ibu Ningsih membuat bangga keluarga dan Indonesia.

Ini dari ide awalnya yang ingin mendirikan pesantren tahfidz. Namun terkendala sesuatu hal, termasuk dana operasional. Dari dana pribadi sampai bertemu dengan teman-teman yang satu pemikiran, lalu cukup menyewa tempat.

“Bagi saya pribadi, itu hal yang RUAR BIASA (luar biasa). Apalagi yang mendirikan seorang wanita biasa yang belum sempat merasakan nikmatnya bangku perkuliahan,” tulis Ustad Shodiq dalam bukunya dikutip Litera News.

Diceritakannya bahwa bentuk pondok yang dibuat Ibu Ningsih berbeda dengan pondok yang ada di Indonesia umumnya. Pondok Tahfidz ini menyewa apartemen, santinya tidak menetap, melainkan pulang pergi.

Santri-santri yang diajarkan ini merupakan para TKW yang memiliki tanggungjawab untuk bekerja dengan majikannya masing-masign di Hongkong.

Sementara guru-gurunya didatangkan dari segala penjuru dunia, tapi yang sering dari Indonesia dan Malaysia.

Baca Juga : Kumpulan Puisi Hari Ibu, Cocok Untuk Ungkapan Cinta

Ditulis dan diceritakan pula terkait masalah yang muncul ketika Pesantren Tahfidz ini sudah berkembang pesat, yakni Ibu Ningsih sempat terjerat kasus hukum di pengadilan Hongkong.

“Saya enggak perlu menyebutkan kasusnya apa? Yang jelas enggak melanggar syariah Islam, hanya sebatas pelanggaran hukum manusia. Saya sempat menemani beliau menenangkan hatinya,” tulis Ustad Shodiq.

Sebab, ditulis dalam kisah tersebut, hampir setiap minggu Ibu Ningsih harus keluar masuk pengadilan untuk diberondong puluhan pertanyaan.

Namun hebatnya, semua masalah tersebut tidak membuat semangat ibadahnya kendor. Justru sebaliknya, Ibu Ningsih semakin rajin beribadah, solat-solat sunnah dilahap semua. Apalagi solat 5 waktu.

“Dan yang enggak lupa dalam pembahasan sekarang ini, shalat Istikharahnya juga benar-benar dijaganya. Padahal kebanyakan dari kita kan kalau diterpa masalah besar, banyak yang copot imannya, pesimis,” tulisnya.

Maka luar biasa sekali yang dihadapi Ibu Ningsih, itikad beribadah dan membangun pondok pesantren Tahfidz dijalankannya meski harus berurusan dengan hukum di negara luar.

Semua yang dihadapi Ibu Ningsih ini berkat kekuasaan Allah SWT. Berkat pertolongan Allah, Ibu Ningsih bebas dari segala hukuman. Sampai pada akhirnya timbul keraguan dalam hatinya, antara kembali pulang ke Indonesia atau meninggalkan pondok tahfidz yang ada di Hongkong.

Solat Istikharah pun dilakukannya sampai 3 minggu kemudian, sekitar kira-kira setelah proses persidangannya selesai. Ibu Ningsih akhirnya mantap untuk memilih pulang ke Indonesia, walau harus meninggalkan pondok Tahfidz di Hongkong.

Ibu Ningsih memulai hidup barunya di negeri sendiri, dengan belum terbayang apa yang akan dilakukannya. Namun lagi-lagi atas kekuatan dan kekuasaan Allah, melalui istikharah yang terjaga yang dilakukan Ibu Ningsih, ia mendapatkan kepercayaan untuk mendirikan pondok pesantren di Ponorogo.

Ada banyak kalangan yang mewakafkan tanahnya untuk didirikan pondok pesantren. Inilah kuasa Allah yang tak pernah disangka oleh para hambanya.

Ketika Allah SWT sudah berkehendak, mau dari jalan manapun pasti bakal terwujud. Subahanallah… ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *