Adab di Masjid & 12 Bid’ah Kesalahan yang Kerap Dilakukan

  • Whatsapp
Adab di Masjid
Ilustrasi Adab di Masjid/Pixabay/Konevi

LITERA NEWS – Banyak dari kita yang mengabaikan adab ketika berada di Masjid. Ini juga yang menjadi kesalahan dalam solat yang dilakukan oleh kaum muslimin, demikian aktifitas yang dilakukan, baik bid’ah dan kesalahan seputar masjid.

Namun kita patut bersyukur, atas kesadaran umat Islam dalam melaksanakan solat. Masjid semakin makmur, baik di kampung, kota, dan bahkan tempat-tempat umum seperti mall. Meski tak menutup mata, masih banyak juga masjid yang terlihat sepi di waktu solat.

Bacaan Lainnya

Seiring perjalanan waktu, dan atas kekhusyukan solat, alangkah baiknya kita dan seluruh umat meningkatkan juga kualitas solat.

Demikian juga tak hanya menjadikan solat sekadar menggugurkan kewajiban saja. Karena kualitas solat sangat menentukan kadar pahala.

Mengutip dari Buku 400 Kesalahan Dalam Shalat, Litera News akan menjelaskan tentang Adab di Masjid. Utamanya terkait bid’ah-bid’ah dan kesalahan seputar masjid.

Kesalahan dan Bid’ah Seputar Masjid, serta Adab Ketika di Masjid

Ada beberapa bid’ah dan kesalahan seputar masjid yang kerap kita lakukan, antaranya:

1. Meninggalkan Shalat Tahiyatul Masjid

Di antara kesalahan yang menyebar di kalangan kaum muslimin yang menghadiri solat jamaah adalah langsung duduk di dalam masjid tanpa melaksanakan shalat Tahiyat.

Abu Qatadah As-Sulami RA meriwayatkan bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:

“Apabila salah seorang dari kalian memasuki masjid, hendaknya dia mengerjakan shalat dua rakaat sebelum duduk.” HR. Al-Bukhari (444).

Pernah suatu ketika Abu Dzar RA memasuki masjid, lantas Nabi bertanya, “Sudahkah kamu mengerjakan shalat dua rakaat?” Dia menjawab, ‘Belum’, lalu Nabi bersabda, “Kalau begitu berdirilah, kerjakanlah dua rakaat itu!” (HR. Ibnu Hibban di dalam Shahih-nya, sebagaimana yang tercantum di dalam Al-Fath (1/538).

Dengan dasar riwayat inilah Ibnu Hibban menerangkan bahwa shalat Tahiyatul Masjid tetap boleh dikerjakan meskipun terlanjur duduk.

Menurut pendapatnya pula bahwa ia boleh dikerjakan kapan saja termasuk pada waktu-waktu yang dilarang, yaitu setelah solat Subuh dan Ashar.

Sebab Solat Tahiyatul Masjid termasuk solat yang memiliki sebab sebagaimana shalat Thawaf dan Khusuf.

2. Tidak Membaca Doa Sewaktu Masuk dan Keluar Masjid

Mayoritas kaum muslimin yang menghadiri shalat jamaah tidak mengetahui sunnah masuk dan keluar masjid. “Barangsiapa yang hendak memasuki masjid disunnahkan baginya untuk mendahulukan kaki kanannya dan keluar dengan kaki kirinya.”

Demikian juga untuk dibaca doa ketika masuk dan keluar masjid. Dari Anas RA, bahwasannya Rasulullah SAW ketika akan masuk masjid, “Dengan nama Allah, ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad.”

Demikian ketika Rasulullah SAW keluar dari masjid. HR. Ibnu Sina dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailati dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Al-Kalam Ath-Thayyib (63).

3. Memasuki Masjid dengan Pakaian Seadanya, Padahal Mempunyai yang Lebih Baik

Seringkali ini terjadi, menghadiri solat berjamaah di masjid dengan memakai pakaian yang buruk, robek atau pakaian yang berbau tidak sedap. Padahal akan menghadap Allah.

Namun berbeda, ketika keluar menghadap seseorang, bos atau siapapun yang akan menolaknya ketika berpakaian yang sama.

Bukankah dalam hal ini Allah telah menganjurkan para hamba-Nya untuk berhias ketika hendak pergi ke masjid?

Allah SWT berfirman: “Hai anak Adam, pakailah pakaian kalian yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Al-A’raf [7]: 31).

Bahkan Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Apabila salah seorang dari kalian shalat hendaklah dia memakai pakaian (yang pantas). Karena Allah Ta’ala lebih memperhatikan orang yang berhias untuk-Nya.” HR. Ath-Thabrani dalam Al-Ausdth dari Ibnu Umar RA, Shahih Al-Jami (651).

4. Keluar dari Masjid Setelah Adzan

Sebagian orang ada yang keluar dari masjid tepat setelah adzan berkumandang. Hal ini termasuk kesalahan yang amat tercela.

Dari Abu Sya’tsa’, dia berkata, “Kami pernah duduk-duduk di dalam masjid bersama Abu Hurairah RA. Tidak lama kemudian muadzin mengumandangkan adzan. Selesai adzan berkumandang tiba-tiba ada seorang laki-laki berdiri dan berjalan keluar.

Pandangan Abu Hurairah RA terus mengikuti hingga laki-laki tersebut keluar dari masjid. Lalu Abu Hurairah berkomentar, “orang itu telah durhaka kepada Abu Qasim,” HR. Muslim dari Abu Hurairah (5/219) (hadits no:258 Al-Masajid).

5. Meludah di Dalam Masjid

Ada sebagian orang sampai hati meludah di dalam masjid, padahal mereka tidak pernah melakukan perbuatan tercela tersebut di rumah mereka sendiri. Tiada daya dan kekuatan, kecuali karena (pertolongan) Allah.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian mengerjakan shalat, sebenarnya dia sedang berbisik-bisik dengan Rabb-nya. Karena itu janganlah dia meludah di arah depannya dan tidak pula ke arah kanannya. Namun dia boleh meludah di arah kirinya, yakni di bawah kedua telapak kakinya.” HR. Muslim dari Anas RA (5/55) (hadits no: 54 Al-Masajid).

Hadist di atas mengandung larangan meludah ke arah depan atau arah samping kanan bagi orang yang sedang mengerjakan shalat.

Dalam sabda Rasulullah di atas, berlaku di tempat selain masjid. Adapun orang yang sedang mengerjakan shalat, maka dia tetap tidak boleh meludah, kecuali pada pakainnya. Sebagaimana sabda dalam HR. Muslim dari Anas, “Meludah di masjid itu dosa. sedangkan kafaratnya adalah memendamnya.”

6. Berhadats di Masjid

Di antara kesalahan yang makruh dikerjakan di dalam masjid adalah sengaja kentut, karena perbuatan itu dapat mengganggu malaikat dan kaum muslimin yang berada di masjid.

Nabi mengabarkan, “Sungguh para malaikat terus saja mendoakan orang yang mendatangi masjid untuk melaksanakan shalat. Malaikat berkata, ‘Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepadanya. Ya, Allah, kasihanilah dia selama dia tidak mengganggu serta tidak membuang hadats di dalamnya.’ Beliau ditanya, ‘Apa yang dimaksud buang hadats itu?’ Beliau menjawab, ‘Kentut’.” HR. Muslim (661) dan An-Nasa’i (2/55).

8. Mengumumkan Berita Duka Cita dengan Pengeras Suara

Adab di masjid selanjutnya adalah tidak mengumumkan berita duka cita dengan pengeras suara. Ini termasuk perkara bid’ah di dalam masjid yang hukumnya di antara makruh dan haram adalah apa yang disebut dengan tabrir.

Artinya, para muadzin membaca satu ayat dari surah Al-Insan di atas menara mengeraskan suara ketika atas kematian orang alim.

Ayat yang dimaksud ialah, “Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan, minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur.” (Al-Insan [76]:5).

Demikian kebiasaan yang masih ditemui di penduduk pedesaan, yakni ketika salah seorang dari mereka ada yang meninggal dunia, mereka mengumumkan kematian ‘Fulan bin Fulan’ melalui pengeras suara masjid. Pebuatan semacam ini jelas menyelisihi sunnah, karena tidak sepatutnya masjid dipergunakan untuk kepentingan seperti ini.

Dalam kita Subul As-Salam disebutkan, “Di antara bentuk mengumumkan yang dilarang adalah mengumumkan berita duka di atas menara masjid (sebagaimana yang biasa dilakukan) di zaman ini saat terjadi kematian seorang ulama.” Al-Ibda’ fi Madhar Al-Ibtida’, Asy-Syaikh Ali Mahfudz hal 165/167 dengan perubahan.

8. Membaca Surat Al-Kahfi pada Hari Jum’at Bersama-sama

Dijelaskan dalam Al-Ibda’ fi Madhar Al-Ibtida’, Syaikh Ali Mahfudz (hal: 177), perbuatan bid’ah yang lain adalah membaca surat Al-Kahfi pada hari Jumat dengan suara keras dan mengilang-ulangnya, seperti mengulang nyanyian.

Padahal di saat yang sama orang-orang (yang ada di masjid) sedang rukuk, bersujud, berdzikir, membaca Al-Qur’an (dengan pelan), dan ada pula yang bertafakkur.

9. Mengobrol Sampai Larut Malam (Begadang) Tentang Urusan Dunia

Islam tidak melarang pembicaraan yang mubah di dalam masjid selama tidak mengganggu orang yang sedang beribadah, hanya saja adab di masjid sebaiknya untuk tidak dilakukan.

Apalagi jika obrolan tersebut dapat memalingkan seseorang dari mengerjakan shalat atau sibuk dengannya. Sebagian orang pada umumnya melarang perbincangan di masjid selama tidak untuk berdzikir dengan dasar satu hadits yang mereka sandarkan kepada Nabi:

“Berbicara di dalam masjid itu melahap kebaikan sebagaimana api yang melahap kayu.” ini adalah hadits yang tidak ada asalnya (la ashla lahu). Al-Araqi berkata, “Aku tidak mengetahui asalnya.” Al-Ihya (1/136).

10. Mengeraskan Suara di dalam Masjid

Di antara kesalahan yang makruh hukumnya adalah begadangnya orang-orang di masjid untuk membicarakan urusan dunia, bahkan terkadang dengan meninggikan suara, tertawa dengan keras, sering bertepuk tangan, maupun bersiul-siul sampai membuat keributan.

Lagipula dapat mengganggu orang-orang yang sedang mengerjakan solat serta ibadah lainnya.

11. Mencari Barang Hilangnya di Masjid

Sebagian orang apabila kehilangan sesuatu dari miliknya, maka dia akan pergi ke masjid dan meminta orang yang berada di sana untuk mengumumkan melalui pengeras suara berita kehilangannya tersebut.

Perbuatan semacam ini salah, sebab Nabi melarangnya. Nabi bersabda, “Barangsiapa yang mendengar seseorang mencari barangnya yang hilang di masjid, maka katakanlah, ‘Semoga Allah tidak akan mengembalikannya kepadamu.” Sebab masjid tidak dibangun untuk ini.” HR. Muslim dari Abu Hurairah (5/75) (hadits no: 79 Al Masajid).

12. Jual Beli di Masjid

Sebagaimana orang yang masih ada yang melakukan jual beli di masjid. Padahal Nabi telah melarangnya. Beliau bersabda: “Apabila kalian melihat seseorang berjual beli di masjid, maka katakannya kepadanya, ‘Semoga Allah tidak akan menguntungkan (hasil perdaganganmu’.” HR. At-Tirmidzi (1/248) dan Al-Hakim (2/56) dengan sanda shahih dari Abu Hurairah.

Baca Juga: Kisah Inspirasi Islami, TKW Indonesia Dirikan Pondok Tahfidz di Hongkong

Masih ada banyak adab – adab ketika berada di masjid, dan yang menjadi bid’ah dan kesalahan yang kerap dilakukan umat Islam selama berada di masjid. Semoga kita terhindar dari antaranya, dan bahkan semuanya. ***

Sumber: Buku 400 Kesalahan dalam Shalat – Agar Shalat Kita Benar dan Berpahala, Karya Mahmud Al-Mishri, Penerbit Dar At-Taqwa.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *