Cerita Pendek Tentang Anak Rantau: Merantau ke Bulan

  • Whatsapp
Cerita Pendek Tentang Anak Rantau
Ilustrasi Anak Rantau/Pixabay/Free-Photos

  LITERA NEWS – Ini adalah cerita pendek tentang Anak Rantau karya Aji Rhamadhan Putra, dengan judul  Merantau ke Bulan.

Cerita yang ditulis Mahasiswa Politeknik Negeri Padang, Jurusan Teknik elektro, Prodi D4 Elektronika ini berceritakan tentang sebuah kampung yang berada di Sumatera Barat.

Bacaan Lainnya

Cerita tentang perantauan seseorang dari satu kampung ke kampung lain, dengan keindahan alam dan pesan moral yang sangat baik. Berikut contoh cerpen atau cerita pendek tentang anak rantau dengan judul Merantau ke Bulan.

Cerita Pendek Tentang Anak Rantau

Minangkabau sebuah suku yang mediami wilayah provinsi Sumatera Barat. Sebuah suku yang lekat dengan kuliner nya, tari piring, silat harimau dan yang paling penting sebuah suku yang mempuyai daya jelajah nusantara yang sangat tinggi.

Bahkan sebelum negara ini mempuyai nama dan bahkan sebelum negara ini dimasuki Belanda, orang minang sudah dulu menduduki Negeri Sembilan yang kini berada di wilayah negara Malaysia. Daya jelajah yang tinggi itu di sebut dengan merantau.

Sawahlunto merupakan salah satu kota yang berada di provinsi Sumatera Barat. Sebuah kota tua dimana dulu Belanda berteriak dengan lantang Gulden! Gulden! Membuat wajah Sawahlunto pada masa klonial menjadi Kota yang utama di Sumatera barat.

Ketika setumpuk emas hitam membuat kloni-kloni Belanda datang ke kota ini dengan berbondong-bondong merubah wajah kota ini dalama sekejap. Dibalik besar nya nama sang emas hitam tentu saja ada kekejaman disitu pekerja paksa yang menambang batubara dengan keadaan dirantai bekerja dari pagi sampai malam dan melekat lah pada pekerja paksa itu dengan nama Orang rantai.

Kini hanya sebuah kenangan, kota ini kini hanya seperti kota mati persediaan batubara dulu yang disebut-sebut sebagai kualitas batubara nomor satu kini sudah hampir habis, perekonomian kini nyaris tidak jalan.

Andrizal kini tinggal di kota ini, iya walaupun sudah hampir mati sisa-sisa kejayaan kota ini masih meninggalkan masyarakat yang cukup setia di kota ini.

“Zal? Zal? Kemana kitak ntik? Mau nonton kuda kepang ke? (Zal? Zal? Kemana kita nanti? kamu mau nonton kuda lumping?)”

Terdengar nyaring bahasa ciri khas Sawahlunto perpanduan antara suku Minang dan Jawa karena perkawinan Orang rantai yang berasal dari Jawa dan penduduk setempat yang merupakan orang minang. Bahasa Tangsi nama nya,dan lucu nya Tangsi itu sendiri berarti penjara.

Baca Juga: Kumpulan Puisi Hari Ibu, Cocok Untuk Ungkapan Cinta

“Nonton kuda kepang kitak ntik Zan? Jadi aja nyo (nonton kuda lumping kita nanti Zan? oke saja).”

Kuda lumping sendiri merupakan salah satu budaya khas yang ada di Sawahlunto karena perpaduan budaya Minang dan Jawa, dan suasana khas jawa masih sang terasa kental di sini.

“Tengok tu Zal si mbah lagi makan beling (lihat itu Zal si mbah sedang makan kaca),” ucap Fauzan di tengah pertunjukan kuda lumping.

Andrizal dan Fauzan masih tengah melihat pertunjukan kuda lumping yang memang banyak sekali menyita perhatian orang-orang. Tapi tidak tahu kenapa kali ini Andrizal menonton kuda lumping dengan  kejanggalan di hati nya, orang orang yang melihat kuda lumping tidak seramai dulu, bahkan tidak lebih dari setengah seperti dulu. Bahkan dulu di pertengahan tahun 2010 masih banyak antusias warga yang melihat kuda lumping pikir nya. Dan kini Cuma jarak 6 tahun di tahun 2016 ini antusias orang-orang mungkin sudah berkurang.

Tunggu dulu! Antusias bukan itu masalah nya. Sebuah pikiran dilema tengah menghantui pikiran Andrizal.

“Zan, sekarang udah sepi nak yang nonton? udah sedikit orang ketok lagi ( Zan, sekarang sudah sepi yang menonton ya? udah sedikit orang yang kelihatan ”  lagi-lagi bahasa tangsi mengawali percakapan Andrizal dan Fauzan lebih mirip seperti pecakapan indomi(indonesia minang) tapi dengan logat yang sangat beda dengan Indomi yang berasal dari orang Minang asli.

“Tu iya sama ke, jelas orang udah pada merantau semua ma ke, satuk-satuk yang tinggal di sini lagi( tentu saja, semua orang sudah pergi merantau tidak banyak orang yang masih tinggal di sawahlunto)”

“Merantau?” seolah kata itu sudah mengawakili pertanyaan yang tadi masih menggantung di pikiran Andrizal.

“ndak usah itu kepikirin lagi ke pucak polan kitak besok? mumpung besok minggu? ( tidak usah kamu pikirkan itu ke puncak poan kita besok? Mumpung besok libur)”.

Baca Juga: Kumpulan Cerpen Remaja yang Bermanfaat Untuk Dibaca

Puncak polan merupakan bukit yang paling dekat dengan kota sawahluno meskipun sawahlunto sudah menjadi kota tapi suasana setengah desa masih sangat terasa kental disini apalagi ketika duduk di tengah kota yang masih banyak dengan bangunan belanda membuat suasana tenang dan damai sangat membekas rasanya.

“oke Zan besok ya “ ucap Andrizal tanda mengiyakan

Langsung saja besok nya Fauzan dan Andrizal mendaki Puncak Polan, dan sampai diatas puncak nya pun terlihat pemandangan yang sangat tidak bosan untuk dipandang. Sebuah kota yang di sebut juga dengn kota kuali, karena kota ini berada di lembah dikelilingi megah nya bukit barisan dan di bawah sanalah Sawahlunto berasda sungguh pemadangan yang sangat tidak lekang oleh zaman.

“Zan ancak nak pemadangan nyo (Zan baguskan pemadangan nya)” tiba-tiba Andrizal memulai percakapan dengan Bahasa Tangsi nya

“Iya nak Zal ancak ( Iya Zal bagus)”.

“sekarang udah sepi nak Zan? Tapi baa orang-orang tu udah pergi aja semua merantau Zan! (sekarang sudah sepi ya Zan? kenapa semua orang pergi merantau Zan!)”.

“Iya tu baa lagi penghidupan udah ndak ada sini lagi do ( iya bagaimana lagi penghidupan sudah tidak ada lagi di sini)”.

“Dulu ndak ingat orang-orang tu do mereka semua besar di sini cari makan semua di sini (Dulu apa mereka tidak ingat, besar di sini dan cari makan di sini)”.

“Tu baa lagi Zal emas hitam tu ndak ada lagi do ( bagaimana lagi Zal emas hitam itu yang tidak ada lagi)”.

Hanya hening kini yang ada seolah Andrizal membenarkan bahwa batubara yang disebut-sebut sebagai emas hitam itu kini sudah tidak ada. Sebuah fakta yang sulit dihindarkan oleh Andrizal.

Baca Juga: Kenapa Wanita Tiba-Tiba Berubah Sikap, Ini Alasannya

Hanya keheningan yang ada diantara mereka berdua diikuti dengan semilir angin yang membuat suasana bukit ini menjadi begitu alami membuat kita menjadi sangat tenang dan damai. Cemara-cemara besar yang melambai karena tiupan anginmenandakan memang sejuk nya keadaan di atas bukit itu sambil memandangi kota kuali di bawah sana di hadapan megah nya bukit barisan.

“Manga kalian disiko? Turun lah lai hari lah sanjo ( sedang apa kalian disini? Hari sudah sore)”

Bahasa Minang yang sangat aktif terdengar cukup nyaring ditelinga Andrizal dan Fauzan memecahkan keheningan yang terjadi diantara kedua nya.

“iya pak ini kami mau turun lagi” Andrizal hanya bisa menjawab dalam Bahasa Indonesia karena ketidakmampuannya dalam bahasa minang, sebab di lingkungan keturuan Jawa.

Hanya bisa Bahasa Tangsi yang merupakan ciri khas Sawahlunto dan Bahasa Indonesia yang bisa dia gunakan. Namun, rata-rata penduduk Sawahlunto mengerti Bahasa Minang.

“iya cepat lah nak, nanti ada inyiak kalau sudah malam.”

Mendengar Andrizal yang berbahasa Indonesia membuat bapak ini mengerti bahwa Andrizal merupakan anak keturunan Jawa yang belum aktif berbahasa Minang.

Sedangkan inyiak merupakan sebutan Harimau bagi orang Minangkabau.

Suku Minang dan Jawa di sini memang hidup secara rukun dan damai tanpa ada pergesekan budaya toleransi. Inilah yang membuat Sawahlunto menjadi kota yang damai, begitu juga suku yang minoritas seperti Batak dan Tionghoa. Bahkan keturunan Belanda masih ada di sini hidup dengan damai.

“iya pak kami pamit dulu,” ucap Andrizal dengan sangat sopan.

“Daripada di sini lebih baik kalian menonton tabuik di bawah.”

(Tabuik merupakan ciri khas dari Sawahlunto. Tabuik merupakan budaya, seperti ogoh-ogah yang diarak perkumpulan orang Minang yang berasal dari daerah Pariaman).

“iya pak terimakasih,” ucap Andrizal mengundurkan diri

Andrizal dan Fauzan pun berjalan menuruni bukit dari Puncak Polan dengan sangat kehati-hatian.

Baca Juga: Contoh Cerpen Sedih Tentang Kehidupan: Menjemput Rindu

“Zan kalau memang orang Minang tradisi nya merantau tu aku juga merantau ma ke.”

(Zan kalau memang orang minang mempuyai tradisi merantau maka akan kulakukan juga).

“Memang mau kemana ke merantau ( Memang nya kamu merantau kemana)”.

“Kemana aja nyo yang penting aku sukses, nanti aku balek ke sini terus bakal hidupin balek kota ni.”

(yang penting aku sukses, dan aku bakal balikin penghidupan di kota ini).

“Kemana saja Zal?” Fauzan agak sedikit terkejut dengan pernyataan Andrizal barusan

“iya kemana saja, walaupun ke bulan ma ke nanti aku jualan nasi padang di sana untuk astronout yang laper. ( iya kemana saja, meski ke bulan dan nanti aku bakal jual nasi padang di sana untuk astronout yang lapar)”

Suasana pun tiba-tiba hening diam dan membisu.

Baca Juga: Cerpen Tema Kemanusiaan 1000 Kata (Bagian 2)

Itulah cerita fiksi dari cerita pendek tentang anak rantau dengan judul Merantau ke Bulan. Semoga bermanfaat. ***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *