Beberapa Hal yang Dibenci Siswa, Guru Wajib Tahu!

  • Whatsapp
Hal yang dibenci Siswa dari Gurunya
Ilustrasi Guru dan Murid/Pixabay/MoteOo

LITERA NEWS – Bagi seorang guru, ada beberapa hal yang harus dipahami dari seorang siswa, termasuk hal-hal yang dibenci. Ini hal yang wajar dalam menjalani kehidupan.

Ini sebabnya, dalam menjalani kehidupan di bumi adalah fitrah seorang manusia. Tidak terkecuali merasakan sensasi suka atau duka, ini merupakan suatu hal yang lazim untuk kita rasakan.

Bacaan Lainnya

Bahkan jika kedua rasa tersebut tidak ada dalam hidup kita; maka sangatlah ada yang kurang sebagai manusia.

Begitu pula yang terjadi kepada guru dan siswa di sekolah. Interaksi yang dilakukan pastilah ada saatnya menemui rasa suka dan tidak suka tersebut.

Ada yang menjaga jarak hubungan karena status yang berbeda, ada pula guru yang terasa dekat tanpa jarak dengan siswa, itu semua lazim menurut pilihan masing-masing.

Secara umum, hubungan interaksi guru dan murid haruslah berjalan biasa dan normal tanpa adanya suatu masalah.

Kegiatan belajar-mengajar yang dilakukan setiap hari seharusnya menjadikan siswa senang dalam mengikuti pelajaran.

Tetapi pada kenyataannya, banyak siswa yang kurang antusias dalam mengikuti pelajaran. Tidak suka dengan guru yang mengajar, tidak suka pelajarannya, atau tidak suka dengan cara mengajar sang guru merupakan salah satu alasannya.

Pada akhirnya yang terjadi adalah respon yang kurang menyenangkan siswa kepada guru, seperti membolos di mata pelajaran tertentu, mengikuti dengan rasa tidak antusias (yang penting hadir), dan masih banyak respon yang bahkan tidak seharusnya dilakukan.

Hal Hal yang Dibenci Siswa dari Gurunya

Ada beberapa hal yang sebenarnya secara sadar atau tidak sadar merupakan sesuatu yang tidak disukai seorang siswa:

1. Mudah Marah

Sikap guru yang mudah sekali marah, mudah tersinggung, dan gampang naik darah ini sangat tidak disukai oleh siswa.

Meski pun seringkali siswa menunjukkan prilaku yang kurang sopan atau bertindak tidak sesuai aturan, sebagai seorang guru janganlah terlalu mudah mengutuk, meneriaki atau sampai spontan bereaksi secara fisik.

Sebagaimana yang kita ketahui, masa anak-anak hingga remaja adalah masa dimana siswa ingin diperhatikan. Jadi sebagai guru, alangkah lebih baik jika memahami hal tersebut dan mengurangi reaksi mudah marah ini demi menjaga kesehatan mental guru dan siswanya tersebut.

2. Suka Memberi PR tapi Tidak Dikoreksi

“Anak-anak, Silakan kerjakan hal bla bla sampai bla bla. Dikumpulkan bla bla.”

Kalimat sakti di atas pastinya sudah tidak asing lagi di telinga kita. Ini merupakan kalimat turun menurun yang kita dengar dari zaman TK hingga mungkin perguruan tinggi.

Kalimat yang selalu dilontarkan sesaat sebelum pelajaran usai ini sebenarnya bukan suatu masalah untuk siswa, tetapi yang menjadi masalah adalah ketika mereka sudah mengerjakan tugas dengan sepenuh hati, tetapi disia-siakan tanpa pernah intropeksi diri. Mungkin itu kalimat yang cocok untuk menggambarkannya.

Banyak siswa akan kecewa karena hal ini, motivasi mereka mengerjakan yang semula berapi-api perlahan akan berubah menjadi alasan yang berujung tapi tapi.

Inilah pentingnya sikap apresiatif seorang guru terhadap PR siswa. Guru harus konsisten dan mau meluangkan waktu untuk mengoreksi.

Dengan begitu siswa akan merasa dihargai karena apresiasi tersebut dan siswa tetap bersungguh-sungguh menyelesaikan tugas yang diberikan.

3. Guru Ngartis

Menjadi seorang guru berarti siap menjadi seorang penolong bagi siswa. Menolongnya dalam belajar, menolongnya dalam kesulitan pemahaman suatu pelajaran, atau menolong dalam kepentingan yang menyangkut sekolah lainnya.

Jika guru sulit dihubungi (Ngartis), banyak alasan saat dimintai ingin tolong, tentu hal ini dapat melukai perasaan siswanya.

Dalam kehidupan guru dan murid, haruslah ada hubungan timbal balik. Maka seorang guru haruslah menghindari sikap ngartis ini.

4. Pilih Kasih

Pada hakikatnya, seorang guru memang dituntut untuk memerhatikan banyak siswanya dan setiap siswa juga ingin mendapatkan perhatian yang sama dari gurunya selama di sekolah.

Alhasil tanpa disadari mungkin hanya sebagian siswa saja yang mendapatkan perhatian lebih dari sang guru. Hal ini harus diperhatikan oleh seorang guru, karena kurangnya perhatian dapat berakibat kurang respect-nya siswa kepada guru dan terhadap pelajaran di sekolah.

 5. Sikap Semena-mena

Banyak sekali kejadian siswa membenci gurunya karena sikap ini. Bahkan di zaman ini, banyak siswa yang lebih senang dihukum daripada harus mengikuti pelajaran.

Seorang guru yang menyuruh dan menghukum siswa sebetulnya tindakkan yang sangat wajar, jika hal ini disertai dengan alasan yang tepat.

Menyuruh seorang siswa mengisi tinta saat pelajaran sedang berlangsung adalah salah satu contoh tindakkan wajar karena menyuruh siswa demi kepentingan bersama. Lain hal jika menyuruh siswa demi kepentingan pribadi.

Menghukum siswa yang terlambat masuk dengan memberi tugas tambahan seperti menghapal merupakan tindakan wajar yang bisa diterima siswa.

Lain hal jika seorang guru menghukum siswa dengan melecehkannya di depan umum, menghukum atas dasar benci, permusuhan atau emosi yang tidak terkendali. Hal ini dapat menimbulkan benih-benih kebencian dalam diri siswa.

Jadi perlunya menjaga stabilitas emosional dan spiritual adalah yang utama bagi seorang guru, terlebih seorang pendidik.

Baca Juga: Beasiswa LPDP 2021 Dibuka, Siapkan Ini Ketika Daftar

Itulah hal – hal yang tidak disukai dan dibenci oleh para siswa dari seorang guru. Semoga dapat menjadi renungan kita bersama untuk menuju pendidikan Indonesia yang lebih baik lagi.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *