8 Contoh Puisi Romantis Tema Pertemuan Penuh Makna

  • Whatsapp
Contoh Puisi Romantis Tema Pertemuan
Ilustrasi Pertemuan Romantis/Pixabay/

LITERA NEWSPuisi menjadi salah satu media untuk mengungkapkan perasaan dan keresahan, apalagi puisi dengan genre romantis, tak terkecuali dengan tema pertemuan dan sudah ada banyak contoh jenis puisi ini yang penuh makna.

Puisi seolah menjadi wujud dari hasil seseorang mengolah emosinya menjadi sebuah tulisan dibumbui rima dan irama pada setiap larik ataupun baitnya.

Bacaan Lainnya

Puisi terbagi menjadi dua, yaitu puisi baru dan puisi lama. Meski secara umum memiliki kesamaan, namun ada beberapa ciri khas yang membedakan puisi baru dan puisi lama.

Puisi lama lebih terikat pada aturan-aturan baku, seperti jumlah jumlah kata dan baris pada satu bait sedangkan puisi baru tidak terikat oleh aturan baku.

Puisi-puisi romantis tema pertemuan ini merupakan beberapa karya dari kontributor terbaik peserta lomba puisi pertemuan yang diselenggarakan oleh komunitas Author Collabs.

Contoh Puisi Romantis Tema Pertemuan

1. Antara Aku dan Mentari, Karya: Putri Agil Lestari

Senja kala itu seolah tak ingin bersembunyi

Menjadi saksi akan kembalinya sosok dua insani

Aku dan mentari yang dulu pernah menyimpan memori

Dipertemukan kembali dengan romansa yang tak seperti dulu lagi

Ditemani desiran angin dan alunan musik klasik

Ku menatap mata sendu yang selama ini selalu mengusik

Melepas dahaga rindu pada sesosok wanita cantik

Mengungkit rasa rumit yang dahulu pernah menanam sakit

Namun kini hal itu hanya sebuah embun pagi

Yang dapat sirna dengan hanya satu jari

Sekarang aku sadar mentari tak lagi membumi

Ia hadir dengan sifat yang tak se elok pelangi di pagi hari

Kurasa pertemuan manis kala itu cukup menyadarkan diri

Membuktikan bahwa mentari elok tak lagi dapat menyinari hati

Perasaanku hanya dapat bungkam sudah hancur lebur

Saat ia berbisik “ cintaku sudah terkubur dan air tak lagi memancur”

Lampung, 2020.

2. Commuterian, Karya: Aliyudain 

Di MRT kita bertemu

Saat peluh memandikan tatap

yang wangi bau-bau tubuh

Tempat duduk penuh, dengan nyawamu nyawaku

nyawa mereka, ah… nyawamu saja

Kamu bahagia saja, meski sore tak memeluk lututmu

yang keropos deadline, meeting dan hujan waktu

Menyebar di antara muara-muara rumah di tubuhmu

Jejak samar alas kakimu membingkai pamit di kawanan udara

Dalam MRT kita yang melaju, di rumah susun hati kita

sungguh menjadikan temaram yang kaudamba

Di langit-langit malam yang ‘kan tiada, bintang menyepi

di pertemuan antara kita yang dingin

Merajam ingatanku, ingatanmu

ah… ingatanmu saja, karena kita sama-sama komuter

Di ruang tubuh MRT mungkin kita bertemu, amat singkat

tanpa petunjuk arah, tanpa lampu merah, kuning dan hijau yang pekat

Masih terasa hangat bekas tumpuan tanganmu, di hatiku yang kelabu

di mimpi-mimpi rumah susun yang kusebut sebuah mimpi memilikimu

Garut, 2020

3. Kisah Artistik Pertemuan, Karya: Habib Maulana

Detak detik menari kegirangan di peron dua puluh dua

Ditemani kepul debu fantasi elok menyapa pertemuan kita

Menggetarkan jiwa terhanyut dalam bilik-bilik asmara

Berusaha menggoda menguak tabir ketidakpastian beraksara

Duduk bersebelahan saling curi-curi pandang terkesima

Berceloteh rosmantis menyunggingkan seberkas senyum

Berusaha menyelami tabiat masing-masing sungguh berbeda

Bergumul hingga pekat senja menyapa mayapada begitu tenteram

Malam pun mulai mungusik perjumpaan singkat berkesan kita

Mendiktekan perpisahan menyayat kalbu ‘tak terima

Kau beranjak pergi sisakan semburat kepiluan sukma

Terpatah-patah lidah mengucapkan sampai jumpa

Di penghujung pertemuan, kucecerkan seberkas asa

Lalu, ku bisikkan permai merdu gelora hendak bersua lagi

Di lokasi, posisi, pun dalam gugusan waktu satu kita bersemuka

Moga Tuhan ‘tak menghalangi jalan pertemuan kita nanti

Lasi Mudo,  2020

4. Menjumpa Fluktuasi Para Indie, Karya: Vania Mogsay

Segenggam anyelir memupus arumi dalam jemariku
Mengeriap kulacino peluh kembang dalam peraduan tanganku, kaku
Kita berjumpa, dalam pengadukan validasi perbincangan baku
Tatkala semburat senja menyilaukan kening kita nan berlekuk liku

Kuhempas tepis kuntum awaknya pada bumi yang mengering
Bekas adu jejak kita yang dibalut warrior bertaring
Hingga gelak tawa kita meraung mencipta romansa garing
Menghantar sekelumit sisa-sisa senja yang rindu berbaring

Kita semua kalap..
Kita semua terlelap..
Dalam gemerlap lampu tumbler menghias dinding Indonesia
Membungkus kita yang memorak-porandakan senja para manusia

Mengapa kita menjumpa temu?
Kala indie menyeduh teduh sambekala nan fana, nan semu?
Menggenang kulacino menumpahkan seni latte mereka
Dan inilah kita, bak buronan menyatu dalam kejaran dialektika
Tanpa etika..
Tanpa estetika..

Surakarta, 2020

5. Pertama Bertemu, Karya: Ayu Irmawati

Hari senin tanggal dua puluh tujuh

Kulihat tubuhmu dibanjiri peluh

Seharian berlari tak membuatmu mengeluh

Walau nyatanya mentari enggan meluluh

Sesaat langkahku terhenti

Bersama sapaan indah yang nyatanya sekadar ilusi

Ah, mengapa hatiku begini?

Benarkah aku sedang jatuh hati?

Kerap kali kubenahi rasa canggung

Berharap rasa malu tak lagi mengepung

Tatapanku tiada terkendali

Hatimu ingin segera kujelajahi

Madura, 11 Agustus 2020

6. Reminisensi di Persimpangan Gelayut Remaja, Karya: Wisnu Permadi

Silam, pada lirik lagu yang kunyanyikan ada dayu yang kulirihkan

Mengecup lima detik pusaran di tengah gelombang hitam; kupejamkan

Mendetak; berdegup; mendekap: melunglaikan

Lautmerahmembelahtanpa Musa yang diseberangkan

Kembali kerumpun, kau menyapaku tanpa ampun

Mensenyumkan gura tcurang yang memaklumkan

Makhdum pun menjadi penista, bila disajikannya kamu dalam papasan

Lekas meliak-liuk desirnya: ingin segera mengirim pesan

Walau begitu, kita sebatas reminisensi di persimpangan gelayut remaja

Yang sudah kuduga – sejak saat itu – kau‘ kan menjadi puja yang bersahaja

Tetap dikesankan sempurna oleh luguku yang membahana

Mengenang masa yuwana; yang padamu, aku amat dewana

Dewasa ini, terlalu matang untuk sekadar kembali bercumbu romantika pucat pasi

Sebab, baik aku ataupun kau, kini t’lah berisikan puisi lintas dimensi:

yang menjuarakan masing-masing ruang langit kita;

yang semestiny abertanggang setia di pintu nirmala jelita

Purwokerto, 2020

7. Sebuah Tatap, Karya: Dinda Angelica

Mata kita kembali bertemu

Walaupun kini tak lagi melebur menjadi satu

Sorot matamu kini mendingin

Tak ada lagi kehangatan di dalamnya

Mungkin karena hatimu kini telah membeku

Matamu tak selembut yang lalu

Kini matamu sangat tajam sehingga dapat membunuh rasaku

Senyuman kembang gulamu telah sirna

Yang tersisa hanyalah raut wajahmu yang masam

Aku tidak lagi mendapatkan sapa

Kini hanya nestapa yang dapat kurasa

Cimahi, 2020.

8. SINGKAT, Karya  : Caesilia Bela Kristina Sanangi

Dalam lintasan aku berlayar

Menembus jauh bekas  bayang-bayang

Baskara menjadi tempatku menerawang

Lalu pelupuk mata mendekap ke padang-padang

Dari jauh…

Kau telah  nampak di antara  ilalang

Pada sebuah titik…

Ketika mega nampak indah walau hanya seracik

Juga derai hujan yang kian memercik

Kau di sana tanpa sekat sebagai matrik

Aku yang bingung menduga dalam pelik

Biarkan aku menjeremba segala yang kutatap

Masuk memenuhi matamu yang seindah bianglala

Biarkan kuterobos segala yang ada

Lalu sukmaku hangus terbakar anala

Dalam dirimu, aku telah mengembara

Demikian…

Tentang kita yang pernah jumpa

Dalam singkat yang bermakna

Sebelum akhirnya…

Segala rasa mulai terasa hampa

Sulawesi Tengah, 2020.

Baca Juga: Kumpulan Puisi Hari Ibu, Cocok Untuk Ungkapan Cinta

Itulah 8 contoh puisi romantis tema tentang pertemuan yang penuh makna untuk dinikmati. Semoga menghibur. ***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *