Apa Sih Fobia? Ini Kerap Terjadi Pada Penulis

  • Whatsapp
Apa Sih Fobia
Ilustrasi Fobia pada Seorang Penulis/Pixabay/lukasbieri

LITERA NEWS – Apa sih yang dimaksud dengan Fobia? Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), fobia memiliki arti ketakutan berlebih terhadap suatu benda atau keadaan tertentu yang dapat menghambat penderitanya.

Orang yang fobia terhadap kegelapan pasti cenderung takut berjalan sendirian saat malam hari dan tidak betah berlama-lama berada dalam ruangan yang tanpa cahaya.

Bacaan Lainnya

Lebih parahnya, tidak jarang fobia ini dapat menghambat kehidupan penderitanya, semisal ketika seseorang fobia terhadap nasi dan dalam kesehariannya hanya memakan mie saja, maka dalam jangka panjang kebiasaan tersebut tentu dapat merusak tubuhnya.

Begitu pula dalam menulis, tidak perlu fobia. Menulis memang terbilang gampang-gampang susah; gampang bagi orang yang menganggapnya gampang dan susah bagi yang menganggapnya susah.

Yang jelas, menulis itu butuh lebih dari sekadar keberanian, juga rasa cinta dan kebiasaan. Bukankah pepatah jawa mengatakan:

“tresno jalaran soko kulino”

Oleh sebab itu tanamlah rasa cinta dalam hati lalu tuangkanlah ke dalam secarik kertas berupa guratan-guratan indah penuh makna.

Sehingga seseorang yang baru akan terjun di dunia kepenulisan bisa melewati apa sih yang dinamakan fobia, macam-macam dan cara menghadapinya. Baca Juga: Tips Menulis Bagi Pemula, Gunakan Hati Agar Sampai Hati.

Mantra dalam Sebuah Tulisan

Sebuah tulisan ibaratkan memiliki mantra ajaib yang dapat menghipnotis para pembacanya. Hal ini terbukti dengan banyaknya perubahan besar dalam sejarah dunia yang terpengaruh oleh kekuatan dari sebuah tulisan.

Contohnya, buku-buku karya J.J Rousse dan Montesquieu mempengaruhi revolusi Amerika.  Pleh Declaration of Independence menjadi pembimbing dalam revolusi ini.

Contoh lain, buku comunistisch Manifest dan Das Kapital karya Karl Marx memberikan pengaruh pada revolusi komunis di seluruh dunia. Engels Nazi Jerman menggunakan pedoman buku Mein Kampe karya Adolf Hilter untuk mengobarkan semangat revolusi.

Selain itu, di Indonesia tulisan-tulisan tentang kemerdekaan seperti Mencapai Indonesia Merdeka milik Bung Karno juga sedikit banyak memberi pengaruh pada kemerdekaan di negeri ini.

Jika kita jabarkan secara terperinci, masih banyak hal-hal yang fenomenal terpengaruh oleh betapa dasyatnya mantra sebuah tulisan.

Menjadi Penulis, Mengapa Fobia?

Karena telah mengetahui betapa pentingnya sebuah tulisan, maka tidak heran jika imam Al-Ghozali berkata:

“Jika kamu bukan seorang anak raja, maka jadilah seorang penulis”

Pasti di dalam diri kita selama ini seringkali mempertanyakan landasan dari ungkapan sang imam.

Jadi konon ceritanya, jika seorang raja pada zaman dahulu dapat menyebarkan paham yang ia anut ke seluruh daerah kekuasaannya. Kerajaan Saudi Arabia atau yang lebih dikenal kerajaan Su’udiyah mernjadi contoh yang masih ada hingga saat ini.

Raja Su’ud yang berpaham Wahabi kemudian menyebarkan paham yang dianutnya hampir ke seluruh Jazirah Arab, bahkan pondok milik Habib Zein bin Smith Madinah (guru KH. Abdurrahman Faqih) ditutup paksa oleh pemerintah setempat karena dianggap mengganggu ajaran Wahabisme.

Karenanya, jika bukan seorang anak raja maka gunakanlah tinta untuk menyebarkan sebuah ideologi, gagasan, paham atau inovasi-inovasi yang ada di kepala melalui tulisan.

Banyak sekali tokoh yang telah mencontohkan hal ini, paham Aswaja yang dianut oleh Syekh Nawawi Banten, tersebar melalui tulisan-tulisan beliau dari seluruh pelosok Nusantara Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, bahkan hingga ke Saudi Arabia dan negara-negara timur tengah lainnya.

Oleh sebab itu, tidak perlu fobia untuk menjadi seorang penulis. Gerakkanlah penamu dan jadilah seseorang yang mampu merubah dunia dengan terus berkarya, berbagi dan menginspirasi.

Sebab orang hebat bukanlah orang yang banyak membaca pelbagai macam buku, akan tetapi orang hebat adalah orang yang mampu menuangkan apa yang dia baca ke dalam tulisan. hal ini senada dengan ungkapan:

“No action, nothing happend. But take action mirechael happend”

Dan ada juga pepatah yang mengatakan:

Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama”

Maka buatlah namamu terkenang melalui tulisan-tulisan yang bermanfaat. Jangan takut untuk memulai dan lakukanlah dengan penuh cinta.

Sehingga yang dipertanyakan akan apa sih fobia dapat dilewati dalam tumbuh besarnya seorang penulis tersebut. Semangat berkarya, berbagi dan menginspirasi. ***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *