Cerita Fiksi dengan Tema Kemanusiaan (Bagian 1)

  • Whatsapp
Cerita Fiksi dengan Tema Kemanusiaan
Ilustrasi Palestina/Pixabay/hosny_salah

LITERA NEWS – Ini adalah salah satu contoh dari kumpulan Cerita Fiksi dengan Tema Kemanusiaan yang dikutip Litera News dari hasil karya kumpulan cerita pendek Duta Pelajar Kemanusian (DPK) Aksi Cepat Tanggap (ACT) Lampung.

Pada cerita fiksi dengan tema kemanusiaan pertama ini berjudul “Pejuang Dari Negeri Khatulistiwa” ini merupakan karya Firman Agung Setyo Aji.

Bacaan Lainnya

Firman merupakan warga Gg. Widodo Dusun Tejomartani RT. 19 RW. 07 Desa Branti Raya Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan 35362.

Berikut Cerita Fiksi dengan Tema Kemanusiaan dengan judul “Pejuang dari Negeri Khatulistiwa”.

Pejuang Dari Negeri Khatulistiwa – Cerita Fiksi dengan Tema Kemanusiaan

Adira Annisa Fatimah, gadis berusia 20 tahun itu sedang duduk termenung di kamarnya. Ia menghadap langsung ke arah jendela dengan tatapan kosong. Sampai terdengar ketukan pintu yang membuat lamunannya buyar. Pintu pun terbuka dan keluarlah seorang wanita paruh baya berusia 46 tahun sambil membawa susu vanila hangat.

“Minum susunya dulu Adira,” ucap Umi Adira yang bernama Siti.

“Baik Umi,” jawab Adira seraya bergegas menghampiri susunya yang diletakkan di atas meja kecil yang berada di samping tempat tidurnya.

“Apa yang sedang kamu pikirkan, nak?” tanya Umi penasaran.

Sebenarnya hal inilah yang membuat Adira melamun. Ia tidak berani mengutarakan niatnya yang sedari tadi mengganjal di hati. Adira hanya tersenyum memandangi wajah Uminya yang sudah dihiasi kerutan pada keningnya.

“Ucapkanlah saja, nak,” kata Umi seraya mengelus lembut pipi Adira, anak satu-satunya.

Adira tampak menghela nafas lalu membulatkan tekadnya. Ia harus berbicara malam ini juga. “Umi, sebenarnya Adira ingin memberitahukan bahwa Adira lolos menjadi relawan kemanusiaan untuk diberangkatkan ke Palestina.”

“Apa!” seru suara yang terdengar kaget di balik pintu kamar Adira.

“Abi!” Adira kaget melihat Abinya muncul dari balik pintu dengan wajah menahan marah.

“Untuk apa nak kamu pergi ke sana? Kamu itu anak perempuan satu-satunya. Tidak boleh pisah dari orang tua. Apalagi jarak dari Indonesia ke Palestina itu sangat jauh. Pokoknya Abi tidak setuju!” ucap Abi seraya keluar dari kamar Adira yang di dominasi warna biru muda. Umi menggamit tangan Adira. Ia menatap mata anaknya yang mulai mengeluarkan bulir-bulir air mata.

“Nak, Abi hanya khawatir terhadapmu. Abi ini sangat sayang sama Adira,” kata Umi seraya menghapus air mata Adira dengan jarinya.

“Tapi kenapa Mi? Kenapa? Padahal Adira hanya ingin berbuat baik. Keluarga sesama muslim kita sedang membutuhkan pertolongan di sana. Adira pikir, mumpung Adira masih diberikan kenikmatan sehat oleh Allah, Adira dapat membantu mereka. Salah satu caranya dengan menjadi relawan kemanusiaan,” Ia tetap berusaha keras menjelaskan ke pada Uminya.

“Baik nak. Niatmu sudah bagus. Tapi apa kamu siap?”

“Sangat siap, Umi!”

“Besok pagi, akan kita bicarakan pada Abi. Sekarang Adira lebih baik beristirahat.”

Adira tersenyum memandang Uminya yang keluar dari kamar.

Ya Allah, izinkanlah hamba-Mu ini untuk menolong mereka yang sedang membutuhkan bantuan di tanah Jazirah Arab. Harap Adira dalam hati.

***

Baca Juga: Litera News: Upaya Dakwah Literasi dan Menjadi Wadah Kreatifitas Anak Muda

Keesokan paginya, setelah menunaikan salat Subuh. Adira bergegas menemui Umi dan Abinya yang saat ini sedang menikmati teh di ruang makan.

“Assalamualaikum Abi, Umi. Selamat pagi,” kata Adira lalu duduk ikut menikmati tehnya.

“Waalaikumsalam, nak,” jawab Abi dan Umi secara bersamaan. Adira memandang ke arah Uminya yang sedang memberikan kode untuk berbicara pada Abinya. Adira menatap ragu ke arah meja makan. Kalau tidak sekarang mau kapan lagi Adira. Kau harus berani. Ia pun bergumam membulatkan tekadnya.

“Abi?”

“Hmm.”

“Adira ingin melanjutkan obrolan tadi malam, perihal keberangkatan Adira menjadi relawan kemanusiaan di Palestina. Apa Abi mengizinkan?”

Sejenak suasana hening menyelimuti ruang makan.

“Kan Abi sudah katakan semalam. Abi tidak setuju!” Abi tetap kukuh pada pendiriannya.

Raut wajah Adira terlihat sedih. Ia bingung harus bagaimana lagi untuk merayu Abinya agar mengizinkannya berangkat ke Palestina. Sementara, Uminya mencoba kembali menenangkan, dan mengambil alih pembicaraan pada Abinya, agar sang suami dapat memberikan izin kepada anaknya untuk berangkat ke Palestina.

Sampai akhirnya, Abi pun merenung. Ia mencoba memikirkan matang-matang apa yang telah disampaikan istrinya tersebut. Di satu sisi ia khawatir terhadap anaknya. Namun, di sisi lain, ia bisa menerima alasan istrinya agar anak satu-satunya tersebut bisa ikut berangkat ke Palestina.

“Baiklah, Abi izinkan.” Suaranya serak, nampaknya masih berat untuk mengizinkan anaknya pergi ke Palestina. Namun, ia mencoba mengalihkan kecemasannya tersebut saat putri semata wayangnya itu memeluknya.

“Terima kasih Ya Allah. Terima kasih banyak, Abi.” Tanpa Adira sadari, air matanya jatuh berlinangan. Ia bahagia karena niat untuk membantu sesama muslim di tanah Jazirah Arab akan segera terwujud.

“Jangan lupa berterima kasih pada Umimu. Karena Umimu lah yang membujuk Abi. Ingat! Tapi dengan satu syarat, Adira harus pandai menjaga diri di sana.”

“Siap Abi!”

Terima kasih Ya Allah

Atas nikmat-Mu ini

Hamba bersyukur

***

Baca Juga: Tips Menulis Bagi Pemula, Gunakan Hati Agar Sampai Hati

Tiga hari kemudian.

Hari ini adalah hari keberangkatan Adira dan rombongan menuju Palestina. Keluarga mereka saling melepas haru pada anak mereka yang terpilih menjadi relawan.

“Abi, Umi, A-Adira pamit pergi ya. Doakan selalu Adira. Assalamualaikum,” ucap Adira sesenggukan. Air matanya benar-benar tumpah. Adira melihat wajah teduh kedua orang tuanya.

“La tahzan Adira. Innallaha ma’ana,” ucap Umi. Adira pun berlari kembali untuk memeluk Abi dan Uminya. Suasana haru sangat terasa di pagi itu.

Setelah melakukan boarding pass, pesawat yang ditumpangi Adira pun take off menuju Palestina.

Teruntuk Umi dan Abi,

Saat ini Adira sedang berada di atas awan. Dari sini, tampak seperti hamparan kapas. Masha Allah, indahnya. Pasti terasa nikmat apabila Umi dan Abi ikut menyaksikan. Umi, Abi, doakan selalu Adira meraih Ridha-Nya ya.

Sayang Umi dan Abi dari atas awan.

Adira menutup buku diary nya yang baru saja ia tulis. Ia pun mengajak berbicara relawan di sebelahnya yang benama Khadijah. Ia berusaha untuk meringankan rasa kesedihannya. Mereka berdua berbicara banyak hal sampai Adira merasa lelah dan memilih untuk beristirahat.

Setelah beberapa jam mengudara, pesawat para relawan kemanusiaan itu pun landing di bandara Palestina. Adira dan relawan yang lain sempat melakukan sujud syukur pada Allah SWT. Adira dan rombongan relawan pun menuju bus yang telah menjemputnya. Selama perjalanan, hamparan gurun pasir menyambut kedatangan mereka, juga yang membuat hati Adira miris, banyak bangunan dan infrastruktur hancur dan ada yang rata dengan tanah.

Sesampianya di lokasi pengungsian, para rombongan relawan disambut baik oleh penduduk Palestina. Setelah acara penyambutan selesai, Adira pun segera bergegas masuk ke dalam tenda dan meletakkan barang-barangnya. Para relawan pun berkumpul untuk diberikan arahan.

“Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!” takbir berkumandang beberapa kali setelah mereka selesai melakukan briefing dan membagi tugas masing-masing. Adira tergabung dalam divisi kemanusiaan dengan Khadijah, Annisa dan Septi. Mereka berempat bertugas membuat anak-anak di kamp pengungsian merasa nyaman walau bahaya selalu mengintai mereka. Adira akan berusaha untuk membuat anak-anak merasa senang.

“Assalamualaikum,” ucap Adira, Khadijah, Annisa dan Septi bersamaan dengan penuh semangat.

“Waalaikumsalam, Ukhti,” jawab anak-anak dengan manis.

Merekapun melanjutkan salam dan sapa kepada anak-anak di pengungsian dan mengajak mereka untuk bermain.

***

Baca Juga: Kumpulan Puisi Hari Ibu, Cocok Untuk Ungkapan Cinta

Setelah selesai melakukan permainan untuk menghibur anak-anak di kamp pengungsian. Adira melihat salah satu anak laki-laki berusia sekitar 8 tahun sedang duduk merenung.

“Assalamualaikum?”

Adira pun berkenalan ke seorang anak laki-laki. Namun, anak tersebut seperti enggan untuk merespon setiap pertanyaan yang disampaikan. Tetapi saat melihat wajah ramah Adira, anak laki-laki itu pun mulai berani membuka mulutnya.

“Waalaikumsalam. Anna Habibi,”

Adira dan Habibi pun berbincang-bincang. Ada banyak hal yang diceritakan Habibi kepada Adira. Mendengar cerita Habibi, Adira semakin merasa sedih dengan keadaan yang terjadi di Palestina.

Bahkan, Habibi kepada Adira mengaku tengah menunggu temannya untuk kembali. Temannya tersebut diceritakan Habibi bernama Sultan. Kata Habibi kepada Adira, Habibi melihat kepala Sultan mengeluarkan cairan berwarna merah.

Adira yang memperhatikan Habibi bercerita sedari tadi, kini berusaha mencoba menenangkan. Sebab, Habibi mulai menangis. Ia berharap Sultan segera kembali dan bisa bermain bola dengannya seperti dulu.

“La tahzan Habibi. Innallaha ma’ana,” Adira tersenyum pada Habibi.

***

Baca Juga: Kisah Inspirasi Islami, TKW Indonesia Dirikan Pondok Tahfidz di Hongkong

Hari ini mentari muncul dengan teriknya, namun tak membuat semangat para relawan kemanusiaan menjadi ciut. Suasana kamp pengungsian mulai ramai. Ada yang sedang menyiapkan sarapan pagi, ada yang sedang membangun tempat penampungan air bersih dan lain-lain. Sementara itu, divisi kemanusiaan sedang mengajak anak-anak kecil di kamp pengungsian Palestina untuk bermain dan bernyanyi bersama. Setelah selesai melaksanakan tugasnya, Adira dan teman-temannya memilih untuk beristirahat. Tiba-tiba Habibi datang sembari menarik lengan baju Adira. Adira memberikan kode kepada Annisa, Septi, dan Khadijah agar tetap di tempat yang sama untuk menunggunya.

Adira pun heran. Ia bertanya maksud dan tujuan Habibi menarik lengan bajunya. Habibi pun menceritakan maksud hatinya. Ia ingin mengajak Adira untuk pergi bermain. Sekedar jalan-jalan menghilangkan bosan di kamp pengungsian.

Adira mengelus halus rambut Habibi. Ia mengangguk tanda mau menemaninya jalan-jalan. “Syukron, Ukhti!” Habibi merasa senang. Ia langsung bergegas menuju salah satu lokasi yang ingin dituju.

Adira dengan rasa penasaran mengikuti langkah Habibi. Habibi dan Adira melewati beberapa bangunan yang telah porak-porak poranda. Sampai pada satu tempat ada sebuah bangunan menyerupai sekolahan. Adira pun bergumam di dalam hati. Ia semakin sedih. Nampaknya yang ia pikirkan benar. Dihadapannya adalah bangunan sekolah yang tidak lagi utuh.

Bangunan tersebut hampir rata dengan tanah. Lokasi itu benar-benar mengerikan. Adira tak menyangka tempat sekolahpun menjadi sasaran perang. Hatinya bergejolak, ingin marah, namun ia juga bingung harus bagaimana menghadapi situasi seperti yang dihadapi Habibi.

“Astaghfirullah,” mimik Adira benar-benar seperti orang yang ingin mengutuk.

“Tega sekali tentara zionis itu,” umpatnya dalam hati.

Setelah beberapa saat berkeliling di area yang dulunya bekas sekolah dasar tersebut, Habibi dan Adira pun memutuskan untuk pulang ke kamp pengungsian. Habibi mengucapkan terimakasih kepada Adira karena telah menemaninya jalan-jalan untuk melihat area sekolahannya.

Namun, saat akan melangkah pergi, mata Adira menangkap sesuatu benda sedang melayang-layang dengan kecepatan tinggi dari atas langit. Setelah beberapa detik kemudian, Adira pun tersadar.

“Astaghfirullah bom! Habibi! Allahu Akbar!” jerit Adira seraya memeluk Habibi dalam dekapannya. Sekilas ia melihat wajah Umi dan Abi dalam pikirannya. Tiba-tiba ia merasa cemas, ia memikirkan Abi dan Uminya tengah khawatir terhadap dirinya.

Abi, Umi

Terima kasih atas segalanya

Rasanya kemarin baru saja kita bertemu

Adira sangat rindu

Maafkan Adira.

Adira sempat mengucapkan kalimat Laa Ilaaha Illallah Muhammadur Rasulullah. Lalu semuanya gelap dalam pandangan terakhir Adira.

-Selesai-

Itulah kumpulan cerita pendek (cerpen), cerita fiksi dengan tema kemanusiaan. ***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *