
Pembelajaran tentang hutan di sekolah sering terjebak pada level hafalan: pohon menghasilkan oksigen, hutan menyerap karbon, kebakaran merusak ekosistem. Murid mengerjakan soal, lulus ujian, tetapi ketika hutan benar-benar terbakar, apakah pengetahuan itu cukup membuat mereka memahami apa yang sebenarnya terjadi?
Di balik angka hektar lahan yang terbakar ada cerita nyata: orangutan kehilangan rumah, burung terbang menembus asap, satwa berlari tidak tahu ke mana. Pertanyaannya sederhana: sekolah seharusnya belajar apa dari jeritan ekologis itu? Sumber menyebut bahwa “pendidikan lingkungan tidak cukup mengajarkan murid mengenali pohon dan menghafal penyebab kebakaran hutan” karena “sekolah idealnya mendidik manusia yang mampu memahami penderitaan ekologis, mengkritik keserakahan, dan bertanggung jawab atas kehidupan bersama.”
Krisis hutan bukan sekadar masalah botani atau kimia, melainkan pertanyaan etika, politik, dan filsafat tentang posisi manusia di alam. Pendidikan hutan semestinya menggali lebih dalam: mengapa kebakaran terus berulang, siapa yang menanggung akibatnya, dan nilai-nilai apa yang memandu keputusan manusia terhadap alam.
Filsuf lingkungan seperti Aldo Leopold menawarkan perspektif berbeda melalui konsep etika tanah. Menurutnya, alam bukan hanya objek untuk dimanfaatkan selama menguntungkan. Manusia adalah bagian dari komunitas ekologis yang memiliki tanggung jawab menjaga keutuhan kehidupan. Ketika hutan terbakar, yang rusak bukan sekadar pohon tetapi seluruh jaringan hubungan antarsesuatu hidup.
Pembelajaran perlu bergerak dari sekadar mengetahui menuju memahami, kemudian menjadi tindakan nyata. Murid tidak cukup membuat poster tentang bahaya kebakaran, tetapi perlu menyelidiki kondisi hutan lokal, membaca data kebakaran, memahami dampak kesehatan, dan mendiskusikan hubungan antara pembukaan lahan, kepentingan ekonomi, dan kerusakan ekosistem.
Pemikir lingkungan lainnya, Arne Nass, mengkritik pandangan yang menempatkan alam semata-mata sebagai alat untuk kebutuhan manusia. Jika nilai alam hanya diukur dari kegunaannya, kerusakan ekologis akan terus mudah dibenarkan selama keuntungan dianggap lebih besar. Pendidikan perlu menggugat cara berpikir ini.
Pada titik ini, pendidikan lingkungan menjadi pendidikan moral—mengembangkan empati ekologis pada anak. Ini bukan berarti menganggap pohon punya perasaan manusiawi, tetapi belajar mengakui penderitaan yang ditimbulkan tindakan manusia dan memberi pertimbangan moral pada kehidupan nonmanusia.
Perspektif ekologi sosial dari Murray Bookchin menambahkan dimensi penting: krisis ekologis tidak terpisah dari struktur sosial dan relasi kekuasaan yang memungkinkan eksploitasi. Sekolah perlu menghindari penyederhanaan penyebab kebakaran sebagai sekadar kelalaian individu, tetapi melihat akar sistemik di baliknya. Dengan cara ini, pendidikan lingkungan bukan hanya soal pengetahuan, melainkan jalan menuju kesadaran dan tindakan yang bertanggung jawab atas kehidupan bersama.
Sumber: Detik.com
Baca Juga

Pameran Megabuild Indonesia 2027 Jadi Ajang Pertemuan Bisnis Lintas Sektor Industri Bangunan

15 Universitas Terbaik untuk Jurusan Pendidikan Menurut Ranking THE 2026

Menkomdigi Ajak Generasi Muda Jadi Kreator, Bukan Hanya Pengguna Teknologi AI

