Ketika Barang Hilang di Masjid, Ini yang Dilarang Rasulullah

  • Whatsapp
Ketika Barang Hilang di Masjid
Ilustrasi Masjid/Pixabay/HansJuergenW

LITERA NEWS – Ada adab-adab yang harus dipahami oleh umat muslim ketika barang berharganya hilang di masjid. Baik itu mengumumkan maupun menemukan.

Tak hanya barang yang hilang, berita duka cita, sebagai bentuk kehilangan seseorang adab yang seharusnya dilakukan adalah tidak mengumumkannya di masjid.

Bacaan Lainnya

Namun saat ini masih ditemui yang mengumumkan lewat pengeras suara yang ada di masjid. Demikian juga bagi yang kehilangan barang.

Sebagian orang apabila kehilangan sesuatu dari miliknya, maka dia akan pergi ke masjid dan meminta orang yang berada di sana untuk mengumumkan melalui pengeras suara berita kehilangan tersebut.

Hukum Memberi Kabar, Ketika Barang Hilang di Masjid

Perbuatan semacam ini salah, sebab Nabi Muhammad SAW melarangnya.

Nabi bersabda, “Barangsiapa yang mendengar seseorang mencari barangnya yang hilang di masjid, maka katakanlah,

‘Semoga Allah tidak akan mengembalikannya kepadamu. Sebab masjid tidak dibangun untuk ini.” HR Muslim dari Abu Hurairah.

Dalam satu riwayat disebutkan, “Masjid-masjid itu dibangun untuk tujuan semula.” Imam An-Nawawi RA berkata, “Hadits ini mengandung beberapa faidah, di antaranya:

Larangan mengumumkan barang yang hilang di masjid atau mencari barang itu di dalamnya statusnya seperti jual beli, sewa menyewa, dan akad-akad sejenisnya, yaitu dihukumi makruh sebagaimana meninggikan suara di masjid.

Nabi Muhammad SAW bersabda,

“Sesungguhnya masjid itu dibangun untuk tujuan semula.”

Artinya, untuk berdzikir kepada Allah SWT, shalat, mempelajari suatu ilmu, dan berbincang-bincang dalam kebajikan dan sejenisnya.

Hukum Mengumumkan Kabar Duka Lewat Pengeras Suara di Masjid

Kehilangan bukan hanya barang, berita duka atau kehilangan seseoragn pun tidak diperkenankan untuk diumumkan di masjid, dalam hal ini mengumumkan berita duka cita dengan pengeras suara.

Ini termasuk perkara bid’ah di dalam masjid yang hukumnya di antara makruh dan haram, dengan istilah yang disebut dengan tabrir.

Tabrir artinya para muadzin membaca satu ayat dari surat Al-Insan di atas menara mengeraskan suara ketika atas kematian orang alim.

Ayat yang dimaksud ialah, “Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan, minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur.” (Al-Insan [76]: 5).

Masih banyak ditemui saat ini, ketika sebagian dari kita meninggal dunia, lalu orang-orang mengumumkan kematian itu lewat pengeras suara di masjid.

Perbuatan ini pada dasarnya menyelisihi sunnah, karena tidak sepatutnya masjid dipergunakan untuk kepentingan seperti itu.

Baca Juga: Adab di Masjid & 12 Bid’ah Kesalahan yang Kerap Dilakukan

Demikian dengan jual beli di masjid, itupun dilarang, memaknai sama dengan tidak boleh mencari barang yang hilang di masjid.

Namun memang sebagian orang masih ada yang melakukan jual beli di masjid, sebagaimana mengumumkan sesuatu hal di masjid.

Padahal Nabi telah melarangnya, sabda Nabi:

“Apabila kalian melihat seseorang berjual beli di masjid, maka katakanlah kepadanya, ‘Semoga Allah tidak akan menguntungkan (hasil) perdaganganmu’.” HR. At-Tirmidzi.

Baca Juga: Kisah Inspirasi Islami, TKW Indonesia Dirikan Pondok Tahfidz di Hongkong

Demikianlah yang perlu kita pahami hukum dalam Islam tentang ketika barang hilang di masjid. Semoga dengan informasi ini kita bisa lebih bijak dalam bersikap ketika kehilangan barang di masjid. ***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *