Cerpen Tema Kemanusiaan 1000 Kata (Bagian 2)

  • Whatsapp
Cerpen Tema Kemanusiaan 1000 Kata
Ilustrasi Cerpen Tema Kemanusiaan 1000 Kata/Pixabay/PublicDomainPictures

 

LITERA NEWS – Ini adalah contoh cerita pendek atau cerpen tema kemanusiaan dengan panjang tulisan 1000 kata. Cerita fiksi tentang kamanusiaan ini ditulis Hasannudin, siswa SMA Negeri 1 Padang Cermin – Lampung.

Bacaan Lainnya

Judul cerpen tema kemanusiaan yang ditulis kurang lebih 1000 kata ini berjudul BOM PEMIKIR UNTUK KEMANUSIAAN”. Cerpen ini merupakan hasil karya antalogi Duta Pelajar Kemanusiaan (DPK) Aksi Cepat Tanggap (ACT) Lampung.

Inilah cerpen tema kemanusiaan 1000 kata yang cocok juga menjadi contoh untuk belajar membuat cerpen kemanusiaan SD, SMP, SMA dan bahkan mahasiswa.

Contoh Cerpen Tema Kemanusiaan 1000 Kata, Judul: Bom Pemikir Untuk Kemanusiaan

Hari ini indah sekali. Ada hujan yang mengajakku untuk terlelap. Tetapi ada saja yang mengganggu persiapanku untuk tidur pada cuaca yang mendukung ini. Suara gaduh dari handphone membuatku gagal untuk tidur. Christopher menghubungiku.

“Kamu jadi mengantarkan aku, San?” suara Christopher terdengar dari seberang.

“Iya jadi, Chris. Tapi nanti ya nunggu hujannya reda. Oh, iya mau berangkat jam berapa dari sini, Chris?” aku balik bertanya pada Cristopher.

“Iya tunggu hujan reda saja, San. Jam 5 sore saja, ya, nanti aku berangkatnya sekitar jam 8 malam,” jawab Christopher.

Christopher adalah teman sekelasku. Dia adalah orang Medan, sehingga kalau berbicara kental dengan logat Bataknya. Dia ingin pergi ke Jakarta karena dia mendapatkan undangan untuk berkumpul dengan artis-artis dunia maya. Memang Christopher tidak memiliki cita-cita untuk menjadi artis. Tetapi itulah dia sekarang. Dia menjadi orang beken pada dunia yang abstrak namun nyata.

Telingaku mendengar panggilan Ilahi. Adzan ashar berkumandang di mana-mana. Aku beranjak dari tempat tidurku untuk menjejakkan kaki pada lantai dan membuat tanda pada wajahku dengan air wudhu. Aku angkat tanganku. Ku hadapkan wajahku pada wajah-Nya. Kutunaikan sholat ini dengan khusyuk mengharap keridhoaan-Nya. Kuakhiri dengan menengok ke kanan dan kiri seraya mengucap salam.

Aku bingung mengapa aku bisa di tempat ini. Aku berada dalam suasana yang sulit. Aku melihat banyak cairan berwarna merah dan anyir. Melihat banyak orang mati terbunuh karena ketidakberdayaan.

Baca Juga: Cerita Fiksi dengan Tema Kemanusiaan (Bagian 1)

Jenazah ada di mana-mana. Bahkan di sungai penuh darah manusia yang dibantai tanpa belas kasihan. Di lain tempat aku mendengar suara gaduh dan kasar memecah telinga. Aku melihat anak kecil yang seharusnya masih meminum susu ibunya menjadi korban keganasan. Anak-anak yang semestinya menghabiskan masa bermainnya ikut unjuk gigi untuk melawan penganiaya.

Mereka para penginjak bumi yang tidak sah menggunakan senjata canggih, Tank-tank anti peluru. Manusia yang dalam kesulitan itu terus ditindas, diserang dari segala penjuru. Tiba-tiba bom meledak dan membuatku terlontar. Seketika aku terbangun dan membuka mata. Kulihat sekeliling, ternyata aku masih berada di tempat sholat. Tiba-tiba kuteringat kata guruku, tidak baik jika tidur di waktu ashar.

Suara khas rintikan hujan sudah tidak terdengar. Aku membereskan tempat sholat dan bergegas untuk bersih diri dengan air yang dingin karena suhu hujan yang tertinggal. Aku mengganti pakaian dan segera menghubungi Christopher. Kukatakan padanya bahwa aku sedang bersiap-siap untuk mengantarkannya.

Aku mengeluarkan motorku dari kandangnya. Aku melihat bahan bakar dan gas yang terisi pada roda kendaraanku. Aku memang terbiasa seperti itu untuk mengurangi risiko yang tidak diinginkan. Aku menekan tombol start untuk memulai laju pertamaku.

Di jalan yang hitam masih tersisa genangan air yang turun dari langit. Aku merasakan angin dingin menerpa masuk ke dalam tubuhku. Aku lupa memakai jaket. Aku kembali ke istanaku untuk mengambil jaket dan segera mengenakannya. Lalu bergegas menuju rumah Cristopher.

Baca Juga: Kumpulan Puisi Hari Ibu, Cocok Untuk Ungkapan Cinta

Aku berada di depan rumah Christopher. Ada seekor anjing penjaga rumah yang menggonggongiku. Kuteriak memanggil namanya. Tetapi justru anjingnya yang menyahut.

Kupanggil sekali lagi. Anjing itu terus menggonggongiku sampai akhirnya Christopher muncul dengan mengenakan kaos putih dan celana pendeknya. Sepertinya dia baru saja selesai mandi dan belum siap untuk berkuda.

Aku duduk untuk menunggu Christopher di kursi empuk yang ada di teras rumahnya. Sebenarnya dia menyuruhku untuk masuk tetapi aku tidak mau. Aku memegang gadget yang biasanya aku mainkan untuk menghilangkan rasa bosan. Tetapi kali ini tidak ku mainkan, hanya kutimang-timang. Aku masih memikirkan apa yang aku alami saat tertidur setelah sholat ashar tadi.

Lamunanku seketika terhenti ketika Christopher muncul dengan jaket putih jeans abu-abu. Kami memulai perjalanan. Di atas kuda besi yang kami naiki Christopher menceritakan padaku tujuannya ke Jakarta dan aku hanya sekelumit bertanya.

“Nanti kamu di Jakarta mau tidur di mana, Chris?” Tanyaku sambil tetap fokus melihat jalan.

“Aku kan punya abang di Jakarta, San. Nanti aku dijemput abangku di Gambir. Tidur juga nanti di kontrakan abangku,” jawab Christopher dengan logat Bataknya yang khas.

Perut kami terasa lapar. Kami berhenti di sebuah rumah makan untuk mengisi ulang tenaga kami. Kami duduk bersamaan dengan datangnya percik hujan.

“Pas sekali ya. Untung kita berhenti di sini,” ujar Christopher sambil cengengesan.

“Iya, Chris,” jawabku singkat sambil tersenyum.

Sambil menunggu hidangan yang kami pesan ada berita yang menyampaikan tentang serangan yang terjadi di jalur Gaza juga masyarakat Rohingya yang teraniaya.

Jelas inilah yang menyebabkan buyarnya hak asasi manusia, yaitu salah satunya hak untuk bernyawa. Tetapi pada kenyataanya orang yang lemah begitu adanya, diinjak-injak tidak dipedulikan bagai tiada. Siaran itu membuatku kembali teringat pada lamunanku.

Baca Juga: Litera News: Upaya Dakwah Literasi dan Menjadi Wadah Kreatifitas Anak Muda

Hidangan yang kami pesan sudah kami santap. Hujan belum juga teduh. Christopher mengambil handphone dari saku jaketnya. Seperti biasa, dengan lincah jarinya bergerak-gerak di atas layar handphone.

Sudah bisa kutebak pasti dia sedang membuat video atau berswafoto untuk diunggah pada media sosialnya. Sedangkan aku terdiam, masih memikirkan mimpi itu.

Christopher memanggilku berkali-kali tetapi aku tidak mendengar. Karena kesal akhirnya dia memanggil seraya menepuk pundakku.

“Kamu kenapa, San? Bengong, kemasukan lalat nanti kamu.” Christopher berkata sambil menahan tertawa.

“Aku mau cerita, Chris. Aku tadi habis sholat ashar ketiduran terus mimpi. Masa aku ada di suatu tempat. Di sana banyak orang yang mati. Ada anak-anak kecil juga. Ngerilah pokoknya. Sudah itu tiba-tiba aku ada di bangunan yang hancur. Suara senjata, suara ledakan di mana-mana. Di mimpiku itu aku kena ledakan bom, sampai aku terpental jauh. Sampai aku kebangun. Makanya aku bengong, masih kepikiran terus. Kok tega gitu ya, seharusnya kita sesama manusia mesti memanusiakan manusia lainnya.” Jawabku panjang lebar. Kulihat ia begitu serius mendengarkan apa yang kuceritakan.

“Sudahlah, ayo berangkat. Hujan sudah mulai reda.” Aku berdiri menghentikan cerita.

Sambil berjalan aku menempatkan diriku pada posisi orang-orang yang berada ditengah ketidakadilan seperti dalam mimpiku. Bagaimana jika aku benar-benar terkena ledakan bom?

Tiba-tiba aku mempunyai ide untuk melakukan aksi kemanusian. Akupun meminta tolong pada Christopher untuk membantuku menggalang dana.

“Christopher, aku boleh minta tolong sama kamu enggak untuk menggalang dana. Kamu kan mau ketemu sama selebriti maya tuh. Nanti hasil galang dana kita sumbangkan kepada orang yang benar-benar memerlukan. Seperti pada berita sore tadi, Chris. Jangan sampai kita melakukan aksi kemanusiaan di saat bom sudah menyentuh kita.” Kataku sedikit merayu.

“Boleh juga tuh, San. Aku akan membantu kamu untuk menggalang dana. Aku pasti ingat kata-katamu, jangan sampai kita melakukan aksi kemanusiaan disaat bom sudah menyentuh kita.” Jawab Chris penuh dengan semangat.

***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *