Hanya 20 Persen SDM Indonesia Berbasis STEM, Jauh di Bawah Malaysia dan China

Hanya 20 Persen SDM Indonesia Berbasis STEM, Jauh di Bawah Malaysia dan China

Indonesia masih punya pekerjaan rumah besar dalam mencetak tenaga ahli di bidang sains dan teknologi. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mengungkapkan fakta mengejutkan soal kondisi sumber daya manusia (SDM) berbasis STEM — singkatan dari sains, teknologi, rekayasa, dan matematika — di tanah air.

“Proporsi SDM berbasis STEM di Indonesia baru sekitar 20 persen. Angka ini masih tertinggal jika dibandingkan dengan Malaysia yang mencapai 43,5 persen maupun Tiongkok yang berada di angka 41 persen,” kata AHY saat menyampaikan orasi ilmiah di acara Dies Natalis ke-12 Institut Teknologi Kalimantan (ITK), Balikpapan, Kalimantan Timur, Kamis.

AHY menegaskan bahwa kemajuan sebuah negara sangat bergantung pada kualitas manusianya serta seberapa jauh mereka menguasai teknologi dan inovasi. ITK yang diresmikan pada 2014 diharapkan menjadi motor penggerak transformasi, khususnya untuk wilayah Kalimantan yang kini disiapkan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru — mulai dari energi, industri, ekonomi hijau, hingga pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Di forum yang sama, Rektor ITK Prof. Dr. Agus Rubiyanto meminta dukungan pemerintah pusat dan daerah untuk penyediaan lahan kampus serta pembangunan gerbang utama ITK. Bagi pihak kampus, gerbang itu bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol penyambutan bagi calon mahasiswa terbaik dari seluruh Indonesia.

Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud menyatakan siap mendukung, baik soal penyediaan lahan maupun anggaran pembangunan fasilitas kampus. Ia juga berharap jumlah mahasiswa ITK yang kini sekitar 9.000 orang terus bertambah demi memperbanyak tenaga ahli lokal.

Acara Dies Natalis ke-12 ini juga ditandai dengan peresmian simbolis konsorsium ITX, sebuah kolaborasi antara empat institut teknologi negeri: ITK, Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Institut Teknologi Sumatera (Itera). Langkah ini diharapkan memperkuat ekosistem pendidikan teknologi Indonesia secara merata dari Barat hingga Timur.

Sumber: Antara News

Baca Juga

Scroll to Top