Contoh Cerpen Sedih Tentang Kehidupan: Menjemput Rindu

  • Whatsapp
Contoh Cerpen Sedih Tentang Kehidupan
Ilustrasi Contoh Cerpen Sedih Tentang Kehidupan/Pixabay/Skitterphoto

LITERA NEWS – Cerita Pendek dengan judul “Menjemput Rindu” karya Syarifah Ratu, SMA IT Ar-Raihan ini adalah contoh cerpen sedih tentang kehidupan.

Cerpen ini juga berkaitan tentang cerita fiksi tentang Kemanusiaan dan bertajuk tentang kerinduan. Cerpen tema kemanusiaan yang sedih menggambarkan suatu kehidupan ini merupakan tulisan pada antalogi Suara Rindu, yang diterbitkan ACT Lampung bersama Duta Pelajar Kemanusiaan.

Bacaan Lainnya

Menjemput Rindu ini juga menjadi contoh cerpen untuk anak SMA yang sederhana, namun memiliki kekuatan cerita yang teramat besar.

Tak hanya menjadi contoh cerpen sedih tentang kehidupan, namun para pembaca juga bisa memaknai arti pengorbanan dan kerinduan seseorang yang tengah dihadapkan masalah besar.

Mari simak cerpen Menjemput Rindu ini, sebagai contoh cerita pendek tentang kehidupan yang sedih.

Menjemput Rindu, Contoh Cerpen Tentang Kehidupan yang Sedih

SYARIFAH RATU (SMA IT Ar Raihan)

Madya menutup lembaran tugasnya. Ia tidak peduli dosennya akan mencak-mencak esok pagi karena tugasnya tidak usai. Peduli amat. Alih-alih melanjutkan, Madya memutuskan untuk mengambil laptopnya. Ia mengaktifkan aplikasi Skype dengan semangat. Sekarang pukul delapan, sudah menjadi rutinitasnya untuk menelpon.

Baru nada sambung pertama, panggilan dijawab.

Assalamualaikum, Madya.”

Suara yang menyejukkan. Madya menyukainya.

Wa’alaikumsalam, Kak.” Kini sepasang netra Madya dipenuhi binar, bahagia bisa berjumpa separuh hatinya yang terpaut jarak ribuan kilo dari kota yang didiaminya sekarang—meskipun hanya lewat layar komputer jinjingnya.

Sudah makan?”

“Sudah, kalau Kakak?”

Alhamdulillah, sudah.Tadi beberapa bantuan mulai diizinkan masuk.”

Madya menggigit bibir, tidak tahu harus membahas apa lagi. Ia hanya ingin menatap wajahnya saja lamat-lamat, tidak mau berbasa-basi. Sebenarnya, itulah tujuan asli Madya menelpon setiap malam. Ingin berbincang dengan kedok rindu di sela tugas akhirnya yang menumpuk, memanfaatkan waktu rehat sang tunangan yang singkat hanya untuk bertegur sapa.

“Madya?”

“Iya, Kak?”

“Kenapa diam?”

Eh?” Madya termangu, pandangannya berlarian—mencari alasan. “Madya bingung mau bahas apa, Kak.”

Suara tawa dengan nada yang sarat akan rasa lelah melesak masuk ke telinga Madya. Ah, ia jadi semakin rindu, kembali menanti-nanti waktu kepulangan si kakak.

“Aku rindu Indonesia, Dy.” Kini terdengar helaan napas. Raut wajah Madya berubah jadi penasaran. Kenapa Kakak tiba-tiba rindu tanah airnya?

Baca Juga: Kado Hari Ibu Untuk Calon Mertua, Balasannya OTW Nikah

“Kamu tahu, sudah dua kali bahu Kakak tertembak hari ini. Diserbu saat menolong warga sipil, dilarang masuk ke bangunan yang hampir rata dengan tanah. Padahal, ada nyawa yang harus ditarik keluar.” Madya bergidik, tidak bisa membayangkan bahu si kakak dihujam besi panas yang tajam sebanyak dua kali selama satu hari. Nyawanya benar-benar terancam.

“Banyak orang yang takjub ketika Kakak terus berjalan, mengabaikan peluru yang menembus bahu kanan, dengan belasan moncong senapan membidik kepala.” Si kakak melanjutkan ceritanya. Madya ingin sekali menenggelamkan wajahnya di bantal, menutup telinganya rapat-rapat atau menyuruh si kakak menghentikan ceritanya. Sayangnya ia tak sampai hati berniat begitu, maka ia kembali mendengarkan dengan saksama.

“Kakak tidak mau pulang saja?”

“Eh?” Raut wajah si kakak yang muncul di layar laptop tampak terkejut.

“Kakak tidak mau pulang saja?” Madya mengulangi pertanyaannya. Si kakak tersenyum tenang.

“Untuk apa pulang, Madya? Kakak pulang juga belum tentu mendapat pekerjaan yang menjanjikan. Tahun depan Kakak bebas tugas, sayang rasanya kalau harus mundur lebih awal. Di sini Kakak merasa pekerjaan ini mulia sekali. Memang dekat dengan kematian, tapi bukankah itu bagus agar kita selalu mengingat Allah dalam situasi apapun? Gajinya lumayan, tapi tetap tidak sepadan dengan nyawa yang jadi taruhan. Walaupun jika nantinya Allah ‘memanggil’ Kakak di sini, di lapangan yang Kakak cintai, di pekerjaan yang Kakak senangi, di tanah yang dirahmati, Kakak tak apa. Itu adalah berkah, Madya. Tidak semuanya bisa menjangkau tanah ini, tidak semuanya bisa mengakses tanah ini dengan leluasa. Kakak adalah orang yang beruntung.”

Baca Juga: Kisah Perjalanan Cinta Soekarno dengan 9 Istrinya

Madya mengangguk takzim.Jarang sekali si kakak berbicara panjang lebar seperti saat ini. Biasanya ia melemparkan pertanyaan remeh seperti sudah makan atau sudah mandi. Di akhir pembicaraan mereka, si kakak tersenyum lebar.

“Lain kali, kalau ada orang bertanya siapa nama pacar—eh, tunangan Madya dan kerjanya di mana, jawab saja dengan lantang, ‘Namanya Adnan Rusydi Rajendra, sekarang ia bekerja di tanah mulia, melakukan pekerjaan yang mulia pula.”

Madya terkekeh mendengar gurauan si kakak.

Sudah waktunya jaga lagi. Jangan tidur larut malam, Madya. Kamu tampak semakin mirip dengan panda setelah pipimu menggembul dan kantung matamu menebal.” Ledek si kakak yang membuat kedua bola mata Madya membulat.

“Kakak!”

“Bercanda. Sudah ya, sampai ketemu esok malam. Sampai jumpa. Assalamualaikum.”

Wa’alaikumsalam.”

Layar laptop Madya kembali kosong, yang tersisa hanya pantulan wajahnya yang sendu. Itu barusan adalah Adnan Rusydi Rajendra, pemuda yang sedang menjalani wajib militer dan ditugaskan di negara bagian Asia Tengah yang dilanda konflik. Madya memanggilnya kakak karena memang umur mereka dipisah jarak lima tahun. Meskipun tahun-tahun terakhir ini sibuk, Madya akan selalu mendukung Adnan. Itulah perkenalan singkat tentang Madya dan Adnan.

Baca Juga: Adab di Masjid & 12 Bid’ah Kesalahan yang Kerap Dilakukan

***

Madya adalah mahasiswi semester enam. Lucu rasanya ketika universitas tetap mempertahankan Madya ketika semangat kuliahnya mulai luntur. Bukannya apa, Madya sudah membulatkan tekad untuk menjadi sukarelawan di tempat si kakak bekerja. Madya tidak main-main. Uang jajannya selama satu semester dikumpulkan, hasilnya bisa dipakai untuk membeli tiket penerbangan kelas bisnis.

Omong-omong soal si kakak, sudah hampir sebulan Adnan tidak menelponnya. Setelah telepon terakhir itu, ponsel Adnan tidak bisa dihubungi. Berdasarkan berita yang Madya baca, si kakak sedang mengevakuasi sebuah daerah. Tentu saja semua alat komunikasinya ditinggalkan. Dan menurut situs berita yang Madya baca, hari ini adalah usainya proses evakuasi tersebut.

Maka setelah pukul delapan lewat sepuluh menit, Madya mulai menelpon si kakak. Dua kali nada sambung, panggilan dijawab.

Assalamualaikum, Kak.”

Tidak ada jawaban.Hanya terdengar gemerisik yang sedikit mengganggu pendengaran Madya.

“Kak?”

Wa’alaikumsalam! Ini Madya kah? Woi, Adnan, tuan puteri kau nelpon nih!”

Itu jelas bukan Adnan.

Baca Juga: Cerpen Tema Kemanusiaan 1000 Kata (Bagian 2)

“Ini Putra, teman Adnan bertugas. Adnannya lagi—eh, eh, apa-apaan?!”

Aish, kebiasaan Putra. Dia suka mengangkat telepon Kakak ketika ponsel ini luput dari tanganku. Maaf, Madya. Omong-omong, Wa’alaikumsalam.” Suara si kakak melembut ketika menjawab salam Madya. Jujur saja, Madya rindu bukan main.

“Apa kabar, Kak?”

“Alhamdulillah, baik sekali meskipun agak lelah. Oh iya, ada yang ingin Kakak perkenalkan padamu. Tolong nyalakan kameramu, ya.” Mendengar pernyataan si kakak, Madya buru-buru menarik selendang hitam dan melilitkan ke kepalanya.

“Say hi to Istan!” Kini tampak si kakak sedang memangku seorang anak kecil berumur 6 tahun. Matanya bulat dan hitam dengan bulu mata yang lentik, hidungnya mancung, rambutnya ikal—khas timur tengah. Ia tersenyum lebar ketika melihat wajah Madya muncul di layar.

“Kakak bertemu dia saat proses evakuasi, Dy. Sayang sekali, orangtuanya tidak selamat dalam penyerangan itu. Kakak tidak tahu siapa nama aslinya karena kepala Istan terbentur dengan cukup keras. Terlebih lagi anak seumuran dia harus menyaksikan kematian orangtuanya. Trauma otak, begitu kata dokter. Jadi Kakak beri dia nama Istan, sesuai dengan nama tanah ini.”

“Dia bisa bahasa Indonesia?”

“Mana bisa, Madyaaa,” ujar si kakak gemas. Ia tertawa sebelum melanjutkan, “Untungnya kemampuan berbahasa Inggris Istan lancar, jadi Kakak tidak perlu malu dengan kemampuan bahasa Arab Kakak.”

Kini gantian Madya yang tertawa. Si kakak selalu saja membuat mood-nya membaik. Adnan menyudahi sambungan telepon itu ketika Istan yang mulai menguap di pangkuannya.

“Are you sleepy, Istan? Wah, Istan mengantuk, Dy. Kakak tinggal dulu, ya? Selamat malam, Madya. Sampai jumpa. Assalamualaikum.” Madya tersenyum ketika si kakak mengecup kening Istan sebelum memutuskan sambungan.

Sejak hari itu, Istan selalu hadir setiap si kakak menelpon.

Baca Juga: Cerita Fiksi dengan Tema Kemanusiaan (Bagian 1)

***

Siapa sangka, mahasiswi semester tujuh yang hampir dikeluarkan dari universitas ternyata lulus dengan nilai hampir sempurna? Maka berdirilah Madya di hadapan para petinggi universitas yang menatapnya bangga. Usai sudah perjuangan panjangnya.

Ini semua berkat si kakak. Waktu itu Madya menceritakan keinginannya untuk menjadi sukarelawan di tempat si kakak bekerja dan berharap status mahasiswinya dicabut. Si kakak menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.

“Selesaikan kuliahmu, Madya. Kakak tidak mau dengar kamu putus kuliah. Sukarelawan tidak hanya butuh keberanian, tapi juga kecerdasan agar bisa menyusun strategi masuknya bantuan. Sia-sialah upaya yang dilakukan Raden Ajeng Kartini agar wanita juga mendapatkan kesetaraan dengan laki-laki. Ingat perjuangannya, Madya. Susah payah ia menentang budayanya, keluarganya, demi mencari ilmu. Tholabul ‘ilmi, Madya. Jangan lupa haditsnya.”

Bukannya Madya menomorsatukan si kakak, tapi memang dukungan moral si kakak lah yang membuat Madya bertahan selama ini. Umur sebelas tahun, ayahnya pergi dan tidak pernah kembali.

Tidak tahan melihat ibunya membanting tulang sendirian, Madya memutuskan untuk membuka cafe kecil di sudut jalan dekat universitasnya. Penghasilan dari cafe tersebut digunakannya untuk membayar uang semester, ditabungnya, juga dipakainya untuk membayar jasa pemakaman ibunya.

Madya tidak pernah berhenti berpikir bagaimana ia bisa sekuat itu menjalani hidup. Mungkin karena hadirnya rasa syukur setiap ia menghela udara subuh, atau karena sujudnya setiap sepertiga malam. Yang Madya tahu, adilnya Tuhan tidak pernah main-main.

Wisuda Madya berlangsung sehari sebelum kepulangan si kakak ke Indonesia. Setelah acaranya usai, Madya mengemasi baju-bajunya untuk menjemput si kakak. Ia sengaja tidak menghubungi si kakak sejak dua hari yang lalu, berniat memberikan kejutan.

Baca Juga: Tips Menulis Bagi Pemula, Gunakan Hati Agar Sampai Hati

Keinginannya untuk berjumpa dengan si kakak membuat perjalanan Madya tidak terasa sama sekali. Ia sampai, dan Madya semakin gugup saja ketika merasakan langkahnya semakin dekat dengan si kakak.

Madya mencari alamat tempat camp  Adnan berada. Begitu sampai, yang ia temukan hanyalah tenda yang sudah rata dengan tanah. Madya tidak mengerti, setidaknya sebelum kedatangan belasan ambulan yang sirinenya berdengung di kepala Madya.

Tidak. Tidak mungkin.

Polisi yang sudah tiba langsung memasang garis pembatas agar tidak ada orang yang mendekati tempat kejadian. Madya mendekati salah seorang tim medis yang baru turun dari ambulan.

Excuse me, Sir. What happened?

This place bombed 2 hours ago. Please stay away, Ma’am.

“Wait, Sir!” Madya mengejar tim medis yang ia tanyai tadi. “Is anyone survived?

No one, except a little boy in my ambulance.

Madya berlari menuju ambulan yang disebutkan dan menemukan Istan yang terduduk dengan beberapa luka di tubuhnya.

“Istan! Are you okay?” Istan tidak menjawab, tangan Madya terulur untuk memeluk Istan yang mematung. Madya mulai tergugu di pundak kecil Istan. Harapannya sirna. Adnan pergi, menyisakan rindu yang entah mengapa justru menyiksanya.

Tangan Istan bergerak menepuk punggung Madya, berusaha menenangkannya. Meskipun ia hanyalah anak berumur 6 tahun, Istan tahu bagaimana rasanya kehilangan.

“Kak Madya? Kak Adnan ever said to me, ‘Laa tahzan, innallaha ma’ana’. Don’t worry, Allah beside us.

Madya jadi tahu ada cinta yang lebih besar dari miliknya terhadap Adnan. ***

Itulah contoh cerpen sedih tentang kehidupan yang bisa kita pelajari dan nikmati. Semoga menghibur dan bermanfaat. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *