
Indonesia berada di titik pertemuan tiga lempeng tektonik besar dunia, menjadikannya salah satu negara paling rawan gempa di bumi. Kini, perhatian para ilmuwan tertuju ke wilayah selatan Jawa, yang menyimpan potensi gempa megathrust — yaitu gempa besar akibat tekanan yang menumpuk lama di zona pertemuan lempeng hingga akhirnya batuan tidak kuat menahan dan patah secara tiba-tiba.
Pakar Manajemen Bencana Universitas Airlangga (Unair), Dr Hijrah Saputra ST MSc, menjelaskan bahwa sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) menjadi salah satu kunci kesiapsiagaan. Namun, ia mengingatkan bahwa sistem ini hanya bekerja jika semua komponennya berjalan beriringan. “EWS yang efektif itu terdiri dari empat komponen yang harus berjalan bersama, yakni pengetahuan tentang risiko, pemantauan dan peringatan, penyebaran informasi kepada masyarakat, serta kemampuan respons masyarakat. Kalau salah satu komponen itu lemah, maka EWS secara keseluruhan bisa gagal,” jelasnya.
Dr Hijrah juga menekankan perlunya kesiapsiagaan tiga lapis: mulai dari pemerintah, komunitas lokal, hingga unit terkecil yakni keluarga. Pemetaan jalur evakuasi dan pemodelan jangkauan gelombang tsunami harus dipadukan dengan latihan rutin di kawasan rawan bencana. “Di level struktural, BPBD secara intensif sudah melakukan sosialisasi dan simulasi. Peneliti telah memodelkan seberapa jauh tinggi gelombang masuk ke daratan saat terjadi gempa dengan magnitudo tertentu, lalu berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk membuat jalur evakuasi,” tegasnya.
Selain kesiapan fisik dan teknis, Dr Hijrah mendorong perbaikan cara berkomunikasi soal risiko bencana kepada masyarakat. Ia menyarankan agar informasi disampaikan dengan bahasa sederhana, melibatkan tokoh agama dan adat setempat, serta berbasis solusi — bukan sekadar menakut-nakuti. “Komunikasi bencana dapat dilakukan dengan basis solusi dan bukan ancaman, pesan konsisten dan terkoordinasi, menggunakan bahasa sederhana dan konseptual, melibatkan tokoh lokal dan media lokal, serta edukasi berkelanjutan. Jadi, panik itu wajar, jangan menyalahkan diri sendiri, dan jangan biarkan kepanikan mengendalikan diri,” pesannya.
Pendekatan menyeluruh ini — dari teknologi peringatan dini, perencanaan evakuasi, hingga komunikasi yang manusiawi — dinilai penting untuk membangun masyarakat yang benar-benar siap menghadapi skenario terburuk dari ancaman megathrust selatan Jawa.
Sumber: Detik.com
Baca Juga

Unpad Buka Jalur Khusus UG-Pass bagi Siswa SMA Unggul Garuda untuk Masuk Program Internasional

Siswa SMA di Jakarta Dapat Edukasi Bahaya Narkoba dari BUMN dan BNN

Hari Batik Nasional, Siswa SD di Jakarta Utara Belajar Membatik di Atas Kayu

